Review Film Cek Toko Sebelah: Drama Keluarga Tionghoa yang Berhasil Jadi Film Terbaik FFI 2017
Drama keluarga Favorit Layak tontonKalau biasanya ketika mendengar film komedi Indonesia kita langsung membayangkan jokes yang receh, karakter yang berlebihan, atau cerita yang hanya dibuat untuk menghibur penonton, film Cek Toko Sebelah menurut saya justru mempunyai sesuatu yang berbeda. Film yang disutradarai oleh Ernest Prakasa ini memang membawa genre komedi, tetapi dibalik komedinya film ini juga menyimpan drama keluarga yang cukup kuat dan mungkin cukup relate dengan kehidupan banyak orang.
Hari ini saya akan mencoba untuk review film Cek Toko sebelah setelah saya menonton filmnya di NSC Demak. Jujur cukup banyak yang menonton film ini bersama keluarga, bahkan beberapa kursi bisa dibilang penuh karena banyak yang mengambil paket untuk keluarga.
Film ini pertama kali dirilis pada tahun 2016 dan berhasil mendapatkan perhatian yang cukup besar dari penonton Indonesia. Bahkan Cek Toko Sebelah berhasil mendapatkan penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2017. Menurut saya hal tersebut cukup menarik karena film ini bukan hanya mengandalkan komedi, tetapi juga mencoba membahas hubungan antara orang tua dan anak, masalah keluarga, pilihan hidup, kemudian ekspektasi orang tua terhadap anaknya.
Sebagai penikmat film Indonesia, saya sendiri cukup tertarik ketika menonton film ini karena konfliknya sebenarnya sangat sederhana. Hanya tentang sebuah toko sembako dan seorang ayah yang ingin salah satu anaknya meneruskan toko tersebut. Tetapi dari konflik sederhana tersebut ternyata bisa berkembang menjadi masalah keluarga yang cukup kompleks.
Nah, apakah Cek Toko Sebelah memang sebagus dan sesentuh itu atau hanya mengandalkan komedi dan drama keluarga biasa? Berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.
Sinopsis Singkat: Cek Toko Sebelah
Film Cek Toko Sebelah menceritakan sebuah keluarga yang terdiri dari Koh Afuk dan kedua anaknya yaitu Yohan dan Erwin.
Koh Afuk merupakan pemilik toko sembako yang sudah lama menjalankan usahanya. Karena sudah semakin tua dan ingin pensiun, Koh Afuk kemudian mempunyai keinginan agar toko tersebut diteruskan oleh anaknya.
Namun masalahnya, anak yang dipilih oleh Koh Afuk bukan Yohan sebagai anak sulung, melainkan Erwin.
Erwin sendiri sebenarnya sedang berada di posisi yang cukup bagus dalam kariernya. Ia mendapatkan kesempatan untuk naik jabatan dan bahkan mempunyai peluang untuk bekerja di Singapura. Sedangkan Yohan yang merupakan anak sulung justru merasa dirinya lebih pantas untuk meneruskan toko tersebut karena selama ini dirinya merasa sudah banyak berkorban untuk keluarga.
Dari sinilah konflik antara Yohan, Erwin dan Koh Afuk mulai muncul.
Yohan merasa dirinya selalu dianggap tidak bertanggung jawab dan kalah dibandingkan Erwin. Sedangkan Erwin sendiri berada dalam posisi yang sulit karena harus memilih antara mengejar karier yang selama ini dia bangun atau memenuhi keinginan ayahnya untuk meneruskan toko keluarga.
Masalah semakin rumit ketika kondisi Koh Afuk mulai menurun karena terlalu banyak memikirkan masalah toko dan keluarganya.
Pada akhirnya mereka harus menghadapi berbagai masalah yang bukan hanya berkaitan dengan toko, tetapi juga mengenai hubungan antara orang tua dan anak, rasa kecewa, kecemburuan, kemudian bagaimana sebuah keluarga bisa saling memahami satu sama lain.
POV: Opini Jujur dan Hal-Hal yang Menarik Dari Film Ini
Cerita Keluarga yang Sangat Relate
Menurut saya kekuatan terbesar dari Cek Toko Sebelah adalah ceritanya yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Konflik mengenai orang tua yang ingin anaknya mengikuti keinginan keluarga sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Banyak orang mungkin pernah berada dalam posisi seperti Erwin, dimana orang tua sudah mempunyai rencana sendiri mengenai masa depan anaknya.
Di sisi lain ada Yohan yang merasa dirinya kurang dihargai oleh ayahnya.
Menurut saya ini yang membuat konflik film terasa cukup manusiawi. Tidak ada karakter yang benar-benar jahat di dalam film ini. Koh Afuk memang terlihat seperti ayah yang pilih kasih, tetapi semakin film berjalan kita bisa memahami kenapa dirinya mengambil keputusan tersebut.
Begitu juga dengan Yohan.
Di awal mungkin kita bisa melihat Yohan sebagai anak yang iri kepada adiknya. Tetapi kalau melihat latar belakangnya, rasa kecewa Yohan sebenarnya mempunyai alasan.
Sedangkan Erwin sendiri bukan berarti tidak peduli kepada keluarga. Dia hanya sedang berada dalam posisi dimana dirinya ingin mengejar kehidupan dan karier yang sudah dibangun.
Menurut saya cara film ini memperlihatkan konflik dari berbagai sudut pandang tersebut cukup bagus.
Komedi dan Drama
Untuk bagian komedinya, menurut saya Ernest Prakasa cukup berhasil menggabungkan komedi dengan drama.
Hal yang saya suka adalah ketika film sedang berada di bagian yang lucu, kemudian tidak lama setelah itu film bisa kembali membawa kita ke bagian yang serius.
Komedi di film ini juga menurut saya tidak sepenuhnya menghilangkan konflik utama.
Ada beberapa jokes yang memang terasa ringan dan mungkin tidak semuanya akan membuat penonton tertawa terbahak-bahak, tetapi komedinya cukup membantu membuat film tidak terasa terlalu berat.
Yang paling menarik justru ketika film mulai masuk ke bagian drama.
Ada beberapa adegan yang menurut saya cukup menyentuh, terutama ketika hubungan antara Koh Afuk dan kedua anaknya mulai menemukan titik penyelesaian.
Salah satu bagian yang menurut saya cukup kuat adalah adegan rekonsiliasi di makam ibu Yohan dan Erwin.
Adegan tersebut tidak membutuhkan dialog yang terlalu berlebihan tetapi tetap mampu menyampaikan emosi yang cukup kuat.
Konflik Yohan dan Koh Afuk
Menurut saya hubungan antara Yohan dan Koh Afuk menjadi salah satu bagian terbaik dari film ini.
Yohan bukan hanya marah karena tidak mendapatkan toko. Masalah sebenarnya lebih dalam dari itu.
Yohan merasa dirinya tidak pernah benar-benar mendapatkan pengakuan dari ayahnya.
Selama ini Erwin selalu dianggap sebagai anak yang sukses, sedangkan Yohan sering dianggap sebagai anak yang tidak bertanggung jawab.
Padahal Yohan sendiri sebenarnya mempunyai perhatian besar terhadap keluarga.
Hal ini menurut saya cukup relate karena terkadang masalah dalam keluarga bukan muncul karena seseorang tidak sayang, tetapi karena cara menunjukkan rasa sayang tersebut berbeda.
Koh Afuk merasa dirinya sedang melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya, sementara Yohan melihat keputusan ayahnya sebagai bentuk ketidakadilan.
Disinilah menurut saya film ini berhasil menunjukkan bahwa dalam keluarga terkadang masalah bukan hanya tentang siapa yang benar atau siapa yang salah, tetapi tentang komunikasi yang tidak pernah benar-benar dilakukan.
Akting Pemain
Untuk bagian akting menurut saya para pemain di film ini cukup berhasil membawa karakter masing-masing.
Ernest Prakasa sebagai Erwin mampu membawa karakter seorang anak yang sedang berada di tengah konflik antara karier dan keluarga.
Gisella Anastasia sebagai Natalie juga cukup membantu memberikan warna pada cerita Erwin.
Namun menurut saya salah satu karakter yang cukup menarik adalah Yohan yang diperankan oleh Dion Wiyoko.
Karakter Yohan mempunyai emosi yang cukup kompleks. Dia bisa terlihat lucu di satu adegan, tetapi kemudian bisa berubah menjadi serius ketika membicarakan hubungannya dengan ayahnya.
Chew Kin Wah sebagai Koh Afuk juga menurut saya berhasil membawa karakter seorang ayah yang keras kepala tetapi sebenarnya menyimpan rasa sayang yang besar kepada keluarganya.
Akting para pemain inilah yang menurut saya membuat konflik keluarga di film ini terasa lebih hidup.
Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Cek Toko Sebelah
Kelebihan:
Cerita yang sangat relatable, terutama mengenai hubungan orang tua dan anak, ekspektasi keluarga dan pilihan hidup.
Pendalaman karakter yang cukup kuat, terutama Koh Afuk, Yohan dan Erwin. Masing-masing karakter mempunyai alasan sendiri dalam mengambil keputusan.
Komedi dan drama cukup seimbang, film ini tidak hanya berusaha membuat penonton tertawa tetapi juga memberikan beberapa adegan emosional yang cukup kuat.
Konflik keluarga terasa manusiawi, tidak ada karakter yang benar-benar dibuat sebagai penjahat. Bahkan keputusan yang terlihat salah dari satu sudut pandang ternyata mempunyai alasan dari sudut pandang karakter tersebut.
Pesan moralnya cukup kuat, film ini menunjukkan bahwa komunikasi dan penerimaan dalam keluarga terkadang jauh lebih penting daripada masalah materi atau kesuksesan seseorang.
Kekurangan:
Penyelesaian beberapa konflik terasa cukup cepat, terutama ketika film sudah masuk ke bagian akhir.
Konflik dengan pengembang properti terasa sedikit berbeda dari konflik utama, menurut saya bagian ini agak terlalu dramatis dibandingkan konflik keluarga yang sejak awal justru menjadi kekuatan utama film.
Perubahan sikap beberapa karakter terasa cukup cepat, terutama ketika masalah keluarga mulai menemukan penyelesaiannya.
Menurut saya kekurangan tersebut tidak sampai membuat filmnya menjadi buruk, tetapi memang ada beberapa bagian yang terasa bisa dibuat lebih perlahan agar perkembangan konfliknya terasa lebih natural.
Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?
Secara keseluruhan menurut saya Cek Toko Sebelah merupakan salah satu film keluarga Indonesia yang berhasil menggabungkan komedi dan drama dengan cukup baik.
Hal yang paling saya suka dari film ini adalah konfliknya yang sebenarnya sederhana tetapi bisa dibuat menjadi cerita yang cukup emosional.
Film ini bukan hanya bercerita mengenai sebuah toko sembako yang ingin diwariskan kepada anak, tetapi lebih kepada bagaimana sebuah keluarga menghadapi perbedaan keinginan, rasa kecewa, kemudian bagaimana setiap anggota keluarga mempunyai cara sendiri dalam menunjukkan rasa sayang.
Menurut saya karakter Koh Afuk, Yohan dan Erwin juga menjadi salah satu alasan kenapa film ini terasa cukup dekat dengan kehidupan nyata. Tidak ada karakter yang benar-benar sempurna. Semuanya mempunyai kesalahan, ego, keinginan dan alasan masing-masing.
Untuk kalian yang suka film keluarga dengan campuran komedi dan drama, menurut saya Cek Toko Sebelah cukup layak untuk ditonton.
Film ini juga cocok untuk kalian yang mungkin sedang berada dalam kondisi dimana keinginan pribadi harus berhadapan dengan keinginan keluarga, karena film ini cukup baik dalam menunjukkan bahwa sukses tidak selalu harus mengikuti satu jalan yang sama.
Kalau untuk rating pribadi dari saya, Cek Toko Sebelah saya kasih 8,5/10.
Bukan karena film ini sempurna, tetapi karena menurut saya film ini berhasil melakukan sesuatu yang cukup sulit, yaitu membuat penonton tertawa sekaligus membawa penonton memahami konflik keluarga yang sebenarnya sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dan menurut saya, penghargaan yang didapatkan film ini di Festival Film Indonesia 2017 juga cukup menggambarkan bagaimana film komedi keluarga bisa tetap mempunyai cerita dan drama yang kuat tanpa harus kehilangan sisi hiburannya.
