Review Film Sengkolo Malam Satu Suro (2024): Horor Penuh Jumpscare, Tapi Ceritanya Bagaimana?
Horor Horor Setan Lewati Reting RendahBelakangan ini film horor indonesia begitu banyak muncul di layar lebar bioskop, mulai dari film yang mengangkat kisah urban legend, cerita yang berkaitan dengan hal mistis di masyarakat, sampai film horor yang membawa unsur religi di dalam ceritanya. Formula seperti ini memang sudah cukup sering digunakan dalam industri film horor indonesia, terutama dengan menghadirkan sosok setan, suasana mencekam, dan jumpscare untuk membuat penonton merasa takut ketika menontonnya.
Salah satu film yang mencoba membawa formula tersebut adalah Sengkolo Malam Satu Suro (2024), sebuah film horor yang dibintangi oleh Doni Alamsyah. Film ini mengangkat cerita tentang seorang mantan pemandi jenazah yang harus kembali menjalankan pekerjaannya setelah terjadi kematian misterius di sebuah desa. Dari premis ceritanya sendiri menurutku film ini sebenarnya memiliki potensi untuk menghadirkan cerita horor yang menarik, apalagi dengan latar belakang karakter utama yang memiliki trauma masa lalu. Saya menonton film ini bersama sepupu saya di Netflix saat libur sekolah. Kebetulan, sepupu saya datang bermain ke rumah, jadi kami memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan menonton film. Kegiatan ini terasa menyenangkan karena kami bisa menikmati waktu liburan sambil bersantai, menghibur diri
Tapi pertanyaannya adalah apakah film Sengkolo Malam Satu Suro ini benar-benar berhasil memberikan pengalaman menonton film horor yang menyeramkan, atau justru hanya mengandalkan jumpscare tanpa cerita yang kuat?
Berikut adalah review dan opini pribadi saya mengenai film Sengkolo Malam Satu Suro (2024).
Sinopsis Singkat: Sengkolo Malam Satu Suro
Film ini berfokus pada karakter bernama Ibrahim yang diperankan oleh Doni Alamsyah, seorang mantan pemandi jenazah yang mengalami tragedi besar dalam hidupnya setelah istri dan anaknya meninggal dunia secara mengenaskan. Kejadian tersebut membuat Ibrahim kehilangan keyakinan dan memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai pemandi jenazah.
Setahun setelah kejadian itu, sebuah keluarga kaya di desa tempat Ibrahim tinggal meninggal dunia secara misterius dengan kondisi tubuh yang kaku dan aneh. Karena tidak ada warga yang berani memandikan jenazah keluarga tersebut, kepala desa akhirnya membujuk Ibrahim untuk kembali menjalankan pekerjaannya.
Namun, ketika mulai memandikan jenazah dan menjalankan tugasnya kembali, Ibrahim perlahan menemukan berbagai kejanggalan yang ternyata memiliki kaitan dengan tragedi yang menimpa keluarganya di masa lalu.
Dari sinilah cerita horor dalam film Sengkolo Malam Satu Suro mulai berkembang, dengan berbagai kejadian mistis yang perlahan mengungkap misteri di balik kematian keluarga tersebut.
POV: Opini Jujur dan Hal-Hal yang Menarik dari Film Ini
Cerita dan Naskah Film
Aku mulai dari bagian cerita terlebih dahulu, karena menurutku cerita merupakan salah satu aspek paling penting dalam sebuah film, terutama untuk genre horor yang ingin membangun suasana mencekam sekaligus membuat penonton penasaran dengan misteri yang sedang terjadi.
Kalau melihat premis yang diangkat, sebenarnya Sengkolo Malam Satu Suro memiliki konsep cerita yang cukup menarik. Karakter utama yang kehilangan istri dan anaknya, kemudian harus kembali bekerja sebagai pemandi jenazah dan menghadapi kejadian mistis yang berkaitan dengan masa lalunya, menurutku bisa menjadi fondasi cerita yang kuat untuk sebuah film horor.
Namun, permasalahannya ada pada bagaimana cerita tersebut dieksekusi. Menurutku, cerita dalam film ini terasa begitu tipis dan kurang dikembangkan dengan baik. Beberapa bagian terasa seperti hanya menjadi penghubung agar penonton bisa melihat adegan penampakan setan dan jumpscare berikutnya.
Hal ini cukup disayangkan, karena latar belakang Ibrahim sebenarnya memiliki potensi drama yang besar. Kehilangan keluarga, kehilangan keyakinan, dan harus kembali berhadapan dengan pekerjaan yang berkaitan dengan kematian seharusnya bisa menjadi konflik emosional yang menarik untuk diikuti.
Tapi menurutku, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal. Pengembangan karakter dan hubungan antara konflik masa lalu dengan kejadian yang sedang berlangsung terasa kurang kuat, sehingga beberapa bagian dramanya tidak memberikan dampak emosional yang begitu terasa.
Bagi aku pribadi, film horor tidak harus selalu memiliki cerita yang rumit atau penuh plot twist. Cerita sederhana pun bisa menjadi sangat menarik jika dieksekusi dengan baik. Namun, dalam kasus film ini, menurutku naskahnya belum cukup kuat untuk menopang keseluruhan cerita.
Atmosfer Horor dan Eksekusi Jumpscare
Selanjutnya kita masuk ke aspek yang menurutku menjadi salah satu masalah utama dalam film ini, yaitu bagaimana film menghadirkan unsur horornya.
Kalau berbicara mengenai film horor indonesia, jumpscare memang sudah menjadi salah satu cara yang cukup sering digunakan untuk membuat penonton terkejut. Menurutku, penggunaan jumpscare sebenarnya tidak menjadi masalah selama kemunculannya memiliki konteks yang jelas dan dibangun melalui suasana yang tepat.
Namun, berdasarkan apa yang ditampilkan dalam film Sengkolo Malam Satu Suro, beberapa kemunculan sosok setan terasa terlalu berfokus untuk menakuti penonton secara instan. Ada kalanya penampakan tersebut muncul tanpa memberikan kontribusi yang berarti terhadap perkembangan cerita.
Menurutku, hal seperti ini justru membuat pengalaman menonton terasa repetitif. Penonton memang bisa terkejut ketika sosok menyeramkan muncul secara tiba-tiba, tetapi rasa takut tersebut belum tentu bertahan lama apabila tidak didukung oleh pembangunan atmosfer dan cerita yang kuat.
Padahal, menurutku horor yang bagus bukan hanya tentang seberapa sering setan muncul di layar, tetapi juga bagaimana film membangun rasa tidak nyaman, membuat penonton penasaran, dan memberikan perasaan bahwa ada sesuatu yang salah bahkan sebelum sosok menyeramkan itu diperlihatkan.
Untuk film ini, menurutku penggunaan jumpscare masih terasa terlalu dominan dibandingkan upaya membangun ketegangan secara perlahan. Akibatnya, beberapa adegan horor terasa seperti mengikuti pola yang sama secara berulang.
Kualitas Makeup dan Sinematografi
Meskipun memiliki beberapa kekurangan dari segi cerita, bukan berarti film Sengkolo Malam Satu Suro tidak memiliki aspek yang menarik untuk diapresiasi.
Menurutku, salah satu hal yang cukup menonjol dari film ini adalah kualitas makeup pada adegan-adegan yang berkaitan dengan jenazah dan sosok supranatural. Terutama pada bagian awal film, proses memandikan jenazah ditampilkan dengan pendekatan visual yang cukup menarik dan memberikan kesan bahwa film ini memang ingin menghadirkan suasana horor yang serius.
Dari segi sinematografi, adegan pembukanya juga terasa cukup sinematik. Penataan gambar dan penggunaan visual pada beberapa bagian berhasil memberikan kesan yang cukup kuat, sehingga pada awalnya film ini terlihat memiliki potensi untuk menghadirkan pengalaman horor yang lebih menarik.
Menurutku, makeup dalam film horor memiliki peran yang sangat penting karena bisa membuat sosok yang ditampilkan terlihat lebih meyakinkan dan mengganggu secara visual. Dalam film ini, beberapa desain sosok menyeramkannya sudah cukup baik dan terlihat dikerjakan dengan niat.
Sayangnya, kualitas visual tersebut menurutku belum sepenuhnya diimbangi dengan kekuatan cerita. Padahal, jika aspek visual dan penulisan cerita bisa berjalan beriringan, hasil akhirnya tentu akan jauh lebih memuaskan.
Akting Pemain
Untuk bagian akting, menurutku Doni Alamsyah menjadi salah satu aspek yang cukup bisa diapresiasi dari film ini.
Dalam memerankan Ibrahim, Doni Alamsyah harus membawakan karakter yang mengalami kehilangan besar, kesedihan, dan krisis keyakinan setelah tragedi yang menimpa keluarganya. Menurutku, karakter seperti ini membutuhkan penghayatan yang cukup kuat karena emosi yang dibawa tidak hanya berkaitan dengan rasa takut, tetapi juga kesedihan dan konflik batin.
Dari penampilannya, akting Doni Alamsyah dinilai mampu memperlihatkan sisi emosional karakter tersebut dengan cukup meyakinkan. Hal ini menjadi salah satu poin positif yang membuat karakter Ibrahim masih memiliki daya tarik meskipun pengembangan ceritanya terasa kurang maksimal.
Namun, menurutku ada satu hal yang cukup disayangkan. Performa aktor yang sudah cukup baik seharusnya bisa menjadi lebih kuat apabila didukung oleh penulisan karakter dan dialog yang lebih matang.
Ketika naskah tidak memberikan ruang yang cukup untuk mengembangkan emosi dan konflik karakter, kemampuan akting pemain pun menjadi kurang maksimal dalam memberikan dampak kepada penonton.
Jadi, menurutku masalah utama dalam film ini bukan semata-mata terletak pada pemeran utamanya, melainkan bagaimana cerita memberikan ruang bagi karakter tersebut untuk berkembang.
Penggunaan CGI
Nah, untuk bagian ini menurutku menjadi salah satu aspek yang cukup disayangkan dari film Sengkolo Malam Satu Suro.
Dalam film horor, penggunaan efek visual atau CGI sebenarnya bisa membantu menghadirkan adegan yang sulit dibuat secara langsung. Namun, menurutku penggunaan CGI harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan adegan dan suasana yang ingin dibangun.
Berdasarkan ulasan terhadap film ini, ada beberapa bagian yang penggunaan CGI-nya terasa kurang meyakinkan dan justru mengganggu suasana horor yang sedang dibangun.
Menurutku, hal seperti ini cukup disayangkan karena film horor tidak selalu membutuhkan efek visual yang berlebihan untuk membuat penonton merasa takut. Terkadang, penggunaan makeup praktis, pencahayaan yang tepat, suara yang mengganggu, dan pengambilan gambar yang bagus justru bisa menghasilkan suasana yang jauh lebih menyeramkan.
Apalagi ketika sebuah film sudah memiliki desain makeup yang cukup baik, menurutku akan lebih menarik jika kelebihan tersebut dimanfaatkan secara maksimal daripada terlalu bergantung pada efek visual yang hasilnya kurang meyakinkan.
Pada akhirnya, CGI seharusnya membantu memperkuat pengalaman menonton, bukan justru membuat penonton menyadari bahwa mereka sedang melihat efek buatan.
Pacing dan Alur Cerita
Hal lain yang menurutku cukup berpengaruh terhadap pengalaman menonton film ini adalah pacing atau tempo penceritaannya.
Menurutku, ketika sebuah film memiliki cerita yang kurang dikembangkan, durasi yang seharusnya bisa digunakan untuk memperdalam karakter dan membangun misteri justru berisiko terasa lambat atau kurang efektif.
Dalam Sengkolo Malam Satu Suro, beberapa bagian terasa belum memberikan perkembangan cerita yang cukup berarti. Akibatnya, alur film bisa terasa seperti berjalan hanya untuk mengantarkan penonton menuju adegan horor berikutnya.
Padahal, menurutku film horor yang baik perlu memiliki keseimbangan antara pembangunan cerita, pengembangan karakter, dan adegan menakutkan. Ketika keseimbangan tersebut tidak tercapai, penonton bisa merasa bahwa adegan-adegan yang ditampilkan tidak memberikan kontribusi besar terhadap keseluruhan cerita.
Buatku pribadi, hal seperti ini cukup berpengaruh karena aku lebih menikmati film horor yang mampu membuat penonton penasaran dengan misteri yang ada, bukan hanya menunggu kapan jumpscare berikutnya muncul.
Kelebihan dan Kekurangan Film Sengkolo Malam Satu Suro
Kelebihan
- Akting Doni Alamsyah cukup meyakinkan. Menurutku, Doni Alamsyah mampu membawakan karakter Ibrahim yang mengalami kesedihan dan kehilangan dengan cukup baik. Penampilannya menjadi salah satu aspek yang masih bisa diapresiasi dari film ini.
- Kualitas makeup yang cukup menarik. Penggambaran jenazah dan beberapa sosok supranatural terlihat dikerjakan dengan niat. Hal ini membantu menghadirkan tampilan visual yang sesuai dengan genre horor.
- Sinematografi pada adegan pembuka. Adegan awal yang memperlihatkan proses memandikan jenazah memiliki pendekatan visual yang cukup sinematik dan memberikan kesan bahwa film ini ingin membangun atmosfer horor yang serius.
- Premis cerita memiliki potensi. Menurutku, kisah mantan pemandi jenazah yang kembali bekerja setelah mengalami tragedi keluarga sebenarnya bisa menjadi dasar cerita yang menarik jika dikembangkan dengan lebih matang.
Kekurangan
- Naskah cerita yang terasa tipis. Menurutku, cerita film ini belum dikembangkan secara maksimal. Beberapa adegan terasa hanya menjadi penghubung untuk menghadirkan jumpscare, sehingga konflik utama dan perkembangan karakter kurang terasa kuat.
- Jumpscare yang repetitif. Kemunculan sosok setan terasa terlalu sering digunakan untuk menakuti penonton secara langsung tanpa selalu memiliki fungsi yang jelas dalam cerita.
- Penggunaan CGI yang kurang meyakinkan. Beberapa efek visual terasa kurang menyatu dengan adegan dan justru mengurangi suasana horor yang seharusnya dibangun.
- Pacing yang kurang efektif. Karena perkembangan cerita terasa kurang kuat, beberapa bagian film berpotensi terasa lambat dan kurang memberikan informasi atau perkembangan yang berarti bagi penonton.
- Drama emosional yang kurang maksimal. Latar belakang Ibrahim sebenarnya memiliki potensi untuk membuat penonton bersimpati, tetapi menurutku pengembangan konflik emosionalnya belum cukup kuat untuk memberikan dampak yang mendalam.
Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?
Secara keseluruhan, menurutku Sengkolo Malam Satu Suro (2024) merupakan film horor yang memiliki beberapa aspek menarik, terutama dari segi penampilan Doni Alamsyah, kualitas makeup, dan pendekatan visual pada beberapa adegan awal. Namun, berbagai kelebihan tersebut menurutku belum cukup untuk menutupi kelemahan utama film ini, yaitu naskah cerita yang terasa tipis dan penggunaan jumpscare yang terlalu repetitif.
Buat kalian yang menyukai film horor dengan banyak penampakan setan dan adegan yang dirancang untuk memberikan kejutan secara langsung, mungkin film ini masih bisa menjadi pilihan untuk mengisi waktu luang. Namun, bagi kalian yang mencari film horor dengan cerita yang kuat, pengembangan karakter yang mendalam, serta pembangunan atmosfer yang mampu membuat penonton merasa takut secara perlahan, menurutku film ini belum bisa memberikan pengalaman yang maksimal.
Aku sendiri merasa bahwa film horor tidak harus selalu menghadirkan cerita yang rumit. Cerita sederhana pun bisa terasa sangat menarik jika memiliki penulisan yang kuat, karakter yang meyakinkan, dan eksekusi adegan yang tepat.
Sayangnya, menurutku Sengkolo Malam Satu Suro masih terlalu bergantung pada formula horor yang sudah sering digunakan, sehingga potensi cerita yang sebenarnya cukup menarik belum berhasil dimanfaatkan secara maksimal.
Untuk rating, berdasarkan penilaian yang menjadi acuan dalam ulasan ini, film Sengkolo Malam Satu Suro mendapatkan skor 4,8/10.
Jadi, apakah film ini layak ditonton atau lebih baik dilewatkan saja? Menurutku, semuanya kembali lagi kepada selera kalian masing-masing. Kalau kalian hanya ingin menikmati film horor dengan penampakan dan jumpscare, film ini masih bisa dicoba. Namun, kalau kalian mengharapkan cerita horor yang solid dan mampu meninggalkan kesan setelah film selesai, saranku jangan terlalu berekspektasi tinggi terhadap film ini.



