Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Horor Atmosferik yang Membawa Joko Anwar ke Oscar

Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Horor Atmosferik yang Membawa Joko Anwar ke Oscar

Perempuan Tanah Jahanam


Belakangan ini film horor Indonesia semakin banyak bermunculan di layar lebar, mulai dari film dengan cerita yang mengangkat budaya lokal, kisah tentang ilmu hitam, sampai film yang mencoba membawa konsep baru dalam dunia perfilman horor Indonesia. Salah satu film yang menurut saya cukup menarik untuk dibahas adalah Perempuan Tanah Jahanam, film garapan Joko Anwar yang tidak hanya menawarkan teror dan jumpscare, tetapi juga membawa cerita tentang kutukan keluarga, masa lalu, dan ritual yang cukup kental dengan budaya lokal.

Sebagai penikmat film horor Indonesia, saya nonton film Perempuan Tanah Jahanam tidak sendirian kali ini, saya menontonnya bersama pasangan saya di NSC Demak.

Jujur dari awal saya sudah mempunyai ekspetasi sendiri ketika melihat film ini karena salah satu film yang cukup berbeda dibandingkan film horor yang biasanya lebih mengandalkan jumpscare. Film ini lebih banyak bermain dengan atmosfer, suasana desa yang terasa begitu asing dan menyeramkan, kemudian perlahan membuka misteri mengenai siapa sebenarnya Maya dan apa hubungan dirinya dengan desa tersebut.

Film ini juga menjadi salah satu karya Joko Anwar yang mendapatkan perhatian cukup besar, bahkan menjadi perwakilan Indonesia untuk kategori International Feature Film di Academy Awards atau Oscar. Nah, pertanyaannya adalah apakah film ini memang sebagus dan semencekam itu atau sebenarnya hanya terlihat bagus karena nama besar Joko Anwar? Berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.

Sinopsis Singkat: Perempuan Tanah Jahanam

Film Perempuan Tanah Jahanam menceritakan Maya, seorang perempuan yang bekerja sebagai penjaga tol dan sedang mengalami masalah ekonomi. Suatu hari Maya mendapatkan serangan dari orang tidak dikenal yang memanggil dirinya dengan nama Rahayu dan menyebutkan nama desa asal dari orang tuanya.

Karena penasaran dengan identitas dirinya dan masa lalu keluarganya, Maya bersama sahabatnya Dini kemudian pergi menuju sebuah desa bernama Harjosari. Maya berharap dirinya bisa menemukan peninggalan atau warisan dari keluarganya yang mungkin dapat membantu kondisi ekonominya.

Namun setelah sampai di desa tersebut, Maya dan Dini mulai menemukan berbagai kejanggalan. Salah satu hal yang paling mencolok adalah banyaknya makam bayi yang terdapat di desa tersebut. Dari sinilah perlahan misteri mengenai masa lalu Maya mulai terbuka.

Ternyata keluarga Maya memiliki hubungan dengan kutukan yang sudah berlangsung cukup lama di desa tersebut. Penduduk desa percaya bahwa Maya atau Rahayu merupakan bagian dari penyebab munculnya kutukan tersebut dan untuk menghentikan kutukan itu, mereka harus membunuh Maya.

Maya kemudian harus berusaha bertahan hidup sekaligus mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada keluarganya dan mengapa dirinya menjadi sasaran penduduk desa.

POV: Opini Jujur dan Hal-Hal yang Menarik Dari Film Ini

Atmosfer Horor

Menurut saya hal yang paling terasa dari film Perempuan Tanah Jahanam adalah atmosfer horornya. Film ini tidak terlalu bergantung kepada jumpscare untuk membuat penonton merasa takut, tetapi lebih banyak menggunakan suasana tempat, pencahayaan, suara, kemudian desain lokasi yang membuat suasana film terasa tidak nyaman.

Desa Harjosari sendiri menurut saya menjadi salah satu bagian penting dalam film ini. Dari awal Maya dan Dini datang ke desa tersebut, sudah terasa ada sesuatu yang tidak beres. Suasana desa yang sepi, masyarakatnya yang terlihat aneh, kemudian banyaknya makam bayi membuat rasa penasaran semakin besar.

Berbeda dengan beberapa film horor yang sejak awal langsung memberikan jumpscare, Perempuan Tanah Jahanam lebih memilih untuk membangun rasa tidak nyaman secara perlahan. Menurut saya pendekatan seperti ini justru membuat beberapa bagian film terasa lebih mencekam.

Ada beberapa adegan yang sebenarnya tidak membutuhkan jumpscare tetapi tetap terasa menyeramkan karena suasana dan cara pengambilan gambarnya.

Jumpscare dan Eksekusi Horor

Kalau kalian datang untuk mencari film horor yang isinya penuh dengan jumpscare, menurut saya Perempuan Tanah Jahanam mungkin bukan pilihan yang tepat. Film ini lebih mengandalkan atmosfer dan cerita daripada jumpscare.

Tetapi bukan berarti film ini tidak memiliki adegan yang menyeramkan. Justru beberapa adegan kekerasan dan ritual di dalam film menurut saya cukup mengganggu secara visual.

Penggunaan konsep tumbal, kutukan, kemudian wayang kulit yang berkaitan dengan masa lalu desa membuat film ini mempunyai identitas horor lokal yang cukup kuat.

Menurut saya konsep seperti ini jauh lebih menarik dibandingkan hanya menggunakan hantu dengan wajah menyeramkan yang muncul secara tiba-tiba.

Cerita dan Misteri Keluarga

Bagian yang menurut saya cukup menarik sekaligus menjadi salah satu masalah dalam film ini adalah cerita mengenai hubungan antar karakter.

Awalnya kita hanya mengikuti perjalanan Maya yang ingin mencari tahu mengenai keluarganya. Tetapi semakin mendekati akhir film, informasi mengenai siapa sebenarnya orang tua Maya, hubungan Saptadi dengan keluarganya, Dono Wongso, kepala desa, dan karakter lainnya mulai bermunculan.

Di satu sisi informasi tersebut membuat cerita menjadi lebih kompleks, tetapi di sisi lain menurut saya beberapa penjelasannya terasa terlalu cepat.

Ada beberapa bagian ketika informasi baru diberikan secara berturut-turut sehingga saya harus mencoba mengingat kembali hubungan antara satu karakter dengan karakter lainnya.

Menurut saya kalau penjelasan mengenai hubungan keluarga tersebut diberikan sedikit demi sedikit sejak awal, mungkin ceritanya akan terasa lebih mudah untuk diikuti.

Ritual Wayang Kulit

Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah penggunaan wayang kulit sebagai bagian dari cerita horornya.

Biasanya ketika kita berbicara tentang film horor Indonesia, kita sering menemukan konsep seperti pesugihan, santet, tumbal, atau roh penasaran. Perempuan Tanah Jahanam sebenarnya masih menggunakan elemen-elemen tersebut, tetapi kemudian memasukkannya ke dalam konsep cerita yang berkaitan dengan wayang kulit.

Menurut saya ini menjadi salah satu kekuatan film karena memberikan identitas lokal yang cukup kuat.

Visual dari ritual tersebut juga menurut saya cukup mengganggu dan memberikan kesan mengerikan, apalagi ketika dikombinasikan dengan suasana desa yang sejak awal sudah terasa tidak nyaman.

Akting Pemain

Untuk bagian akting, menurut saya para pemain dalam film ini cukup mampu membawa karakter mereka masing-masing.

Tara Basro sebagai Maya menurut saya berhasil membawa karakter yang terlihat bingung, penasaran, kemudian perlahan berubah menjadi seseorang yang harus bertahan hidup ketika dirinya mulai dikejar oleh penduduk desa.

Christine Hakim sebagai Nyi Misni juga menurut saya cukup mencuri perhatian. Karakter yang dimainkan terasa dingin dan memiliki aura yang membuat saya merasa tidak nyaman setiap kali karakter tersebut muncul.

Marissa Anita sebagai Dini juga cukup bagus dalam membangun hubungan antara Maya dan Dini. Karakter Dini sendiri menurut saya menjadi salah satu karakter yang membuat perjalanan Maya terasa tidak terlalu sendirian di awal cerita.

Namun menurut saya ada beberapa karakter pendukung yang pengembangannya tidak terlalu dalam. Hal tersebut mungkin karena film lebih berfokus kepada misteri Maya dan keluarganya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Perempuan Tanah Jahanam

Kelebihan:

Atmosfer horor yang kuat, film ini tidak terlalu mengandalkan jumpscare tetapi lebih banyak menggunakan suasana, lokasi, pencahayaan dan suara untuk membangun ketegangan.

Konsep horor lokal yang menarik, penggunaan kutukan, tumbal dan ritual wayang kulit membuat film ini mempunyai identitas tersendiri.

Visual dan penataan lokasi yang bagus, desa Harjosari terasa seperti tempat yang benar-benar menyimpan sesuatu dan berhasil membuat suasana film menjadi semakin tidak nyaman.

Akting pemain cukup kuat, terutama Tara Basro dan Christine Hakim yang menurut saya mampu membawa karakter mereka dengan cukup meyakinkan.

Misteri yang membuat penasaran, sejak awal film penonton dibuat bertanya-tanya siapa Maya sebenarnya dan apa hubungan dirinya dengan desa tersebut.

Kekurangan:

Alur cerita terasa cukup buru-buru, terutama ketika film mulai masuk ke bagian penjelasan mengenai hubungan keluarga dan asal-usul kutukan.

Hubungan antar karakter cukup membingungkan, semakin mendekati akhir semakin banyak informasi mengenai keluarga Maya dan penduduk desa yang harus dipahami secara cepat.

Beberapa karakter terasa kurang mendapatkan pengembangan, karena fokus cerita lebih banyak berada pada Maya dan misteri keluarganya.

Bukan tipe film horor untuk semua orang, bagi kalian yang lebih suka horor dengan banyak jumpscare mungkin akan merasa film ini terlalu lambat di beberapa bagian.

Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?

Secara keseluruhan menurut saya Perempuan Tanah Jahanam merupakan film horor yang cukup solid, terutama dari sisi atmosfer, visual dan konsep horor lokal yang dibawa.

Film ini memang bukan film yang sempurna. Ada beberapa bagian cerita yang menurut saya terasa terlalu buru-buru dan hubungan antar karakter yang cukup rumit membuat beberapa bagian cerita menjadi sedikit membingungkan.

Tetapi kalau kalian mencari film horor Indonesia yang tidak hanya mengandalkan jumpscare, Perempuan Tanah Jahanam menurut saya masih sangat menarik untuk ditonton.

Hal yang paling saya suka dari film ini adalah bagaimana Joko Anwar membangun rasa takut melalui suasana. Desa yang sepi, karakter penduduk yang aneh, makam bayi, ritual, kemudian misteri keluarga Maya perlahan membuat penonton merasa bahwa ada sesuatu yang salah sejak awal.

Untuk kalian yang suka film horor dengan atmosfer yang kuat dan cerita yang mencoba menggabungkan budaya lokal dengan unsur horor, menurut saya film ini layak untuk dicoba.

Kalau untuk rating pribadi dari saya, Perempuan Tanah Jahanam saya kasih 8/10.

Bukan karena film ini sempurna, tetapi karena dari sisi atmosfer horor, visual, konsep cerita dan penggunaan unsur budaya lokal menurut saya film ini berhasil memberikan pengalaman yang berbeda dari film horor Indonesia pada umumnya.

Dan menurut saya, salah satu alasan film ini masih menarik untuk dibicarakan sampai sekarang adalah karena Perempuan Tanah Jahanam tidak hanya mencoba membuat penonton takut, tetapi juga membuat penonton penasaran dengan masa lalu dan rahasia yang disimpan oleh desa Harjosari.