Review Film Review Pengabdi Setan (2017): Remake yang Berhasil Melampaui Bayang-Bayang Versi Klasiknya

Review Film Review Pengabdi Setan (2017): Remake yang Berhasil Melampaui Bayang-Bayang Versi Klasiknya

Pengabdi Setan


Film horor Indonesia memang sudah cukup banyak dibuat, tetapi ada beberapa judul yang menurut saya mempunyai posisi cukup spesial karena bukan hanya berhasil membuat penonton takut, tetapi juga berhasil menjadi pembicaraan banyak orang.

Salah satunya adalah Pengabdi Setan.

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya yang saya tonton di bioskop, kali ini saya menonton Pengabdi Setan langsung dari rumah melalui Netflix bersama pasangan saya.

Film yang disutradarai oleh Joko Anwar ini sebenarnya merupakan remake dari film dengan judul yang sama yang dirilis pada tahun 1980-an. Karena itu menurut saya ada beban tersendiri ketika film ini dibuat ulang.

Apalagi film versi klasiknya sendiri sudah cukup dikenal oleh penonton Indonesia.

Saya sendiri akhirnya mencoba menonton Pengabdi Setan (2017) karena memang penasaran dengan film yang cukup sering disebut sebagai salah satu film horor Indonesia yang berhasil mendapatkan perhatian besar dari penonton.

Ditambah lagi setelah melihat Pengabdi Setan 2, saya justru semakin penasaran dengan film pertamanya.

Karena kalau boleh jujur, setelah menonton sekuelnya saya merasa Pengabdi Setan 2 mempunyai kualitas yang jauh lebih menarik dibandingkan film pertamanya, terutama dari sisi akting dan bagaimana cerita tersebut dieksekusi.

Jadi ketika akhirnya kembali menonton film pertamanya, ekspektasi saya sebenarnya cukup tinggi.

Tapi setelah selesai menonton, menurut saya film ini tidak sebaik yang saya bayangkan.

Bukan berarti Pengabdi Setan (2017) merupakan film yang jelek.

Justru ada beberapa hal yang menurut saya sangat bagus dan menjadi alasan kenapa film ini tetap menarik untuk ditonton.

Tapi kalau dibandingkan dengan hype yang dimiliki film ini dan bagaimana saya melihat kualitas sekuelnya, saya pribadi merasa film pertama ini masih mempunyai beberapa masalah yang cukup terasa.

Sinopsis Singkat: Pengabdi Setan

Pengabdi Setan bercerita mengenai sebuah keluarga yang hidup bersama seorang ibu yang sudah lama menderita sakit.

Setelah sang ibu meninggal dunia, berbagai kejadian aneh mulai terjadi di rumah tersebut.

Rini dan keluarganya kemudian mulai mengalami berbagai macam kejadian yang berhubungan dengan sosok ibu mereka.

Masalahnya semakin rumit ketika berbagai kejadian supernatural mulai mengganggu keluarga tersebut.

Dari sini kemudian film membawa penonton untuk mengikuti bagaimana keluarga Rini mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa hubungan kematian sang ibu dengan berbagai kejadian yang mereka alami.

Secara konsep sebenarnya cukup menarik.

Apalagi film ini mempunyai atmosfer rumah tua yang menurut saya memang sangat cocok untuk film horor.

Rumah, kamar, lorong dan berbagai sudut gelap yang digunakan dalam film juga membuat suasananya terasa cukup kuat.

Tapi masalahnya menurut saya bukan berada pada konsep dasarnya.

Justru beberapa masalah muncul ketika cerita mulai berjalan dan beberapa kejadian terasa seperti muncul hanya karena memang dibutuhkan oleh cerita.

POV: Opini Jujur dan Hal-Hal Yang Menarik Dari Pengabdi Setan

Atmosfer Horornya Masih Menjadi Salah Satu Kelebihan Terbesar

Kalau membahas Pengabdi Setan, menurut saya kita tidak bisa mengabaikan bagaimana film ini membangun atmosfer horornya.

Dari awal film sudah terasa bahwa rumah yang menjadi tempat tinggal keluarga Rini memang mempunyai suasana yang tidak nyaman.

Bukan hanya karena ada sosok hantu atau adegan jumpscare, tetapi karena lingkungan rumahnya sendiri sudah terasa menyeramkan.

Beberapa ruangan yang gelap, suara-suara yang muncul dan bagaimana kamera memperlihatkan bagian tertentu dari rumah membuat saya cukup sering merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya ada di belakang karakter.

Menurut saya bagian seperti ini justru lebih menarik dibandingkan ketika film hanya mengandalkan jumpscare.

Karena ketika penonton dibuat memperhatikan latar belakang atau sudut ruangan, ada rasa penasaran apakah memang ada sesuatu di sana atau tidak.

Dan film ini cukup sering memainkan hal tersebut.

Detail Horornya Menurut Saya Cukup Bagus

Nah ini salah satu bagian yang menurut saya cukup menarik.

Saya sangat suka bagaimana film ini menggunakan berbagai detail horor yang terasa lebih nyata.

Salah satu contohnya adalah penggunaan lalat.

Memang terdengar seperti hal kecil, tetapi menurut saya detail seperti ini justru membuat adegan tertentu terasa lebih menjijikkan dan tidak nyaman.

Penggunaan properti nyata dibandingkan terlalu banyak mengandalkan CGI membuat beberapa bagian terasa lebih otentik.

Apalagi ketika melihat detail lalat tersebut, rasanya memang seperti melihat sesuatu yang benar-benar ada di dalam situasi tersebut.

Buat saya hal seperti ini cukup penting dalam film horor.

Karena terkadang sesuatu yang sederhana justru bisa memberikan rasa tidak nyaman yang lebih kuat dibandingkan efek CGI yang terlalu berlebihan.


Hidden Jump Scare Yang Cukup Menarik

Selain detail horornya, ada juga beberapa teknik jumpscare yang menurut saya cukup bagus.

Salah satunya adalah ketika film menempatkan sesuatu di latar belakang tanpa langsung membuat penonton menyadarinya.

Misalnya ketika ada bayangan Bondi di kamar ibu.

Adegan seperti ini menurut saya lebih menarik karena penonton tidak selalu diberikan tanda bahwa sesuatu akan muncul.

Jadi kita bisa saja sedang memperhatikan karakter di depan layar, tetapi ternyata ada sesuatu yang bergerak atau muncul di bagian belakang.

Menurut saya teknik seperti ini cukup efektif.

Karena penonton tidak hanya menunggu suara keras atau sesuatu yang tiba-tiba muncul di depan kamera.

Justru kita dibuat sedikit curiga dengan setiap sudut frame.

Dan menurut saya teknik hidden jump scare seperti ini menjadi salah satu hal yang cukup saya suka dari film ini.


Tapi Masalahnya Ada di Konsistensi Cerita

Nah, kalau dari sisi cerita saya justru mempunyai cukup banyak masalah.

Salah satu yang cukup mengganggu adalah beberapa kejadian yang menurut saya terasa kurang konsisten.

Contohnya adalah kondisi Bondi yang mengalami kerasukan.

Ada beberapa bagian dimana kondisinya seperti menjadi sangat penting, tetapi kemudian keadaan tersebut bisa berubah dan tidak selalu mendapatkan penjelasan yang menurut saya cukup kuat.

Saya jadi beberapa kali bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan karakter tersebut.

Hal yang sama juga saya rasakan terhadap kursi roda.

Di satu sisi kursi roda digunakan sebagai bagian yang membuat suasana menjadi menyeramkan.

Tapi di bagian lain benda tersebut justru seperti menjadi sesuatu yang membantu atau bahkan menyelamatkan karakter.

Buat saya perubahan fungsi seperti ini terasa cukup membingungkan.

Mungkin sebenarnya ada penjelasan tertentu di dalam cerita yang bisa membuat semuanya masuk akal.

Tapi ketika saya menontonnya, saya pribadi merasa beberapa bagian tersebut belum dijelaskan dengan cukup baik.


Ada Beberapa Kejadian Yang Terasa Hanya Karena Kebutuhan Plot

Selain masalah konsistensi, saya juga merasa ada beberapa kejadian yang seperti muncul hanya karena cerita membutuhkan karakter tersebut untuk muncul.

Salah satunya adalah Budiman.

Kemunculan Budiman di saat yang cukup krusial menurut saya memang membantu cerita untuk bergerak ke arah berikutnya.

Tapi yang membuat saya bertanya-tanya adalah bagaimana sebenarnya dia bisa mengetahui kondisi keluarga Rini dan bagaimana dia bisa mengetahui lokasi mereka.

Karena film tidak memberikan penjelasan yang menurut saya cukup jelas mengenai hal tersebut.

Jadi ketika karakter tersebut tiba-tiba muncul dan kemudian memberikan informasi penting, saya justru merasa seperti sedang melihat sebuah karakter yang dimunculkan karena memang cerita membutuhkan seseorang untuk menjelaskan sesuatu.

Menurut saya ini yang membuat beberapa bagian cerita terasa kurang natural.

Bukan berarti keberadaan karakternya tidak penting.

Tetapi cara memasukkannya ke dalam cerita menurut saya masih terasa agak dipaksakan.


Dialognya Menurut Saya Terlalu Baku

Satu hal lain yang cukup saya perhatikan adalah dialog para karakternya.

Karena film ini mengambil latar waktu tahun 1981, saya sebenarnya berharap dialog yang digunakan bisa terasa lebih natural dan sesuai dengan periode tersebut.

Tapi beberapa dialog menurut saya justru terasa cukup baku.

Kadang saya merasa seperti sedang mendengar karakter yang berbicara dengan bahasa film, bukan orang yang benar-benar sedang berbicara dalam kehidupan sehari-hari.

Memang ini bukan masalah yang sampai membuat saya tidak bisa menikmati filmnya.

Tapi ketika diperhatikan, ada beberapa percakapan yang terasa kurang natural.

Dan menurut saya hal seperti ini cukup berpengaruh terhadap bagaimana penonton bisa merasa dekat dengan karakter.


Aktingnya Menurut Saya Masih Bisa Lebih Baik

Untuk masalah akting sebenarnya saya tidak ingin mengatakan bahwa seluruh pemainnya buruk.

Ada beberapa pemain yang menurut saya sudah cukup baik dalam membawa karakternya.

Tetapi kalau dibandingkan dengan Pengabdi Setan 2, saya justru merasa sekuelnya mempunyai peningkatan yang cukup terasa dari sisi akting.

Di film kedua, interaksi antar karakter menurut saya terasa lebih natural dan ekspresinya juga lebih meyakinkan.

Sedangkan di film pertama ini masih ada beberapa bagian dimana saya merasa aktingnya belum terlalu kuat.

Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa ketika saya menonton film pertama setelah melihat sekuelnya, perbedaannya menjadi lebih terasa.

Karena saya sudah mempunyai pembanding.


Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Pengabdi Setan

Kelebihan:

1. Atmosfer horornya cukup kuat

Rumah dan lingkungan yang digunakan dalam film berhasil menciptakan suasana yang tidak nyaman.

Tidak hanya mengandalkan jumpscare, tetapi juga menggunakan ruang dan suasana untuk membangun rasa takut.

2. Detail horornya terasa nyata

Penggunaan properti nyata, termasuk detail lalat, menurut saya menjadi salah satu bagian yang cukup bagus.

Detail kecil seperti ini justru membuat beberapa adegan terasa lebih menjijikkan dan memberikan kesan horor yang lebih nyata.

3. Hidden jump scare cukup menarik

Beberapa jumpscare yang ditempatkan di latar belakang menurut saya lebih menarik dibandingkan jumpscare yang hanya mengandalkan suara keras dan kemunculan tiba-tiba.

Teknik seperti bayangan Bondi di kamar ibu menjadi salah satu contoh yang menurut saya cukup efektif.


Kekurangan:

1. Alurnya kurang konsisten

Beberapa kejadian seperti kerasukan Bondi dan penggunaan kursi roda terasa tidak selalu mempunyai penjelasan yang cukup jelas.

Hal tersebut membuat saya beberapa kali merasa bingung dengan aturan yang sebenarnya berlaku di dalam cerita.

2. Ada beberapa plot hole

Kemunculan Budiman menjadi salah satu contoh yang menurut saya cukup terasa.

Karakter tersebut muncul di saat yang penting, tetapi bagaimana dia bisa mengetahui kondisi dan lokasi keluarga Rini menurut saya tidak dijelaskan dengan cukup baik.

3. Dialog terasa terlalu baku

Untuk film yang menggunakan latar tahun 1981, beberapa percakapan menurut saya terasa terlalu formal dan kurang natural.

4. Akting dan eksekusi cerita masih kalah dibandingkan sekuelnya

Ini memang kembali ke opini pribadi saya.

Setelah melihat Pengabdi Setan 2, saya merasa sekuelnya mempunyai peningkatan yang cukup terasa terutama dari sisi akting dan bagaimana cerita dieksekusi.

Karena itu ketika kembali melihat film pertamanya, beberapa kekurangannya menjadi lebih mudah saya perhatikan.


Kesimpulan: Apakah Pengabdi Setan (2017) Masih Layak Ditonton?

Secara pribadi setelah selesai menonton Pengabdi Setan (2017), saya merasa film ini masih cukup menarik untuk ditonton.

Terutama kalau kalian memang penasaran dengan salah satu film horor Indonesia yang cukup terkenal dan ingin melihat bagaimana Joko Anwar membuat ulang film klasik dengan pendekatan yang lebih modern.

Ada banyak hal yang menurut saya memang berhasil.

Atmosfernya kuat, detail horornya cukup bagus dan beberapa teknik hidden jump scare menurut saya cukup menarik.

Tapi di sisi lain, saya merasa ceritanya masih mempunyai beberapa masalah.

Ada beberapa bagian yang terasa tidak konsisten, beberapa kejadian seperti hanya terjadi karena kebutuhan plot dan dialognya menurut saya masih terlalu baku.

Dan yang paling terasa buat saya adalah ketika film ini dibandingkan dengan Pengabdi Setan 2.

Setelah melihat sekuelnya, saya justru merasa film keduanya mempunyai kualitas akting dan eksekusi cerita yang lebih baik.

Jadi kalau kalian datang ke film pertama ini dengan ekspektasi yang sangat tinggi karena melihat hype atau karena sudah menonton Pengabdi Setan 2, mungkin kalian akan merasa sedikit berbeda dengan ekspektasi tersebut.

Buat saya pribadi, film ini bukan film horor yang jelek.

Justru ada beberapa bagian yang menurut saya sangat bagus dan masih bisa dinikmati sampai sekarang.

Tapi saya juga tidak bisa mengatakan bahwa film ini sepenuhnya memenuhi ekspektasi saya.

Terutama karena beberapa masalah di bagian cerita cukup terasa ketika saya mencoba memperhatikan detailnya.


Kalau ditanya apakah saya akan menonton ulang?


Mungkin tidak dalam waktu dekat.

Bukan karena filmnya tidak menarik, tetapi menurut saya setelah sekali menonton sudah cukup untuk memahami keseluruhan ceritanya.

Untuk rating pribadi, saya mungkin berada di sekitar 5/10.

Nilai tersebut bukan berarti filmnya tidak mempunyai kelebihan.

Justru secara teknis dan atmosfer, ada beberapa hal yang menurut saya cukup bagus.

Tapi ketika semuanya digabungkan dengan masalah alur, beberapa plot hole, dialog yang terasa baku dan perbandingan dengan sekuelnya, saya pribadi merasa 5/10 cukup menggambarkan pengalaman menonton saya.

Jadi kalau kalian penasaran dengan film horor Indonesia ini, silakan coba tonton.

Tapi menurut saya jangan datang dengan ekspektasi bahwa kalian akan mendapatkan film horor yang sempurna hanya karena film ini mempunyai reputasi dan hype yang cukup besar.

Karena setelah saya menontonnya sendiri, saya justru merasa hal yang paling menarik dari Pengabdi Setan bukan hanya soal seberapa seram filmnya, tetapi bagaimana film ini berhasil membangun atmosfer dan memberikan beberapa detail horor yang sampai sekarang masih cukup berkesan.