Review Film Train to Busan (2016): Bukan Sekadar Film Zombie, Tapi Juga Tentang Kemanusiaan

Review Film Train to Busan (2016): Bukan Sekadar Film Zombie, Tapi Juga Tentang Kemanusiaan

 

Train to Busan


Jujur, kalau membicarakan film zombie, mungkin sebagian besar dari kita langsung membayangkan manusia yang terinfeksi virus, kota yang dipenuhi kekacauan, dan sekelompok orang yang harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Hari ini saya berkunjung kerumahnya saudara saya, ternyata rumahnya deket dengan NSC Demak, sekalian saja saya mencoba menonton salah satu film yang ada di sana, pilihan jatuh pada film Train to Busan.

Konsep seperti ini sebenarnya sudah cukup sering digunakan dalam berbagai film. Jadi, menurut saya, tantangan terbesar dari sebuah film zombie bukan cuma bagaimana cara membuat zombienya terlihat menyeramkan, tetapi juga bagaimana membuat ceritanya terasa menarik dan tidak sekadar mengulang formula yang sama.

Film asal Korea Selatan ini menceritakan wabah zombie yang menyebar dengan cepat dan membuat sekelompok penumpang kereta harus berjuang untuk menyelamatkan diri. Premisnya memang terdengar sederhana, tetapi ada satu hal yang membuat film ini cukup berbeda dari film zombie pada umumnya.

Bagaimana jadinya kalau kita sedang berada di dalam kereta yang melaju menuju tujuan, tetapi di saat yang sama, gerbong demi gerbong mulai dipenuhi zombie? Mau turun tidak bisa sembarangan, sementara tetap berada di dalam kereta juga bukan pilihan yang aman.

Menurut saya, ide seperti ini punya potensi besar untuk menciptakan ketegangan. Apalagi, kereta merupakan tempat yang cukup terbatas, dengan banyak penumpang yang tidak saling mengenal dan ruang gerak yang semakin sempit ketika situasi mulai kacau.

Tapi, apakah Train to Busan hanya mengandalkan adegan zombie yang menyerang penumpang, atau justru punya sesuatu yang lebih menarik untuk ditawarkan?

Sinopsis Singkat: Train to Busan

Train to Busan berkisah tentang Seok-woo (Gong Yoo), seorang manajer keuangan yang memutuskan untuk mengantarkan putrinya, Su-an, ke Busan agar bisa bertemu dengan ibunya.

Awalnya, perjalanan menggunakan kereta cepat KTX tersebut terlihat seperti perjalanan biasa.

Situasi pun berubah menjadi kacau ketika wanita tersebut mulai berubah menjadi zombie dan menyerang penumpang lain. Infeksi menyebar dengan cepat, membuat para penumpang harus berjuang menyelamatkan diri di tengah perjalanan yang semakin berbahaya.

Seok-woo dan Su-an bukan satu-satunya orang yang berusaha bertahan hidup. Mereka juga bertemu dengan penumpang lain, termasuk Sang-hwa (Ma Dong-seok), seorang pria tangguh yang berusaha melindungi istrinya yang sedang hamil.

Di tengah perjalanan, mereka harus melewati gerbong-gerbong yang dipenuhi zombie demi menemukan tempat yang lebih aman.

Ketakutan, egoisme, dan keinginan untuk menyelamatkan diri sendiri juga menjadi masalah besar.

Pada akhirnya, perjalanan menuju Busan bukan sekadar perjuangan untuk bertahan hidup dari wabah zombie, tetapi juga menjadi ujian bagi kemanusiaan, pengorbanan, dan hubungan antara orang-orang yang terjebak dalam situasi yang sama.

POV: Kenapa Train to Busan Bisa Menjadi Film Zombie yang Begitu Menarik?

1. Premisnya Sederhana, Tapi Berhasil Membuat Situasi Terasa Mencekam

Kalau melihat premisnya, sebenarnya Train to Busan tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar asing dalam genre zombie. Wabah virus, manusia yang berubah menjadi zombie, dan sekelompok orang yang berusaha bertahan hidup merupakan konsep yang sudah cukup sering digunakan.

Namun, menurut saya, pemilihan kereta cepat sebagai latar utama menjadi salah satu keputusan yang membuat film ini menarik.

Kita tidak bisa begitu saja keluar dari kereta, apalagi ketika situasi di luar juga belum tentu aman. Sementara itu, semakin lama kita berada di dalam gerbong, semakin besar pula kemungkinan untuk bertemu dengan orang yang sudah terinfeksi.

Menurut saya, kondisi seperti ini bisa menciptakan rasa terjebak yang cukup kuat.

Berbeda dengan film zombie yang berlatar di kota terbuka, karakter dalam Train to Busan harus memikirkan cara untuk melewati ruang yang terbatas. Mereka juga tidak bisa terus-menerus berlari karena pada akhirnya harus menghadapi zombie yang menghalangi jalan.

Buat saya, inilah salah satu kekuatan terbesar dari premis Train to Busan. Film ini tidak harus terus-menerus menghadirkan lokasi baru untuk menciptakan ketegangan, karena tempat yang sama saja sudah bisa menjadi ancaman ketika situasinya berubah.

2. Bukan Cuma Tentang Zombie, Tapi Juga Tentang Sifat Manusia

Kalau dipikir-pikir, dalam situasi yang mengancam nyawa, manusia pasti akan berusaha mencari cara untuk menyelamatkan diri. Namun, masalahnya adalah tidak semua orang memiliki cara berpikir yang sama ketika dihadapkan dengan keadaan seperti itu.

Menurut saya, konflik seperti ini menarik karena membuat ancaman dalam film terasa lebih luas daripada sekadar serangan zombie.

Situasi seperti itu membuat kita bisa mempertanyakan siapa sebenarnya yang lebih berbahaya dalam keadaan darurat.

Film ini juga memperlihatkan bagaimana rasa takut dapat memengaruhi keputusan seseorang. Ketika keselamatan diri menjadi prioritas utama, sebagian orang bisa kehilangan rasa empati dan mengabaikan keadaan orang lain.

3. Hubungan Ayah dan Anak Menjadi Salah Satu Kekuatan Ceritanya

Kalau membicarakan Train to Busan, rasanya kurang lengkap kalau tidak membahas hubungan antara Seok-woo dan Su-an.

 Hubungannya dengan sang anak juga tidak bisa dibilang ideal, terutama ketika kita melihat bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-harinya.

Namun, situasi wabah zombie membuat keadaan berubah.

Ketika keselamatan putrinya mulai terancam, Seok-woo harus menghadapi situasi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan logika atau kepentingannya sendiri.

Menurut saya, kondisi seperti ini memberikan ruang bagi perkembangan karakter yang menarik. Seok-woo bukan hanya harus memikirkan bagaimana cara bertahan hidup, tetapi juga bagaimana memastikan putrinya tetap aman di tengah kekacauan.

Di sinilah hubungan ayah dan anak menjadi bagian penting dari cerita.

Film ini menunjukkan bahwa dalam situasi yang penuh ancaman, sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa justru bisa menjadi hal yang paling berharga.

Saya juga melihat bahwa perjuangan Seok-woo tidak hanya berkaitan dengan keselamatan fisik. Ada perubahan dalam cara ia memandang tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.

Hal seperti ini membuat konflik dalam Train to Busan terasa lebih personal. Penonton tidak hanya melihat seseorang yang berusaha bertahan hidup dari serangan zombie, tetapi juga seorang ayah yang harus menghadapi kenyataan bahwa keselamatan anaknya bergantung pada keputusan yang ia ambil.

Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa film ini bisa memberikan dampak emosional yang lebih kuat dibandingkan film zombie yang hanya mengandalkan adegan aksi.

4. Karakter Pendukungnya Juga Punya Peran Penting

Selain Seok-woo dan Su-an, ada juga karakter Sang-hwa yang diperankan oleh Ma Dong-seok.

Sang-hwa merupakan sosok yang berusaha melindungi istrinya yang sedang hamil. Kehadirannya memberikan warna tersendiri di tengah situasi yang semakin kacau.

Menurut saya, karakter seperti Sang-hwa cukup penting dalam film bertema bertahan hidup. Sebab, ketika semua orang berada dalam situasi berbahaya, kita membutuhkan karakter yang tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Keberaniannya juga menjadi kontras dengan karakter-karakter yang lebih mementingkan kepentingan pribadi.

Di sisi lain, keberadaan istrinya yang sedang hamil membuat perjuangan mereka terasa memiliki taruhan yang lebih besar. Mereka bukan hanya berusaha menyelamatkan diri, tetapi juga memikirkan keselamatan keluarga yang sedang mereka bangun.

Namun, menurut saya, karakter pendukung dalam film seperti ini memang memiliki risiko tersendiri. Ketika cerita ingin membuat penonton merasa sedih atau tegang, beberapa karakter bisa saja ditempatkan dalam situasi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi.

Bagi sebagian penonton, pendekatan seperti ini mungkin terasa klise. Akan tetapi, selama konflik yang dibangun masih terasa masuk akal dan memiliki dampak terhadap cerita, keberadaan karakter pendukung tetap bisa memperkuat pengalaman menonton.

5. Ketegangannya Tidak Hanya Berasal dari Jumpscare

Salah satu hal yang membuat film zombie menarik adalah bagaimana film tersebut membangun rasa takut.

Namun, menurut saya, rasa takut tidak selalu harus datang dari kemunculan zombie secara tiba-tiba. Terkadang, situasi ketika karakter harus melewati tempat yang berbahaya tanpa mengetahui apa yang menunggu di depan justru bisa terasa lebih menegangkan.

Hal seperti ini menjadi salah satu potensi terbesar dari latar kereta dalam Train to Busan.

Setiap gerbong bisa menghadirkan ancaman yang berbeda. Karakter harus mempertimbangkan kapan mereka bisa bergerak, kapan harus bersembunyi, dan bagaimana cara melewati zombie tanpa membuat situasi semakin buruk.

Selain itu, ruang yang terbatas juga membuat pilihan mereka terasa lebih sulit. Mereka tidak memiliki banyak tempat untuk melarikan diri, sementara kesalahan kecil bisa membuat keadaan berubah menjadi lebih berbahaya.

Menurut saya, penyutradaraan Yeon Sang-ho berhasil memanfaatkan konsep tersebut untuk membangun ketegangan sekaligus memberi ruang bagi konflik antarkarakter.

Film ini juga tidak hanya mengandalkan aksi terus-menerus. Momen yang lebih tenang dapat memberikan kesempatan bagi penonton untuk memahami situasi dan hubungan antartokohnya sebelum konflik kembali meningkat.

Buat saya, perpaduan antara aksi, ketegangan, dan drama seperti ini membuat film zombie terasa lebih lengkap.

6. Apakah Film Ini Benar-Benar Tanpa Kekurangan?

Meskipun Train to Busan mendapat banyak pujian, menurut saya bukan berarti film ini tidak memiliki kekurangan.

Salah satu hal yang mungkin terasa cukup familiar adalah pola ceritanya. Dalam film bencana atau survival, biasanya akan ada karakter yang berusaha menyelamatkan kelompoknya, karakter yang mengutamakan keselamatan diri sendiri, dan berbagai pengorbanan yang terjadi sepanjang perjalanan.

Bagi penonton yang sudah sering menonton film dengan formula seperti ini, beberapa bagian ceritanya mungkin tidak terasa terlalu mengejutkan.

Selain itu, ada juga karakter yang tindakannya digambarkan sangat egois sehingga terkesan terlalu berlebihan. Memang, keputusan seperti itu bisa digunakan untuk memperlihatkan sisi buruk manusia ketika menghadapi krisis, tetapi bagi sebagian penonton, penggambarannya mungkin terasa kurang alami.

Perpindahan antara adegan aksi yang intens dan momen emosional juga bisa terasa cukup kontras bagi orang yang lebih menyukai film zombie dengan tempo cepat dari awal sampai akhir.

Namun, menurut saya, kekurangan seperti ini perlu dilihat bersama dengan keseluruhan cerita yang ingin disampaikan.

Sebuah film tidak harus selalu menawarkan alur yang benar-benar baru untuk bisa menarik. Terkadang, hal yang lebih penting adalah bagaimana cerita tersebut menggunakan elemen yang sudah dikenal untuk membangun pengalaman menonton yang tetap berkesan.

Dan dalam kasus Train to Busan, perpaduan antara ancaman zombie, hubungan keluarga, serta konflik antarmanusia menjadi bagian penting dari daya tariknya.

Kelebihan dan Kekurangan dari Film Train to Busan

Kelebihan:

  • Premis wabah zombie di dalam kereta cepat berhasil menciptakan situasi yang terasa sempit, berbahaya, dan menegangkan.
  • Hubungan antara Seok-woo dan Su-an memberikan sisi emosional yang memperkuat cerita.
  • Karakter seperti Sang-hwa menambah dinamika dan memperlihatkan keberanian untuk melindungi orang lain.
  • Film tidak hanya mengandalkan zombie, tetapi juga menghadirkan konflik tentang egoisme, solidaritas, dan kemanusiaan.
  • Adegan aksi dan efek zombie mendukung suasana mencekam sepanjang perjalanan.
  • Perpaduan horor, thriller, dan drama keluarga membuat film ini memiliki daya tarik yang lebih luas.

Kekurangan:

  • Beberapa bagian cerita masih mengikuti formula film bencana dan survival yang cukup familiar.
  • Karakter tertentu digambarkan terlalu egois sehingga terkesan satu dimensi.
  • Beberapa momen emosional mungkin terasa sengaja diarahkan untuk memancing kesedihan penonton.
  • Perubahan tempo antara adegan aksi dan drama bisa terasa kontras bagi penonton yang lebih menyukai ketegangan tanpa banyak jeda.

Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah Train to Busan layak ditonton atau justru tidak perlu masuk ke daftar tontonan kalian?

Menurut saya, film ini layak mendapatkan perhatian, terutama buat kalian yang menyukai film zombie dengan cerita yang tidak hanya berfokus pada aksi dan kekerasan.

Salah satu hal yang membuat Train to Busan menarik adalah bagaimana film ini memanfaatkan situasi wabah untuk memperlihatkan berbagai sisi manusia. Ada yang rela mengambil risiko demi melindungi orang lain, ada yang berusaha bertahan hidup bersama keluarganya, dan ada juga yang justru mengutamakan keselamatan diri sendiri tanpa memikirkan akibatnya bagi orang lain.

Selain itu, hubungan antara Seok-woo dan Su-an memberikan lapisan emosional yang membuat perjuangan mereka terasa lebih personal.

Menurut saya, hal seperti ini penting dalam film bertema survival. Sebab, penonton tidak hanya membutuhkan ancaman yang bisa membuat mereka tegang, tetapi juga alasan untuk peduli terhadap karakter yang sedang menghadapi ancaman tersebut.

Memang, beberapa elemen ceritanya masih mengikuti formula yang cukup umum dalam film bencana. Namun, hal itu tidak serta-merta menghilangkan daya tarik film ini.

Train to Busan tetap memiliki kombinasi yang menarik antara ketegangan, aksi, konflik sosial, dan drama keluarga. Film ini juga memperlihatkan bahwa di tengah situasi yang mengancam nyawa, ancaman terbesar tidak selalu datang dari makhluk yang sudah kehilangan kemanusiaannya.

Terkadang, justru keputusan manusia yang masih hiduplah yang membuat keadaan semakin buruk.

Jadi, kalau kalian sedang mencari film zombie yang bukan cuma menawarkan adegan kejar-kejaran dan manusia yang berusaha menyelamatkan diri, menurut saya Train to Busan bisa menjadi pilihan yang tepat.

Film ini bukan sekadar tentang perjalanan menuju Busan, tetapi juga tentang pengorbanan, tanggung jawab, dan bagaimana seseorang memilih untuk bertindak ketika keselamatan orang lain ikut dipertaruhkan.

Buat saya, konsep seperti inilah yang membuat sebuah film zombie bisa terasa lebih dari sekadar tontonan horor. Di IMDb, film ini tercatat memiliki reting 7.6/10.

Kesimpulannya, Train to Busan layak ditonton. Bukan hanya karena zombienya yang mengancam atau adegan aksinya yang menegangkan, tetapi juga karena cerita kemanusiaan yang menjadi bagian penting dari perjalanan para karakternya.

Review Film Sekawan Limo: Horor-Komedi Kental Jawa Timuran yang Terasa Jujur

Review Film Sekawan Limo: Horor-Komedi Kental Jawa Timuran yang Terasa Jujur

Sekawan Limo


Film horror komedi Indonesia belakangan ini memang semakin banyak bermunculan di layar lebar, mulai dari film yang mengandalkan jokes tongkrongan sampai film yang mencoba menggabungkan unsur budaya lokal dengan cerita horror. Salah satu film yang cukup menarik perhatian adalah Sekawan Limo yang tayang pada tahun 2024 dan disutradarai sekaligus dibintangi oleh Bayu Skak.

Sebagai penikmat film horror komedi, saya tentu saja cukup penasaran dengan film ini. Apalagi Sekawan Limo membawa tema yang cukup dekat dengan masyarakat Indonesia yaitu pendakian gunung yang kemudian dikombinasikan dengan mitos dan teror makhluk gaib. Tema pendakian dan kejadian mistis seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang benar-benar baru, tetapi bagaimana film ini menggabungkannya dengan komedi khas Jawa Timuran menjadi hal yang cukup menarik untuk dilihat.

pada penayangan di hari ke 6 saya coba datang ke bioskop di NSC Demak untuk menonton film Harusnya Horror, lalu pertanyaannya, apakah Sekawan Limo memang sebagus dan selucu itu atau malah hanya mengandalkan komedi khas Bayu Skak saja? Berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.


Sinopsis Singkat: Sekawan Limo

Film Sekawan Limo mengisahkan perjalanan lima orang sahabat yaitu Bagas yang diperankan oleh Bayu Skak, Lenni diperankan oleh Nadya Arina, Dicky diperankan oleh Firza Valaza, Juna diperankan oleh Benidictus Siregar, dan Andrew diperankan oleh Indra Pramujito yang melakukan pendakian ke Gunung Madyopuro.

Namun sejak awal mereka sudah melakukan sebuah kesalahan karena tidak mematuhi aturan yang ada. Dalam cerita film ini terdapat mitos bahwa rombongan pendaki harus berjumlah genap dan para pendaki juga tidak diperbolehkan untuk menoleh ke belakang.

Karena aturan tersebut dilanggar, berbagai kejadian aneh mulai terjadi sepanjang perjalanan mereka. Kelima orang ini kemudian mulai mendapatkan teror dari sesuatu yang tidak terlihat sampai akhirnya mereka menyadari bahwa ada satu hal yang sangat aneh di antara mereka.

Salah satu dari kelima orang tersebut ternyata bukan manusia.


POV: Opini Jujur dan Hal-Hal yang Menarik Dari Film Ini

Komedi Yang Terasa Natural

Menurut saya pribadi salah satu kekuatan terbesar dari film Sekawan Limo ada pada bagian komedinya. Dari awal sampai pertengahan film, komedi yang diberikan menurut saya terasa cukup natural dan tidak terlalu memaksakan jokes agar penonton tertawa.

Gaya komedi yang dibawa juga cukup kental dengan karakter Jawa Timuran. Beberapa jokes terasa seperti obrolan ketika sedang nongkrong bersama teman, sehingga tidak terlalu terasa seperti sebuah dialog yang memang sengaja dibuat untuk menjadi lucu.

Hal seperti ini menurut saya cukup penting untuk film horror komedi karena terkadang ada film yang terlalu berusaha terlihat lucu sampai akhirnya jokes yang diberikan malah terasa seperti "sok asik".

Di Sekawan Limo saya merasa komedinya lebih organik karena muncul dari interaksi antar karakter dan situasi yang sedang mereka alami.

Tapi tentu saja tidak semua jokes akan cocok untuk semua orang. Selera humor setiap orang berbeda dan beberapa jokes yang menurut saya lucu mungkin saja bagi orang lain terasa biasa saja.

Detail Pendakian Yang Cukup Matang

Hal lain yang menurut saya cukup menarik adalah bagaimana film ini memberikan detail mengenai kegiatan pendakian.

Menurut saya film ini tidak hanya menggunakan gunung sebagai tempat untuk meletakkan cerita horror saja, tetapi juga cukup memperhatikan berbagai detail yang berhubungan dengan kegiatan mendaki.

Mulai dari aturan pendakian, api unggun, sampai bagaimana para karakter menghadapi perjalanan mereka terasa cukup diperhatikan.

Saya pribadi cukup suka ketika sebuah film melakukan riset terhadap dunia yang sedang mereka gunakan sebagai latar cerita. Karena kalau detail kecil seperti ini dibuat asal-asalan, penonton yang memang memahami dunia pendakian bisa langsung merasa bahwa film tersebut tidak melakukan riset dengan baik.

Di Sekawan Limo sendiri menurut saya detail pendakiannya cukup membantu membuat cerita terasa lebih hidup.

Chemistry Antar Karakter

Untuk chemistry antar pemain menurut saya juga menjadi salah satu bagian yang menarik.

Kelima karakter tidak langsung dibuat menjadi sahabat yang sangat dekat sejak awal cerita. Hubungan mereka berkembang melalui konflik dan berbagai kejadian yang mereka alami selama pendakian.

Menurut saya cara seperti ini justru membuat dinamika kelompok mereka terasa lebih natural.

Ada konflik, ada saling curiga, ada bercanda dan ada juga situasi dimana mereka harus bekerja sama untuk menghadapi masalah yang terjadi.

Hal ini membuat saya merasa bahwa pengembangan karakter dalam film ini cukup berhasil dan tidak terlalu dipaksakan.

Eksekusi Flashback

Namun bukan berarti film ini tidak memiliki kekurangan.

Salah satu bagian yang menurut saya cukup mengganggu adalah penggunaan flashback untuk menjelaskan latar belakang beberapa karakter.

Menurut saya sebenarnya konsep flashback tersebut tidak buruk, karena penonton memang membutuhkan informasi mengenai latar belakang karakter. Tetapi masalahnya ada pada bagaimana bagian tersebut dimasukkan ke dalam alur cerita.

Di beberapa bagian saya merasa flashback tersebut seperti dipaksakan masuk ketika cerita sedang berjalan sehingga sedikit mengganggu ritme film.

Padahal menurut saya bagian awal sampai pertengahan film sudah cukup menarik tanpa harus terlalu banyak menjelaskan sesuatu melalui flashback.

Bagian Ending Yang Kurang Maksimal

Kekurangan berikutnya menurut saya ada di bagian akhir film.

Kalau dibandingkan dengan bagian awal dan pertengahan yang cukup menarik, ketika memasuki bagian akhir saya merasa kualitas filmnya sedikit mengalami penurunan.

Bukan berarti ending-nya benar-benar buruk, tetapi menurut saya eksekusinya masih kurang maksimal dibandingkan dengan bagaimana film ini membangun cerita sebelumnya.

Saya pribadi berharap bagian akhirnya bisa memberikan sesuatu yang lebih kuat setelah sebelumnya penonton dibawa mengikuti berbagai kejadian selama pendakian.


Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Sekawan Limo

Kelebihan:

Komedi yang natural. Menurut saya komedi dalam film ini terasa lebih organik dan tidak terlalu memaksakan jokes. Banyak humor yang muncul dari interaksi antar karakter dan situasi yang mereka alami.

Detail teknis pendakian cukup matang. Film ini cukup memperhatikan berbagai detail mengenai kegiatan mendaki gunung sehingga latar pendakiannya terasa lebih meyakinkan.

Pengembangan karakter cukup bagus. Chemistry antar karakter berkembang melalui konflik dan perjalanan mereka sehingga tidak terasa seperti dipaksakan harus langsung akrab sejak awal.

Identitas Jawa Timuran cukup kuat. Gaya bahasa dan komedi yang digunakan memberikan identitas tersendiri bagi film ini.

Kekurangan:

Eksekusi flashback kurang mulus. Menurut saya penggunaan flashback untuk menjelaskan latar belakang karakter terkadang terasa dipaksakan dan sedikit mengganggu alur cerita.

Ending kurang maksimal. Bagian akhir menurut saya tidak sekuat bagian awal dan pertengahan film sehingga meninggalkan sedikit rasa kurang puas.

Tidak semua jokes cocok untuk semua penonton. Walaupun saya merasa komedinya natural, tetap saja ada beberapa humor yang mungkin hanya akan terasa lucu bagi penonton yang memang cocok dengan gaya komedi Jawa Timuran.

Kesimpulan: Layak Ditonton Atau Lewati Saja

Secara keseluruhan film Sekawan Limo menurut saya merupakan film horror komedi yang cukup menarik untuk ditonton.

Film ini memang tidak sempurna dan masih memiliki beberapa kekurangan terutama pada bagian flashback dan ending yang menurut saya kurang maksimal. Tetapi ketika berbicara mengenai komedi, chemistry antar karakter dan detail mengenai dunia pendakian, film ini menurut saya cukup berhasil memberikan sesuatu yang menarik.

Saya juga cukup suka dengan bagaimana Bayu Skak membawa identitas Jawa Timuran ke dalam film ini. Komedinya tidak terlalu terasa dibuat-buat dan lebih seperti percakapan antar teman ketika sedang melakukan perjalanan bersama.

Kalau kalian menyukai film horror komedi dengan komedi khas Jawa Timuran dan cerita mengenai pendakian gunung, menurut saya Sekawan Limo cukup layak untuk kalian tonton.

Film ini mungkin bukan film horror yang akan membuat kalian ketakutan sepanjang film, tetapi perpaduan antara horror, komedi, persahabatan dan suasana pendakian membuat Sekawan Limo mempunyai daya tariknya sendiri.

Untuk rating pribadi dari saya, Sekawan Limo saya berikan 7,5/10.
Review Film Agak Laen: Dari Siniar Jadi Film Komedi Indonesia Terlaris Sepanjang Masa

Review Film Agak Laen: Dari Siniar Jadi Film Komedi Indonesia Terlaris Sepanjang Masa

Agak Laen


Biasanya saya lebih sering menonton film di NSC Demak, tetapi kali ini pengalaman menontonnya terasa sedikit berbeda karena saya sedang menikmati waktu liburan di Semarang. Selain jalan-jalan, tentunya saya juga ingin mencari hiburan lain, dan salah satu pilihan yang saya ambil adalah pergi ke bioskop. Kebetulan, film yang saya pilih kali ini adalah Agak Laen, yang saya tonton di XXI DP Mall Semarang.

Jika dibandingkan dengan suasana di NSC Demak, XXI DP Mall Semarang terasa jauh lebih ramai. Hal itu semakin terasa ketika saya masuk ke dalam studio. Terlihat cukup banyak anak remaja yang datang bersama temannya atau keluarganya untuk menyaksikan film Agak Laen. Kalau bicara soal komedi Indonesia, sebenarnya ada cukup banyak film yang bisa membuat saya tertawa.

Tapi belakangan ini ada satu film yang menurut saya cukup menarik perhatian.

Bukan hanya karena filmnya lucu.

Tetapi karena film ini berasal dari sesuatu yang awalnya mungkin tidak semua orang menyangka bisa berkembang sejauh ini.

Film tersebut adalah Agak Laen.

Saya sendiri sudah cukup sering mendengar nama Agak Laen sebelum filmnya keluar.

Awalnya memang lebih dikenal sebagai podcast atau siniar komedi yang dibawakan oleh empat orang yaitu Boris, Indra, Bene dan Oki.

Dan ketika kemudian mereka membuat film sendiri, saya cukup penasaran.

Karena menurut saya membuat orang tertawa lewat podcast dengan membuat orang tertawa lewat film adalah dua hal yang berbeda.

Di podcast mereka bisa mengandalkan obrolan, spontanitas dan chemistry.

Tapi di film mereka harus memiliki cerita yang jelas.

Harus ada konflik.

Harus ada perkembangan karakter.

Dan yang paling penting...

komedinya tetap harus bisa bekerja.

Nah, ketika akhirnya saya menonton Agak Laen, saya justru cukup terkejut.

Karena film ini ternyata bukan sekadar film yang memasukkan empat orang komedian lalu membiarkan mereka bercanda selama dua jam.

Ada cerita.

Ada konflik.

Ada drama.

Dan tentu saja...

ada banyak hal gila yang membuat saya beberapa kali tertawa.

Pertanyaannya, apakah Agak Laen benar-benar sebagus itu?

Sinopsis Singkat: Agak Laen

Cerita bermula dari empat orang sahabat yaitu Boris, Indra, Bene dan Oki yang bekerja mengelola sebuah rumah hantu di pasar malam.

Masalahnya, rumah hantu tersebut tidak terlalu ramai.

Pengunjungnya sedikit dan usaha mereka hampir saja bangkrut.

Sampai akhirnya terjadi sebuah kejadian yang benar-benar tidak mereka rencanakan.

Seorang caleg meninggal dunia di dalam rumah hantu tersebut.

Karena panik dan takut dengan apa yang akan terjadi, keempat sahabat tersebut akhirnya memutuskan untuk menyembunyikan jenazah sang caleg di dalam area rumah hantu.

Dan di sinilah semuanya mulai menjadi semakin kacau.

Karena ternyata setelah kejadian tersebut, rumah hantu mereka justru menjadi semakin ramai.

Orang-orang mulai penasaran.

Rumah hantu mereka menjadi viral.

Dan tanpa mereka sadari, kematian sang caleg justru membuat bisnis mereka semakin sukses.

Masalahnya...

mereka sekarang harus menjalankan bisnis yang semakin ramai sambil menyembunyikan rahasia yang sebenarnya bisa menghancurkan mereka kapan saja.

Dan dari sinilah kekacauan Agak Laen benar-benar dimulai.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Awalnya Saya Mengira Film Ini Hanya Akan Mengandalkan Komedi

Ini mungkin salah satu kekhawatiran saya sebelum menonton.

Karena Agak Laen memang sudah dikenal sebagai kelompok komedi.

Jadi saya sempat berpikir film ini akan menjadi film yang isinya hanya orang-orang bercanda dari awal sampai akhir.

Tidak ada cerita yang terlalu serius.

Tidak ada konflik yang benar-benar penting.

Pokoknya...

yang penting lucu.

Tapi ternyata saya cukup salah.

Justru menurut saya salah satu kekuatan terbesar film ini ada di bagian ceritanya.

Komedi memang menjadi bagian utama.

Tapi komedi tersebut tidak terasa seperti ditempelkan begitu saja ke dalam cerita.

Ada konflik yang terus berkembang.

Ada masalah yang semakin besar.

Dan semakin lama masalah yang mereka hadapi justru semakin rumit.

Awalnya hanya ingin membuat rumah hantu mereka ramai.

Kemudian ada orang meninggal.

Jenazah disembunyikan.

Rumah hantu menjadi viral.

Dan dari situ masalah baru terus muncul.

Menurut saya alurnya cukup menarik karena setiap keputusan yang mereka ambil justru membuat masalah berikutnya menjadi semakin besar.

Jadi bukan tipe film yang setelah satu masalah selesai kemudian semuanya kembali normal.

Justru semakin mereka mencoba memperbaiki keadaan...

semuanya semakin kacau.

Komedinya Menurut Saya Memang “Agak Laen”

Nah, kalau bagian ini tentu saja tidak bisa saya lewatkan.

Nama filmnya saja Agak Laen.

Dan menurut saya komedinya memang...

agak laen.

Ada banyak jenis komedi yang digunakan di film ini.

Mulai dari situasi absurd, satir, inside jokes sampai interaksi antar karakter yang menurut saya terasa cukup natural.

Dan yang saya suka adalah komedinya tidak selalu muncul karena ada karakter yang sengaja mengatakan sesuatu yang lucu.

Kadang justru situasinya yang membuat lucu.

Karakter berada dalam kondisi serius.

Tapi keputusan yang mereka ambil justru semakin membuat situasinya kacau.

Dan di situlah saya beberapa kali tertawa.

Menurut saya ini jauh lebih menarik dibandingkan kalau setiap beberapa menit film harus memasukkan punchline hanya supaya penonton tertawa.

Karena humor yang muncul dari situasi terasa lebih menyatu dengan cerita.

Saya Suka Chemistry Keempat Pemeran Utamanya

Menurut saya salah satu alasan kenapa film ini bisa bekerja adalah chemistry antara Boris, Indra, Bene dan Oki.

Keempat karakter tersebut terasa seperti benar-benar sudah lama berteman.

Mereka punya karakter masing-masing.

Ada yang lebih panik.

Ada yang lebih nekat.

Ada yang mencoba berpikir.

Dan ada juga yang kadang justru membuat masalah menjadi semakin besar.

Interaksi seperti ini membuat film terasa hidup.

Bukan seperti empat orang yang kebetulan berada di dalam satu film.

Tapi benar-benar seperti empat orang sahabat yang sudah terbiasa menghadapi masalah bersama.

Dan menurut saya hal seperti ini memang penting dalam film yang menggunakan kelompok karakter utama.

Karena kalau chemistry-nya tidak terasa, komedinya juga kemungkinan akan terasa dipaksakan.

Tapi di Agak Laen saya justru cukup menikmati interaksi mereka.

Oki Rengga Menurut Saya Cukup Mengejutkan

Dari keempat pemeran utama, salah satu yang menurut saya cukup menarik perhatian adalah Oki Rengga.

Bukan berarti pemeran lainnya tidak bagus.

Menurut saya semuanya punya peran masing-masing.

Tapi Oki menurut saya berhasil menunjukkan bahwa dia tidak hanya bisa menjadi sumber komedi.

Ada beberapa bagian ketika film mulai masuk ke sisi yang lebih emosional.

Dan di situ saya merasa akting Oki cukup kuat.

Perubahannya dari adegan yang lucu ke adegan yang lebih serius menurut saya terasa cukup natural.

Ini juga menjadi salah satu hal yang membuat film tidak terasa hanya sebagai film komedi.

Karena ketika ceritanya mulai membawa karakter ke kondisi yang lebih emosional, kita sebagai penonton masih bisa mengikuti perasaan karakter tersebut.

Jadi kita tidak hanya tertawa.

Ada beberapa momen yang membuat saya juga merasa kasihan dan ikut merasakan masalah yang mereka hadapi.

Film Ini Punya Konflik Yang Lebih Kompleks Dari Yang Saya Bayangkan

Awalnya saya pikir konfliknya sederhana.

Empat orang mengelola rumah hantu.

Ada orang meninggal.

Mereka menyembunyikan jenazah.

Selesai.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Masalah yang muncul terus berkembang.

Dan yang menurut saya menarik adalah film tidak hanya memberikan satu konflik utama.

Ada juga konflik personal dari masing-masing karakter.

Jadi semakin film berjalan, kita tidak hanya dibuat penasaran bagaimana mereka akan menyelesaikan masalah jenazah tersebut.

Tetapi juga bagaimana masing-masing karakter menghadapi masalah mereka sendiri.

Menurut saya ini yang membuat durasi film terasa cukup panjang.

Film ini memiliki durasi sekitar dua jam.

Dan memang ada beberapa bagian yang sempat membuat saya merasa,

“Ini masih panjang juga ya?”

Tapi setelah melihat bagaimana konflik masing-masing karakter berkembang, saya bisa memahami kenapa film membutuhkan durasi tersebut.

Karena kalau dipotong terlalu banyak, mungkin perkembangan karakternya justru tidak akan terasa.

Setting Pasar Malam dan Rumah Hantunya Menurut Saya Menarik

Saya juga cukup suka dengan setting yang digunakan dalam film ini.

Pasar malam.

Rumah hantu.

Lampu-lampu.

Suasana tempat hiburan yang ramai.

Menurut saya setting seperti ini memberikan identitas tersendiri untuk film.

Apalagi sebagian besar cerita memang berhubungan dengan rumah hantu tersebut.

Jadi tempatnya bukan hanya menjadi latar belakang.

Rumah hantu tersebut justru menjadi bagian penting dari cerita.

Dan menurut saya ini membuat film terasa lebih unik.

Karena kalau dipikir-pikir, konsepnya memang cukup sederhana.

Empat orang mengelola rumah hantu yang sepi.

Tapi kemudian tempat tersebut berubah menjadi ramai karena sesuatu yang seharusnya menjadi masalah.

Dari situ film kemudian membangun banyak sekali kekacauan.

Saya Suka Karena Semua Konfliknya Tidak Dibiarkan Begitu Saja

Salah satu hal yang menurut saya cukup penting dalam film komedi adalah bagaimana film tersebut menyelesaikan ceritanya.

Karena kadang ada film komedi yang memang lucu sepanjang jalan.

Tapi ketika sampai akhir...

bingung mau ditutup bagaimana.

Agak Laen menurut saya cukup berhasil menghindari masalah tersebut.

Konflik utama tetap memiliki penyelesaian.

Konflik personal masing-masing karakter juga mendapatkan perhatian.

Jadi ketika film selesai, saya tidak merasa seperti masih ada banyak hal yang sengaja dibiarkan menggantung hanya demi membuat film terlihat kompleks.

Menurut saya penyelesaian seperti ini membuat pengalaman menonton terasa lebih lengkap.

Kita sudah tertawa.

Sudah melihat kekacauan mereka.

Sudah melihat konflik berkembang.

Dan akhirnya kita juga mendapatkan penutup dari semua masalah tersebut.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Agak Laen

Kelebihan

1. Naskahnya Menurut Saya Cukup Matang

Ini mungkin menjadi salah satu kelebihan terbesar film.

Komedi dan cerita terasa menyatu.

Bukan sekadar memasukkan adegan lucu di tengah cerita.

Justru banyak adegan lucu muncul karena situasi yang sedang mereka hadapi.

Dan menurut saya ini membuat komedinya terasa lebih natural.

2. Chemistry Keempat Pemeran Utama Sangat Terasa

Boris, Indra, Bene dan Oki menurut saya memiliki chemistry yang bagus.

Mereka terasa seperti benar-benar sudah lama berteman.

Interaksi antar karakter juga menjadi salah satu sumber komedi terbesar dalam film.

3. Komedinya Beragam

Film ini tidak hanya mengandalkan satu jenis humor.

Ada situasi absurd.

Ada satir.

Ada inside jokes.

Dan ada juga komedi yang muncul dari tingkah laku karakter.

Jadi sepanjang film saya tidak merasa jenis humornya terlalu monoton.

4. Aktingnya Tidak Hanya Mengandalkan Komedi

Ini yang cukup saya suka.

Ketika film masuk ke bagian yang lebih serius, para pemain tetap bisa membawa emosinya.

Terutama Oki Rengga yang menurut saya cukup berhasil ketika harus berpindah dari adegan komedi ke adegan yang lebih emosional.

5. Setting Pasar Malamnya Menarik

Pasar malam dan rumah hantu memberikan suasana yang cukup unik.

Apalagi hampir seluruh kekacauan utama berhubungan dengan tempat tersebut.

Jadi setting-nya terasa memiliki fungsi dalam cerita.

6. Konfliknya Tuntas

Menurut saya ini penting.

Film berhasil memberikan penyelesaian untuk konflik utama maupun konflik personal para karakter.

Jadi setelah selesai menonton, saya merasa ceritanya memang sudah selesai.

Kekurangan

1. Durasi Sempat Terasa Panjang

Kalau saya harus mencari kekurangan, mungkin ini salah satunya.

Durasi sekitar dua jam memang sempat terasa cukup panjang.

Ada beberapa bagian dimana saya mulai berpikir,

“Ini masih belum selesai?”

Tapi seperti yang saya bilang sebelumnya, setelah melihat keseluruhan cerita, saya bisa memahami kenapa durasinya cukup panjang.

Karena ada empat karakter utama yang harus mendapatkan perkembangan cerita masing-masing.

Jadi menurut saya ini lebih kepada masalah tempo daripada masalah cerita.

Kesimpulan: Apakah Agak Laen Layak Ditonton?

Setelah selesai menonton Agak Laen, menurut saya film ini memang lebih dari sekadar film komedi yang dibuat oleh empat orang komedian.

Awalnya saya cukup penasaran apakah chemistry yang selama ini mereka miliki di siniar bisa diterjemahkan ke dalam film.

Dan ternyata...

bisa.

Bahkan menurut saya salah satu kekuatan terbesar film ini memang ada di chemistry keempat pemeran utamanya.

Tapi bukan hanya itu.

Cerita film ini juga ternyata cukup matang.

Komedi tidak terasa seperti tempelan.

Konfliknya berkembang.

Karakter-karakternya memiliki masalah masing-masing.

Dan semuanya kemudian disatukan dalam satu cerita yang cukup kacau.

Saya juga suka bagaimana film ini bisa membuat saya tertawa tetapi di beberapa bagian juga memberikan momen yang cukup emosional.

Jadi film ini tidak hanya bermain di satu sisi.

Ada komedi.

Ada drama.

Ada konflik.

Dan semuanya tetap terasa berada di dalam satu cerita.

Kalau ditanya apakah Agak Laen merupakan film komedi Indonesia yang menarik untuk ditonton?

Menurut saya iya.

Terutama kalau kalian memang suka komedi yang tidak terlalu serius tetapi tetap memiliki cerita yang jelas.

Buat saya pribadi, salah satu hal paling menarik dari film ini justru adalah bagaimana sesuatu yang awalnya terlihat sederhana bisa berkembang menjadi masalah yang sangat besar.

Empat orang.

Satu rumah hantu.

Satu jenazah.

Dan kemudian semuanya menjadi kacau.

Kalau dipikir-pikir...

memang agak laen.

Menurut saya film ini juga menjadi contoh bahwa film komedi tidak harus mengorbankan cerita hanya demi membuat penonton tertawa.

Kita masih bisa mendapatkan komedi yang absurd, tetapi di saat yang sama tetap mendapatkan karakter dan konflik yang cukup kuat.

Untuk saya sendiri, Agak Laen adalah salah satu film komedi Indonesia yang cukup berhasil menggabungkan tawa dan cerita dalam satu paket.

Kalau kalian belum pernah menonton film ini dan sedang mencari tontonan Indonesia yang ringan, lucu, tetapi tetap punya cerita...

boleh banget coba Agak Laen.

Apalagi kalau ditonton bareng teman atau pasangan.

Karena menurut saya film seperti ini memang lebih seru kalau ditonton ramai-ramai.

Dan setelah selesai menonton, kemungkinan besar kalian juga akan punya bahan untuk membicarakan adegan-adegan paling absurdnya.

Kalau dari saya sendiri?

8/10.

Bukan film yang sempurna karena durasinya sempat terasa panjang.

Tapi secara keseluruhan, saya cukup menikmati film ini.

Dari siniar...

kemudian menjadi film...

dan akhirnya bisa membawa cerita mereka ke layar lebar dengan tetap mempertahankan identitas komedinya.

Menurut saya itu sendiri sudah cukup menarik.

Review Film Review Pengabdi Setan (2017): Remake yang Berhasil Melampaui Bayang-Bayang Versi Klasiknya

Review Film Review Pengabdi Setan (2017): Remake yang Berhasil Melampaui Bayang-Bayang Versi Klasiknya

Pengabdi Setan


Film horor Indonesia memang sudah cukup banyak dibuat, tetapi ada beberapa judul yang menurut saya mempunyai posisi cukup spesial karena bukan hanya berhasil membuat penonton takut, tetapi juga berhasil menjadi pembicaraan banyak orang.

Salah satunya adalah Pengabdi Setan.

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya yang saya tonton di bioskop, kali ini saya menonton Pengabdi Setan langsung dari rumah melalui Netflix bersama pasangan saya.

Film yang disutradarai oleh Joko Anwar ini sebenarnya merupakan remake dari film dengan judul yang sama yang dirilis pada tahun 1980-an. Karena itu menurut saya ada beban tersendiri ketika film ini dibuat ulang.

Apalagi film versi klasiknya sendiri sudah cukup dikenal oleh penonton Indonesia.

Saya sendiri akhirnya mencoba menonton Pengabdi Setan (2017) karena memang penasaran dengan film yang cukup sering disebut sebagai salah satu film horor Indonesia yang berhasil mendapatkan perhatian besar dari penonton.

Ditambah lagi setelah melihat Pengabdi Setan 2, saya justru semakin penasaran dengan film pertamanya.

Karena kalau boleh jujur, setelah menonton sekuelnya saya merasa Pengabdi Setan 2 mempunyai kualitas yang jauh lebih menarik dibandingkan film pertamanya, terutama dari sisi akting dan bagaimana cerita tersebut dieksekusi.

Jadi ketika akhirnya kembali menonton film pertamanya, ekspektasi saya sebenarnya cukup tinggi.

Tapi setelah selesai menonton, menurut saya film ini tidak sebaik yang saya bayangkan.

Bukan berarti Pengabdi Setan (2017) merupakan film yang jelek.

Justru ada beberapa hal yang menurut saya sangat bagus dan menjadi alasan kenapa film ini tetap menarik untuk ditonton.

Tapi kalau dibandingkan dengan hype yang dimiliki film ini dan bagaimana saya melihat kualitas sekuelnya, saya pribadi merasa film pertama ini masih mempunyai beberapa masalah yang cukup terasa.

Sinopsis Singkat: Pengabdi Setan

Pengabdi Setan bercerita mengenai sebuah keluarga yang hidup bersama seorang ibu yang sudah lama menderita sakit.

Setelah sang ibu meninggal dunia, berbagai kejadian aneh mulai terjadi di rumah tersebut.

Rini dan keluarganya kemudian mulai mengalami berbagai macam kejadian yang berhubungan dengan sosok ibu mereka.

Masalahnya semakin rumit ketika berbagai kejadian supernatural mulai mengganggu keluarga tersebut.

Dari sini kemudian film membawa penonton untuk mengikuti bagaimana keluarga Rini mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa hubungan kematian sang ibu dengan berbagai kejadian yang mereka alami.

Secara konsep sebenarnya cukup menarik.

Apalagi film ini mempunyai atmosfer rumah tua yang menurut saya memang sangat cocok untuk film horor.

Rumah, kamar, lorong dan berbagai sudut gelap yang digunakan dalam film juga membuat suasananya terasa cukup kuat.

Tapi masalahnya menurut saya bukan berada pada konsep dasarnya.

Justru beberapa masalah muncul ketika cerita mulai berjalan dan beberapa kejadian terasa seperti muncul hanya karena memang dibutuhkan oleh cerita.

POV: Opini Jujur dan Hal-Hal Yang Menarik Dari Pengabdi Setan

Atmosfer Horornya Masih Menjadi Salah Satu Kelebihan Terbesar

Kalau membahas Pengabdi Setan, menurut saya kita tidak bisa mengabaikan bagaimana film ini membangun atmosfer horornya.

Dari awal film sudah terasa bahwa rumah yang menjadi tempat tinggal keluarga Rini memang mempunyai suasana yang tidak nyaman.

Bukan hanya karena ada sosok hantu atau adegan jumpscare, tetapi karena lingkungan rumahnya sendiri sudah terasa menyeramkan.

Beberapa ruangan yang gelap, suara-suara yang muncul dan bagaimana kamera memperlihatkan bagian tertentu dari rumah membuat saya cukup sering merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya ada di belakang karakter.

Menurut saya bagian seperti ini justru lebih menarik dibandingkan ketika film hanya mengandalkan jumpscare.

Karena ketika penonton dibuat memperhatikan latar belakang atau sudut ruangan, ada rasa penasaran apakah memang ada sesuatu di sana atau tidak.

Dan film ini cukup sering memainkan hal tersebut.

Detail Horornya Menurut Saya Cukup Bagus

Nah ini salah satu bagian yang menurut saya cukup menarik.

Saya sangat suka bagaimana film ini menggunakan berbagai detail horor yang terasa lebih nyata.

Salah satu contohnya adalah penggunaan lalat.

Memang terdengar seperti hal kecil, tetapi menurut saya detail seperti ini justru membuat adegan tertentu terasa lebih menjijikkan dan tidak nyaman.

Penggunaan properti nyata dibandingkan terlalu banyak mengandalkan CGI membuat beberapa bagian terasa lebih otentik.

Apalagi ketika melihat detail lalat tersebut, rasanya memang seperti melihat sesuatu yang benar-benar ada di dalam situasi tersebut.

Buat saya hal seperti ini cukup penting dalam film horor.

Karena terkadang sesuatu yang sederhana justru bisa memberikan rasa tidak nyaman yang lebih kuat dibandingkan efek CGI yang terlalu berlebihan.


Hidden Jump Scare Yang Cukup Menarik

Selain detail horornya, ada juga beberapa teknik jumpscare yang menurut saya cukup bagus.

Salah satunya adalah ketika film menempatkan sesuatu di latar belakang tanpa langsung membuat penonton menyadarinya.

Misalnya ketika ada bayangan Bondi di kamar ibu.

Adegan seperti ini menurut saya lebih menarik karena penonton tidak selalu diberikan tanda bahwa sesuatu akan muncul.

Jadi kita bisa saja sedang memperhatikan karakter di depan layar, tetapi ternyata ada sesuatu yang bergerak atau muncul di bagian belakang.

Menurut saya teknik seperti ini cukup efektif.

Karena penonton tidak hanya menunggu suara keras atau sesuatu yang tiba-tiba muncul di depan kamera.

Justru kita dibuat sedikit curiga dengan setiap sudut frame.

Dan menurut saya teknik hidden jump scare seperti ini menjadi salah satu hal yang cukup saya suka dari film ini.


Tapi Masalahnya Ada di Konsistensi Cerita

Nah, kalau dari sisi cerita saya justru mempunyai cukup banyak masalah.

Salah satu yang cukup mengganggu adalah beberapa kejadian yang menurut saya terasa kurang konsisten.

Contohnya adalah kondisi Bondi yang mengalami kerasukan.

Ada beberapa bagian dimana kondisinya seperti menjadi sangat penting, tetapi kemudian keadaan tersebut bisa berubah dan tidak selalu mendapatkan penjelasan yang menurut saya cukup kuat.

Saya jadi beberapa kali bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan karakter tersebut.

Hal yang sama juga saya rasakan terhadap kursi roda.

Di satu sisi kursi roda digunakan sebagai bagian yang membuat suasana menjadi menyeramkan.

Tapi di bagian lain benda tersebut justru seperti menjadi sesuatu yang membantu atau bahkan menyelamatkan karakter.

Buat saya perubahan fungsi seperti ini terasa cukup membingungkan.

Mungkin sebenarnya ada penjelasan tertentu di dalam cerita yang bisa membuat semuanya masuk akal.

Tapi ketika saya menontonnya, saya pribadi merasa beberapa bagian tersebut belum dijelaskan dengan cukup baik.


Ada Beberapa Kejadian Yang Terasa Hanya Karena Kebutuhan Plot

Selain masalah konsistensi, saya juga merasa ada beberapa kejadian yang seperti muncul hanya karena cerita membutuhkan karakter tersebut untuk muncul.

Salah satunya adalah Budiman.

Kemunculan Budiman di saat yang cukup krusial menurut saya memang membantu cerita untuk bergerak ke arah berikutnya.

Tapi yang membuat saya bertanya-tanya adalah bagaimana sebenarnya dia bisa mengetahui kondisi keluarga Rini dan bagaimana dia bisa mengetahui lokasi mereka.

Karena film tidak memberikan penjelasan yang menurut saya cukup jelas mengenai hal tersebut.

Jadi ketika karakter tersebut tiba-tiba muncul dan kemudian memberikan informasi penting, saya justru merasa seperti sedang melihat sebuah karakter yang dimunculkan karena memang cerita membutuhkan seseorang untuk menjelaskan sesuatu.

Menurut saya ini yang membuat beberapa bagian cerita terasa kurang natural.

Bukan berarti keberadaan karakternya tidak penting.

Tetapi cara memasukkannya ke dalam cerita menurut saya masih terasa agak dipaksakan.


Dialognya Menurut Saya Terlalu Baku

Satu hal lain yang cukup saya perhatikan adalah dialog para karakternya.

Karena film ini mengambil latar waktu tahun 1981, saya sebenarnya berharap dialog yang digunakan bisa terasa lebih natural dan sesuai dengan periode tersebut.

Tapi beberapa dialog menurut saya justru terasa cukup baku.

Kadang saya merasa seperti sedang mendengar karakter yang berbicara dengan bahasa film, bukan orang yang benar-benar sedang berbicara dalam kehidupan sehari-hari.

Memang ini bukan masalah yang sampai membuat saya tidak bisa menikmati filmnya.

Tapi ketika diperhatikan, ada beberapa percakapan yang terasa kurang natural.

Dan menurut saya hal seperti ini cukup berpengaruh terhadap bagaimana penonton bisa merasa dekat dengan karakter.


Aktingnya Menurut Saya Masih Bisa Lebih Baik

Untuk masalah akting sebenarnya saya tidak ingin mengatakan bahwa seluruh pemainnya buruk.

Ada beberapa pemain yang menurut saya sudah cukup baik dalam membawa karakternya.

Tetapi kalau dibandingkan dengan Pengabdi Setan 2, saya justru merasa sekuelnya mempunyai peningkatan yang cukup terasa dari sisi akting.

Di film kedua, interaksi antar karakter menurut saya terasa lebih natural dan ekspresinya juga lebih meyakinkan.

Sedangkan di film pertama ini masih ada beberapa bagian dimana saya merasa aktingnya belum terlalu kuat.

Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa ketika saya menonton film pertama setelah melihat sekuelnya, perbedaannya menjadi lebih terasa.

Karena saya sudah mempunyai pembanding.


Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Pengabdi Setan

Kelebihan:

1. Atmosfer horornya cukup kuat

Rumah dan lingkungan yang digunakan dalam film berhasil menciptakan suasana yang tidak nyaman.

Tidak hanya mengandalkan jumpscare, tetapi juga menggunakan ruang dan suasana untuk membangun rasa takut.

2. Detail horornya terasa nyata

Penggunaan properti nyata, termasuk detail lalat, menurut saya menjadi salah satu bagian yang cukup bagus.

Detail kecil seperti ini justru membuat beberapa adegan terasa lebih menjijikkan dan memberikan kesan horor yang lebih nyata.

3. Hidden jump scare cukup menarik

Beberapa jumpscare yang ditempatkan di latar belakang menurut saya lebih menarik dibandingkan jumpscare yang hanya mengandalkan suara keras dan kemunculan tiba-tiba.

Teknik seperti bayangan Bondi di kamar ibu menjadi salah satu contoh yang menurut saya cukup efektif.


Kekurangan:

1. Alurnya kurang konsisten

Beberapa kejadian seperti kerasukan Bondi dan penggunaan kursi roda terasa tidak selalu mempunyai penjelasan yang cukup jelas.

Hal tersebut membuat saya beberapa kali merasa bingung dengan aturan yang sebenarnya berlaku di dalam cerita.

2. Ada beberapa plot hole

Kemunculan Budiman menjadi salah satu contoh yang menurut saya cukup terasa.

Karakter tersebut muncul di saat yang penting, tetapi bagaimana dia bisa mengetahui kondisi dan lokasi keluarga Rini menurut saya tidak dijelaskan dengan cukup baik.

3. Dialog terasa terlalu baku

Untuk film yang menggunakan latar tahun 1981, beberapa percakapan menurut saya terasa terlalu formal dan kurang natural.

4. Akting dan eksekusi cerita masih kalah dibandingkan sekuelnya

Ini memang kembali ke opini pribadi saya.

Setelah melihat Pengabdi Setan 2, saya merasa sekuelnya mempunyai peningkatan yang cukup terasa terutama dari sisi akting dan bagaimana cerita dieksekusi.

Karena itu ketika kembali melihat film pertamanya, beberapa kekurangannya menjadi lebih mudah saya perhatikan.


Kesimpulan: Apakah Pengabdi Setan (2017) Masih Layak Ditonton?

Secara pribadi setelah selesai menonton Pengabdi Setan (2017), saya merasa film ini masih cukup menarik untuk ditonton.

Terutama kalau kalian memang penasaran dengan salah satu film horor Indonesia yang cukup terkenal dan ingin melihat bagaimana Joko Anwar membuat ulang film klasik dengan pendekatan yang lebih modern.

Ada banyak hal yang menurut saya memang berhasil.

Atmosfernya kuat, detail horornya cukup bagus dan beberapa teknik hidden jump scare menurut saya cukup menarik.

Tapi di sisi lain, saya merasa ceritanya masih mempunyai beberapa masalah.

Ada beberapa bagian yang terasa tidak konsisten, beberapa kejadian seperti hanya terjadi karena kebutuhan plot dan dialognya menurut saya masih terlalu baku.

Dan yang paling terasa buat saya adalah ketika film ini dibandingkan dengan Pengabdi Setan 2.

Setelah melihat sekuelnya, saya justru merasa film keduanya mempunyai kualitas akting dan eksekusi cerita yang lebih baik.

Jadi kalau kalian datang ke film pertama ini dengan ekspektasi yang sangat tinggi karena melihat hype atau karena sudah menonton Pengabdi Setan 2, mungkin kalian akan merasa sedikit berbeda dengan ekspektasi tersebut.

Buat saya pribadi, film ini bukan film horor yang jelek.

Justru ada beberapa bagian yang menurut saya sangat bagus dan masih bisa dinikmati sampai sekarang.

Tapi saya juga tidak bisa mengatakan bahwa film ini sepenuhnya memenuhi ekspektasi saya.

Terutama karena beberapa masalah di bagian cerita cukup terasa ketika saya mencoba memperhatikan detailnya.


Kalau ditanya apakah saya akan menonton ulang?


Mungkin tidak dalam waktu dekat.

Bukan karena filmnya tidak menarik, tetapi menurut saya setelah sekali menonton sudah cukup untuk memahami keseluruhan ceritanya.

Untuk rating pribadi, saya mungkin berada di sekitar 5/10.

Nilai tersebut bukan berarti filmnya tidak mempunyai kelebihan.

Justru secara teknis dan atmosfer, ada beberapa hal yang menurut saya cukup bagus.

Tapi ketika semuanya digabungkan dengan masalah alur, beberapa plot hole, dialog yang terasa baku dan perbandingan dengan sekuelnya, saya pribadi merasa 5/10 cukup menggambarkan pengalaman menonton saya.

Jadi kalau kalian penasaran dengan film horor Indonesia ini, silakan coba tonton.

Tapi menurut saya jangan datang dengan ekspektasi bahwa kalian akan mendapatkan film horor yang sempurna hanya karena film ini mempunyai reputasi dan hype yang cukup besar.

Karena setelah saya menontonnya sendiri, saya justru merasa hal yang paling menarik dari Pengabdi Setan bukan hanya soal seberapa seram filmnya, tetapi bagaimana film ini berhasil membangun atmosfer dan memberikan beberapa detail horor yang sampai sekarang masih cukup berkesan.