Review Film Alas Roban: Ketika Legenda Jalur Angker Pantura Dibawa ke Layar Lebar

Review Film Alas Roban: Ketika Legenda Jalur Angker Pantura Dibawa ke Layar Lebar

Alas Roban


Kalau membahas jalur Pantura yang mempunyai cerita mistis, mungkin nama Alas Roban menjadi salah satu tempat yang langsung terlintas di pikiran banyak orang.

Sejak dulu Alas Roban memang sudah cukup terkenal dengan berbagai macam cerita mengenai kejadian mistis, kecelakaan dan berbagai kisah horor yang berkembang di masyarakat.

Karena itu ketika saya mengetahui bahwa legenda mengenai Alas Roban akhirnya dibawa ke layar lebar, saya cukup penasaran seperti apa filmnya, bahkan pengalaman saya ketika ingin menonton film ini juga cukup menarik, karena saat saya datang ke NSC Demak kondisi bioskop ternyata begitu ramai dan saya sampai harus bolak balik sebanyak 2 kali hanya untuk mendapatkan tiket menonton film ini.

Apalagi film ini tidak hanya mencoba menjadikan Alas Roban sebagai latar tempat, tetapi juga memasukkan berbagai macam unsur mitos lokal, ritual dan cerita mengenai dunia gaib ke dalam ceritanya.

Setelah menonton film ini, menurut saya Alas Roban mempunyai premis yang sebenarnya cukup menarik.

Tetapi sayangnya, ada beberapa bagian dari film ini yang membuat saya merasa bahwa eksekusinya masih belum maksimal.

Film ini mempunyai cerita yang cukup emosional mengenai hubungan seorang ibu dengan anaknya, tetapi di sisi lain ada beberapa bagian yang justru membuat saya mempertanyakan logika dari keputusan para karakternya.

Sinopsis Singkat: Alas Roban

Film Alas Roban bercerita mengenai seorang janda bernama Sita yang melakukan perjalanan bersama putrinya, Gendis.

Dalam perjalanan menuju Semarang, bus yang mereka tumpangi mengalami masalah dan akhirnya harus berhenti di kawasan Alas Roban.

Dari sinilah masalah mulai muncul.

Sita kemudian mengajak Gendis menuju sebuah warung yang berada di tengah hutan.

Awalnya mungkin terlihat seperti sebuah warung biasa, tetapi ternyata tempat tersebut merupakan warung gaib yang kemudian menjadi awal mula dari berbagai kejadian mistis yang dialami Gendis.

Setelah kejadian tersebut, Gendis mulai menunjukkan perilaku aneh dan beberapa kali mengalami kesurupan.

Ternyata gangguan tersebut berhubungan dengan sosok Dewi Raras yang dikenal sebagai salah satu roh penguasa Alas Roban.

Sita yang tentu saja tidak ingin kehilangan putrinya kemudian berusaha mencari bantuan dari orang-orang yang memahami dunia mistis.

Ia bertemu dengan beberapa orang seperti Mbok Yem dan Mbah Sakti yang kemudian membantu Sita melakukan ritual untuk membebaskan sukma Gendis yang terjebak di dimensi lain.

Dan ternyata masalahnya tidak sesederhana itu.

Dewi Raras sebenarnya menginginkan jiwa Sita.

Pada akhirnya Sita harus mengorbankan dirinya sendiri agar Gendis bisa selamat dan kembali ke dunia nyata.

Film kemudian ditutup dengan kematian Sita, sementara Gendis akhirnya bisa kembali melihat dengan jelas setelah menjalani operasi katarak.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Premis Alas Roban Sebenarnya Cukup Menarik

Menurut saya salah satu hal yang membuat film ini menarik dari awal adalah pemilihan Alas Roban sebagai latar ceritanya.

Alas Roban sendiri sudah mempunyai reputasi sebagai salah satu jalur yang banyak dikaitkan dengan cerita mistis di masyarakat.

Jadi ketika legenda tersebut kemudian dijadikan sebuah film horor, sebenarnya bahan ceritanya sudah cukup menarik.

Film ini juga tidak hanya mengandalkan jumpscare atau sosok hantu saja.

Ada unsur ritual, mitos lokal sampai cerita mengenai dimensi lain yang dimasukkan ke dalam film.

Buat saya, bagian seperti ini justru cukup menarik karena membuat film terasa seperti mencoba mengangkat horor yang berasal dari cerita rakyat dan kepercayaan lokal.

Apalagi ketika cerita mengenai Dewi Raras mulai dijelaskan, kita bisa melihat bahwa film ini memang ingin membangun sebuah mitologi sendiri di balik Alas Roban.

Walaupun eksekusinya masih mempunyai beberapa kekurangan, menurut saya premis dasarnya sebenarnya cukup potensial.

Unsur Ritual dan Mitos Lokal Cukup Menarik

Salah satu bagian yang menurut saya cukup menarik adalah ketika film mulai masuk ke bagian ritual dan dunia mistis.

Ada beberapa karakter yang memang memahami dunia gaib dan kemudian membantu Sita untuk mencari cara agar Gendis bisa diselamatkan.

Bagian ini membuat film terasa lebih seperti folk horror dibandingkan sekadar film horor yang hanya mengandalkan penampakan hantu.

Saya pribadi cukup suka ketika film horor Indonesia mencoba menggunakan cerita atau mitos lokal sebagai bagian penting dari ceritanya.

Karena sebenarnya Indonesia mempunyai banyak sekali cerita rakyat dan kepercayaan lokal yang bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat cerita horor.

Dan menurut saya Alas Roban mempunyai potensi yang cukup besar untuk itu.

Hanya saja, saya merasa bagian ini masih bisa dibuat jauh lebih dalam.

Cerita Tentang Pengorbanan Seorang Ibu Cukup Emosional

Kalau ada satu bagian yang menurut saya cukup berhasil dari sisi emosional, mungkin adalah hubungan antara Sita dan Gendis.

Dari awal kita bisa melihat bahwa Sita berusaha melakukan berbagai macam cara untuk menyelamatkan putrinya.

Sampai pada akhirnya Sita mengetahui bahwa satu-satunya cara agar Gendis bisa selamat adalah dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Menurut saya bagian ini cukup memberikan bobot emosional pada film.

Karena pada akhirnya cerita film ini bukan hanya mengenai hantu atau teror yang terjadi di Alas Roban, tetapi juga mengenai seorang ibu yang rela mengorbankan dirinya demi anaknya.

Walaupun akhir ceritanya cukup tragis, menurut saya bagian ini menjadi salah satu alasan kenapa film masih mempunyai sisi emosional yang cukup terasa.

Efek Visual dan Green Screen Masih Menjadi Catatan

Nah, kalau dari sisi teknis justru ini salah satu bagian yang cukup saya sayangkan.

Ada beberapa adegan yang menggunakan efek visual dan green screen yang menurut saya masih terasa kurang halus.

Beberapa visual justru membuat saya sedikit kehilangan suasana horornya karena efek yang digunakan terlihat kurang menyatu dengan adegannya.

Menurut saya untuk film horor, atmosfer merupakan salah satu bagian yang cukup penting.

Ketika efek visual terlihat terlalu jelas atau terasa seperti efek buatan, rasa takut yang seharusnya muncul justru bisa berkurang.

Ada beberapa bagian dimana saya malah lebih fokus melihat bagaimana efek tersebut dibuat dibandingkan merasa takut dengan apa yang sedang terjadi di layar.

Tapi balik lagi, masalah efek visual memang bisa berbeda bagi setiap penonton.

Mungkin ada penonton yang tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut selama ceritanya masih bisa dinikmati.

Namun untuk saya pribadi, beberapa efek visual di film ini cukup terasa dan menjadi salah satu kekurangannya.

Logika Cerita Kadang Membuat Saya Bertanya Tanya

Selain masalah teknis, hal lain yang cukup saya rasakan adalah mengenai keputusan para karakter di dalam cerita.

Ada beberapa situasi dimana saya justru bertanya-tanya, kenapa karakter tersebut melakukan hal itu?

Bukan berarti semua keputusan karakternya tidak masuk akal, tetapi ada beberapa bagian yang menurut saya terasa kurang meyakinkan.

Apalagi ketika sedang menonton film horor, biasanya penonton memang akan mencoba memahami alasan dari setiap tindakan karakter.

Ketika keputusan yang diambil terasa kurang logis, akhirnya saya justru lebih sibuk mempertanyakan tindakan karakter dibandingkan menikmati ketegangan yang sedang dibangun.

Ini cukup disayangkan karena sebenarnya premis filmnya sendiri sudah mempunyai potensi yang menarik.

Menurut saya kalau bagian ini bisa dibuat lebih rapi, pengalaman menontonnya mungkin akan terasa lebih kuat.

Filmnya Lebih Menarik Dari Premis Daripada Eksekusinya

Kalau saya boleh jujur, setelah selesai menonton film ini saya merasa bahwa premis Alas Roban sebenarnya lebih menarik dibandingkan eksekusinya.

Ide mengenai jalur angker Pantura, warung gaib, Dewi Raras, ritual dan pengorbanan seorang ibu sebenarnya mempunyai bahan cerita yang cukup banyak.

Tetapi ketika semuanya dimasukkan ke dalam film, ada beberapa bagian yang menurut saya belum terasa maksimal.

Saya bisa melihat apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini.

Ada unsur horor, mitos lokal, drama keluarga dan pengorbanan seorang ibu.

Namun beberapa elemen tersebut terkadang terasa belum menyatu dengan sempurna.

Jadi buat saya film ini bukan film yang tidak mempunyai ide menarik.

Justru sebaliknya, idenya cukup menarik.

Hanya saja saya merasa masih ada jarak antara potensi cerita dengan hasil akhirnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Alas Roban

Kelebihan:

1. Premisnya cukup menarik

Penggunaan legenda Alas Roban sebagai dasar cerita menurut saya merupakan salah satu daya tarik terbesar film ini.

Alas Roban sendiri sudah dikenal luas dengan berbagai cerita mistis sehingga cukup menarik ketika legenda tersebut kemudian dijadikan sebuah film horor.

2. Unsur mitos dan ritual lokal cukup terasa

Film ini tidak hanya mengandalkan hantu dan jumpscare.

Ada juga unsur ritual, dunia gaib dan mitos lokal yang membuat nuansa folk horror-nya cukup terasa.

3. Mempunyai sisi emosional

Hubungan antara Sita dan Gendis menjadi salah satu bagian yang cukup menarik.

Pengorbanan Sita demi menyelamatkan putrinya memberikan sisi emosional yang membuat film ini tidak hanya berbicara mengenai horor.

Kekurangan:

1. Efek visual dan green screen kurang halus

Ada beberapa adegan yang menurut saya efek visualnya masih terasa kurang natural.

Hal ini cukup mengganggu atmosfer horor yang sebenarnya sedang dibangun.

2. Beberapa keputusan karakter terasa kurang logis

Ada beberapa bagian dimana tindakan karakter membuat saya bertanya-tanya mengenai alasan mereka mengambil keputusan tersebut.

Menurut saya bagian ini membuat alurnya terasa kurang meyakinkan.

3. Eksekusi ceritanya belum maksimal

Premis film sebenarnya cukup menarik, tetapi saya merasa beberapa ide yang ada belum dieksekusi dengan maksimal.

Ada banyak potensi dari cerita Alas Roban yang sebenarnya masih bisa dikembangkan lebih jauh.

Kesimpulan: Layak Ditonton Atau Lewati Saja?

Secara pribadi setelah selesai menonton Alas Roban, saya merasa film ini mempunyai ide yang cukup menarik tetapi masih mempunyai beberapa kekurangan dalam eksekusinya.

Saya cukup suka dengan bagaimana film ini mencoba menggunakan legenda lokal sebagai dasar cerita.

Apalagi unsur ritual dan cerita mengenai Dewi Raras membuat film terasa mempunyai dunia mistisnya sendiri.

Tetapi di sisi lain, beberapa efek visual yang kurang halus dan keputusan karakter yang terkadang membuat saya bertanya-tanya cukup mengurangi pengalaman menontonnya.

Kalau kalian memang suka film horor Indonesia yang mengangkat mitos lokal, menurut saya film ini masih bisa dicoba.

Apalagi kalau kalian memang penasaran dengan bagaimana legenda Alas Roban diterjemahkan menjadi sebuah cerita film.

Tapi kalau kalian datang dengan ekspetasi ingin mendapatkan film horor dengan visual yang sangat rapi, cerita yang sangat logis dan eksekusi yang sempurna, mungkin kalian akan menemukan beberapa bagian yang terasa kurang.

Untuk saya pribadi, Alas Roban masih menjadi film yang cukup menarik karena premisnya.

Saya justru merasa bahwa potensi terbesar film ini ada pada cerita mengenai Alas Roban itu sendiri.

Sayangnya, setelah selesai menonton, saya merasa masih ada beberapa bagian yang sebenarnya bisa dibuat lebih baik.

Untuk rating IMDb sendiri saat saya melihatnya berada di angka 5,2/10.

Menurut saya angka tersebut juga masih bisa berubah karena filmnya masih relatif baru dan jumlah penonton yang memberikan rating bisa saja terus bertambah.

Jadi untuk saya pribadi, Alas Roban lebih cocok sebagai tontonan bagi kalian yang penasaran dengan cerita horor berlatar mitos lokal dan ingin melihat bagaimana legenda salah satu jalur paling terkenal di Pantura tersebut dibawa ke layar lebar.