Review Film Train to Busan (2016): Bukan Sekadar Film Zombie, Tapi Juga Tentang Kemanusiaan

Review Film Train to Busan (2016): Bukan Sekadar Film Zombie, Tapi Juga Tentang Kemanusiaan

 

Train to Busan


Jujur, kalau membicarakan film zombie, mungkin sebagian besar dari kita langsung membayangkan manusia yang terinfeksi virus, kota yang dipenuhi kekacauan, dan sekelompok orang yang harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Hari ini saya berkunjung kerumahnya saudara saya, ternyata rumahnya deket dengan NSC Demak, sekalian saja saya mencoba menonton salah satu film yang ada di sana, pilihan jatuh pada film Train to Busan.

Konsep seperti ini sebenarnya sudah cukup sering digunakan dalam berbagai film. Jadi, menurut saya, tantangan terbesar dari sebuah film zombie bukan cuma bagaimana cara membuat zombienya terlihat menyeramkan, tetapi juga bagaimana membuat ceritanya terasa menarik dan tidak sekadar mengulang formula yang sama.

Film asal Korea Selatan ini menceritakan wabah zombie yang menyebar dengan cepat dan membuat sekelompok penumpang kereta harus berjuang untuk menyelamatkan diri. Premisnya memang terdengar sederhana, tetapi ada satu hal yang membuat film ini cukup berbeda dari film zombie pada umumnya.

Bagaimana jadinya kalau kita sedang berada di dalam kereta yang melaju menuju tujuan, tetapi di saat yang sama, gerbong demi gerbong mulai dipenuhi zombie? Mau turun tidak bisa sembarangan, sementara tetap berada di dalam kereta juga bukan pilihan yang aman.

Menurut saya, ide seperti ini punya potensi besar untuk menciptakan ketegangan. Apalagi, kereta merupakan tempat yang cukup terbatas, dengan banyak penumpang yang tidak saling mengenal dan ruang gerak yang semakin sempit ketika situasi mulai kacau.

Tapi, apakah Train to Busan hanya mengandalkan adegan zombie yang menyerang penumpang, atau justru punya sesuatu yang lebih menarik untuk ditawarkan?

Sinopsis Singkat: Train to Busan

Train to Busan berkisah tentang Seok-woo (Gong Yoo), seorang manajer keuangan yang memutuskan untuk mengantarkan putrinya, Su-an, ke Busan agar bisa bertemu dengan ibunya.

Awalnya, perjalanan menggunakan kereta cepat KTX tersebut terlihat seperti perjalanan biasa.

Situasi pun berubah menjadi kacau ketika wanita tersebut mulai berubah menjadi zombie dan menyerang penumpang lain. Infeksi menyebar dengan cepat, membuat para penumpang harus berjuang menyelamatkan diri di tengah perjalanan yang semakin berbahaya.

Seok-woo dan Su-an bukan satu-satunya orang yang berusaha bertahan hidup. Mereka juga bertemu dengan penumpang lain, termasuk Sang-hwa (Ma Dong-seok), seorang pria tangguh yang berusaha melindungi istrinya yang sedang hamil.

Di tengah perjalanan, mereka harus melewati gerbong-gerbong yang dipenuhi zombie demi menemukan tempat yang lebih aman.

Ketakutan, egoisme, dan keinginan untuk menyelamatkan diri sendiri juga menjadi masalah besar.

Pada akhirnya, perjalanan menuju Busan bukan sekadar perjuangan untuk bertahan hidup dari wabah zombie, tetapi juga menjadi ujian bagi kemanusiaan, pengorbanan, dan hubungan antara orang-orang yang terjebak dalam situasi yang sama.

POV: Kenapa Train to Busan Bisa Menjadi Film Zombie yang Begitu Menarik?

1. Premisnya Sederhana, Tapi Berhasil Membuat Situasi Terasa Mencekam

Kalau melihat premisnya, sebenarnya Train to Busan tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar asing dalam genre zombie. Wabah virus, manusia yang berubah menjadi zombie, dan sekelompok orang yang berusaha bertahan hidup merupakan konsep yang sudah cukup sering digunakan.

Namun, menurut saya, pemilihan kereta cepat sebagai latar utama menjadi salah satu keputusan yang membuat film ini menarik.

Kita tidak bisa begitu saja keluar dari kereta, apalagi ketika situasi di luar juga belum tentu aman. Sementara itu, semakin lama kita berada di dalam gerbong, semakin besar pula kemungkinan untuk bertemu dengan orang yang sudah terinfeksi.

Menurut saya, kondisi seperti ini bisa menciptakan rasa terjebak yang cukup kuat.

Berbeda dengan film zombie yang berlatar di kota terbuka, karakter dalam Train to Busan harus memikirkan cara untuk melewati ruang yang terbatas. Mereka juga tidak bisa terus-menerus berlari karena pada akhirnya harus menghadapi zombie yang menghalangi jalan.

Buat saya, inilah salah satu kekuatan terbesar dari premis Train to Busan. Film ini tidak harus terus-menerus menghadirkan lokasi baru untuk menciptakan ketegangan, karena tempat yang sama saja sudah bisa menjadi ancaman ketika situasinya berubah.

2. Bukan Cuma Tentang Zombie, Tapi Juga Tentang Sifat Manusia

Kalau dipikir-pikir, dalam situasi yang mengancam nyawa, manusia pasti akan berusaha mencari cara untuk menyelamatkan diri. Namun, masalahnya adalah tidak semua orang memiliki cara berpikir yang sama ketika dihadapkan dengan keadaan seperti itu.

Menurut saya, konflik seperti ini menarik karena membuat ancaman dalam film terasa lebih luas daripada sekadar serangan zombie.

Situasi seperti itu membuat kita bisa mempertanyakan siapa sebenarnya yang lebih berbahaya dalam keadaan darurat.

Film ini juga memperlihatkan bagaimana rasa takut dapat memengaruhi keputusan seseorang. Ketika keselamatan diri menjadi prioritas utama, sebagian orang bisa kehilangan rasa empati dan mengabaikan keadaan orang lain.

3. Hubungan Ayah dan Anak Menjadi Salah Satu Kekuatan Ceritanya

Kalau membicarakan Train to Busan, rasanya kurang lengkap kalau tidak membahas hubungan antara Seok-woo dan Su-an.

 Hubungannya dengan sang anak juga tidak bisa dibilang ideal, terutama ketika kita melihat bagaimana ia menjalani kehidupan sehari-harinya.

Namun, situasi wabah zombie membuat keadaan berubah.

Ketika keselamatan putrinya mulai terancam, Seok-woo harus menghadapi situasi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan logika atau kepentingannya sendiri.

Menurut saya, kondisi seperti ini memberikan ruang bagi perkembangan karakter yang menarik. Seok-woo bukan hanya harus memikirkan bagaimana cara bertahan hidup, tetapi juga bagaimana memastikan putrinya tetap aman di tengah kekacauan.

Di sinilah hubungan ayah dan anak menjadi bagian penting dari cerita.

Film ini menunjukkan bahwa dalam situasi yang penuh ancaman, sesuatu yang sebelumnya dianggap biasa justru bisa menjadi hal yang paling berharga.

Saya juga melihat bahwa perjuangan Seok-woo tidak hanya berkaitan dengan keselamatan fisik. Ada perubahan dalam cara ia memandang tanggung jawabnya sebagai seorang ayah.

Hal seperti ini membuat konflik dalam Train to Busan terasa lebih personal. Penonton tidak hanya melihat seseorang yang berusaha bertahan hidup dari serangan zombie, tetapi juga seorang ayah yang harus menghadapi kenyataan bahwa keselamatan anaknya bergantung pada keputusan yang ia ambil.

Menurut saya, inilah salah satu alasan mengapa film ini bisa memberikan dampak emosional yang lebih kuat dibandingkan film zombie yang hanya mengandalkan adegan aksi.

4. Karakter Pendukungnya Juga Punya Peran Penting

Selain Seok-woo dan Su-an, ada juga karakter Sang-hwa yang diperankan oleh Ma Dong-seok.

Sang-hwa merupakan sosok yang berusaha melindungi istrinya yang sedang hamil. Kehadirannya memberikan warna tersendiri di tengah situasi yang semakin kacau.

Menurut saya, karakter seperti Sang-hwa cukup penting dalam film bertema bertahan hidup. Sebab, ketika semua orang berada dalam situasi berbahaya, kita membutuhkan karakter yang tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

Keberaniannya juga menjadi kontras dengan karakter-karakter yang lebih mementingkan kepentingan pribadi.

Di sisi lain, keberadaan istrinya yang sedang hamil membuat perjuangan mereka terasa memiliki taruhan yang lebih besar. Mereka bukan hanya berusaha menyelamatkan diri, tetapi juga memikirkan keselamatan keluarga yang sedang mereka bangun.

Namun, menurut saya, karakter pendukung dalam film seperti ini memang memiliki risiko tersendiri. Ketika cerita ingin membuat penonton merasa sedih atau tegang, beberapa karakter bisa saja ditempatkan dalam situasi yang sengaja dibuat untuk memancing emosi.

Bagi sebagian penonton, pendekatan seperti ini mungkin terasa klise. Akan tetapi, selama konflik yang dibangun masih terasa masuk akal dan memiliki dampak terhadap cerita, keberadaan karakter pendukung tetap bisa memperkuat pengalaman menonton.

5. Ketegangannya Tidak Hanya Berasal dari Jumpscare

Salah satu hal yang membuat film zombie menarik adalah bagaimana film tersebut membangun rasa takut.

Namun, menurut saya, rasa takut tidak selalu harus datang dari kemunculan zombie secara tiba-tiba. Terkadang, situasi ketika karakter harus melewati tempat yang berbahaya tanpa mengetahui apa yang menunggu di depan justru bisa terasa lebih menegangkan.

Hal seperti ini menjadi salah satu potensi terbesar dari latar kereta dalam Train to Busan.

Setiap gerbong bisa menghadirkan ancaman yang berbeda. Karakter harus mempertimbangkan kapan mereka bisa bergerak, kapan harus bersembunyi, dan bagaimana cara melewati zombie tanpa membuat situasi semakin buruk.

Selain itu, ruang yang terbatas juga membuat pilihan mereka terasa lebih sulit. Mereka tidak memiliki banyak tempat untuk melarikan diri, sementara kesalahan kecil bisa membuat keadaan berubah menjadi lebih berbahaya.

Menurut saya, penyutradaraan Yeon Sang-ho berhasil memanfaatkan konsep tersebut untuk membangun ketegangan sekaligus memberi ruang bagi konflik antarkarakter.

Film ini juga tidak hanya mengandalkan aksi terus-menerus. Momen yang lebih tenang dapat memberikan kesempatan bagi penonton untuk memahami situasi dan hubungan antartokohnya sebelum konflik kembali meningkat.

Buat saya, perpaduan antara aksi, ketegangan, dan drama seperti ini membuat film zombie terasa lebih lengkap.

6. Apakah Film Ini Benar-Benar Tanpa Kekurangan?

Meskipun Train to Busan mendapat banyak pujian, menurut saya bukan berarti film ini tidak memiliki kekurangan.

Salah satu hal yang mungkin terasa cukup familiar adalah pola ceritanya. Dalam film bencana atau survival, biasanya akan ada karakter yang berusaha menyelamatkan kelompoknya, karakter yang mengutamakan keselamatan diri sendiri, dan berbagai pengorbanan yang terjadi sepanjang perjalanan.

Bagi penonton yang sudah sering menonton film dengan formula seperti ini, beberapa bagian ceritanya mungkin tidak terasa terlalu mengejutkan.

Selain itu, ada juga karakter yang tindakannya digambarkan sangat egois sehingga terkesan terlalu berlebihan. Memang, keputusan seperti itu bisa digunakan untuk memperlihatkan sisi buruk manusia ketika menghadapi krisis, tetapi bagi sebagian penonton, penggambarannya mungkin terasa kurang alami.

Perpindahan antara adegan aksi yang intens dan momen emosional juga bisa terasa cukup kontras bagi orang yang lebih menyukai film zombie dengan tempo cepat dari awal sampai akhir.

Namun, menurut saya, kekurangan seperti ini perlu dilihat bersama dengan keseluruhan cerita yang ingin disampaikan.

Sebuah film tidak harus selalu menawarkan alur yang benar-benar baru untuk bisa menarik. Terkadang, hal yang lebih penting adalah bagaimana cerita tersebut menggunakan elemen yang sudah dikenal untuk membangun pengalaman menonton yang tetap berkesan.

Dan dalam kasus Train to Busan, perpaduan antara ancaman zombie, hubungan keluarga, serta konflik antarmanusia menjadi bagian penting dari daya tariknya.

Kelebihan dan Kekurangan dari Film Train to Busan

Kelebihan:

  • Premis wabah zombie di dalam kereta cepat berhasil menciptakan situasi yang terasa sempit, berbahaya, dan menegangkan.
  • Hubungan antara Seok-woo dan Su-an memberikan sisi emosional yang memperkuat cerita.
  • Karakter seperti Sang-hwa menambah dinamika dan memperlihatkan keberanian untuk melindungi orang lain.
  • Film tidak hanya mengandalkan zombie, tetapi juga menghadirkan konflik tentang egoisme, solidaritas, dan kemanusiaan.
  • Adegan aksi dan efek zombie mendukung suasana mencekam sepanjang perjalanan.
  • Perpaduan horor, thriller, dan drama keluarga membuat film ini memiliki daya tarik yang lebih luas.

Kekurangan:

  • Beberapa bagian cerita masih mengikuti formula film bencana dan survival yang cukup familiar.
  • Karakter tertentu digambarkan terlalu egois sehingga terkesan satu dimensi.
  • Beberapa momen emosional mungkin terasa sengaja diarahkan untuk memancing kesedihan penonton.
  • Perubahan tempo antara adegan aksi dan drama bisa terasa kontras bagi penonton yang lebih menyukai ketegangan tanpa banyak jeda.

Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah Train to Busan layak ditonton atau justru tidak perlu masuk ke daftar tontonan kalian?

Menurut saya, film ini layak mendapatkan perhatian, terutama buat kalian yang menyukai film zombie dengan cerita yang tidak hanya berfokus pada aksi dan kekerasan.

Salah satu hal yang membuat Train to Busan menarik adalah bagaimana film ini memanfaatkan situasi wabah untuk memperlihatkan berbagai sisi manusia. Ada yang rela mengambil risiko demi melindungi orang lain, ada yang berusaha bertahan hidup bersama keluarganya, dan ada juga yang justru mengutamakan keselamatan diri sendiri tanpa memikirkan akibatnya bagi orang lain.

Selain itu, hubungan antara Seok-woo dan Su-an memberikan lapisan emosional yang membuat perjuangan mereka terasa lebih personal.

Menurut saya, hal seperti ini penting dalam film bertema survival. Sebab, penonton tidak hanya membutuhkan ancaman yang bisa membuat mereka tegang, tetapi juga alasan untuk peduli terhadap karakter yang sedang menghadapi ancaman tersebut.

Memang, beberapa elemen ceritanya masih mengikuti formula yang cukup umum dalam film bencana. Namun, hal itu tidak serta-merta menghilangkan daya tarik film ini.

Train to Busan tetap memiliki kombinasi yang menarik antara ketegangan, aksi, konflik sosial, dan drama keluarga. Film ini juga memperlihatkan bahwa di tengah situasi yang mengancam nyawa, ancaman terbesar tidak selalu datang dari makhluk yang sudah kehilangan kemanusiaannya.

Terkadang, justru keputusan manusia yang masih hiduplah yang membuat keadaan semakin buruk.

Jadi, kalau kalian sedang mencari film zombie yang bukan cuma menawarkan adegan kejar-kejaran dan manusia yang berusaha menyelamatkan diri, menurut saya Train to Busan bisa menjadi pilihan yang tepat.

Film ini bukan sekadar tentang perjalanan menuju Busan, tetapi juga tentang pengorbanan, tanggung jawab, dan bagaimana seseorang memilih untuk bertindak ketika keselamatan orang lain ikut dipertaruhkan.

Buat saya, konsep seperti inilah yang membuat sebuah film zombie bisa terasa lebih dari sekadar tontonan horor. Di IMDb, film ini tercatat memiliki reting 7.6/10.

Kesimpulannya, Train to Busan layak ditonton. Bukan hanya karena zombienya yang mengancam atau adegan aksinya yang menegangkan, tetapi juga karena cerita kemanusiaan yang menjadi bagian penting dari perjalanan para karakternya.

Review Film Review Pengabdi Setan (2017): Remake yang Berhasil Melampaui Bayang-Bayang Versi Klasiknya

Review Film Review Pengabdi Setan (2017): Remake yang Berhasil Melampaui Bayang-Bayang Versi Klasiknya

Pengabdi Setan


Film horor Indonesia memang sudah cukup banyak dibuat, tetapi ada beberapa judul yang menurut saya mempunyai posisi cukup spesial karena bukan hanya berhasil membuat penonton takut, tetapi juga berhasil menjadi pembicaraan banyak orang.

Salah satunya adalah Pengabdi Setan.

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya yang saya tonton di bioskop, kali ini saya menonton Pengabdi Setan langsung dari rumah melalui Netflix bersama pasangan saya.

Film yang disutradarai oleh Joko Anwar ini sebenarnya merupakan remake dari film dengan judul yang sama yang dirilis pada tahun 1980-an. Karena itu menurut saya ada beban tersendiri ketika film ini dibuat ulang.

Apalagi film versi klasiknya sendiri sudah cukup dikenal oleh penonton Indonesia.

Saya sendiri akhirnya mencoba menonton Pengabdi Setan (2017) karena memang penasaran dengan film yang cukup sering disebut sebagai salah satu film horor Indonesia yang berhasil mendapatkan perhatian besar dari penonton.

Ditambah lagi setelah melihat Pengabdi Setan 2, saya justru semakin penasaran dengan film pertamanya.

Karena kalau boleh jujur, setelah menonton sekuelnya saya merasa Pengabdi Setan 2 mempunyai kualitas yang jauh lebih menarik dibandingkan film pertamanya, terutama dari sisi akting dan bagaimana cerita tersebut dieksekusi.

Jadi ketika akhirnya kembali menonton film pertamanya, ekspektasi saya sebenarnya cukup tinggi.

Tapi setelah selesai menonton, menurut saya film ini tidak sebaik yang saya bayangkan.

Bukan berarti Pengabdi Setan (2017) merupakan film yang jelek.

Justru ada beberapa hal yang menurut saya sangat bagus dan menjadi alasan kenapa film ini tetap menarik untuk ditonton.

Tapi kalau dibandingkan dengan hype yang dimiliki film ini dan bagaimana saya melihat kualitas sekuelnya, saya pribadi merasa film pertama ini masih mempunyai beberapa masalah yang cukup terasa.

Sinopsis Singkat: Pengabdi Setan

Pengabdi Setan bercerita mengenai sebuah keluarga yang hidup bersama seorang ibu yang sudah lama menderita sakit.

Setelah sang ibu meninggal dunia, berbagai kejadian aneh mulai terjadi di rumah tersebut.

Rini dan keluarganya kemudian mulai mengalami berbagai macam kejadian yang berhubungan dengan sosok ibu mereka.

Masalahnya semakin rumit ketika berbagai kejadian supernatural mulai mengganggu keluarga tersebut.

Dari sini kemudian film membawa penonton untuk mengikuti bagaimana keluarga Rini mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa hubungan kematian sang ibu dengan berbagai kejadian yang mereka alami.

Secara konsep sebenarnya cukup menarik.

Apalagi film ini mempunyai atmosfer rumah tua yang menurut saya memang sangat cocok untuk film horor.

Rumah, kamar, lorong dan berbagai sudut gelap yang digunakan dalam film juga membuat suasananya terasa cukup kuat.

Tapi masalahnya menurut saya bukan berada pada konsep dasarnya.

Justru beberapa masalah muncul ketika cerita mulai berjalan dan beberapa kejadian terasa seperti muncul hanya karena memang dibutuhkan oleh cerita.

POV: Opini Jujur dan Hal-Hal Yang Menarik Dari Pengabdi Setan

Atmosfer Horornya Masih Menjadi Salah Satu Kelebihan Terbesar

Kalau membahas Pengabdi Setan, menurut saya kita tidak bisa mengabaikan bagaimana film ini membangun atmosfer horornya.

Dari awal film sudah terasa bahwa rumah yang menjadi tempat tinggal keluarga Rini memang mempunyai suasana yang tidak nyaman.

Bukan hanya karena ada sosok hantu atau adegan jumpscare, tetapi karena lingkungan rumahnya sendiri sudah terasa menyeramkan.

Beberapa ruangan yang gelap, suara-suara yang muncul dan bagaimana kamera memperlihatkan bagian tertentu dari rumah membuat saya cukup sering merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya ada di belakang karakter.

Menurut saya bagian seperti ini justru lebih menarik dibandingkan ketika film hanya mengandalkan jumpscare.

Karena ketika penonton dibuat memperhatikan latar belakang atau sudut ruangan, ada rasa penasaran apakah memang ada sesuatu di sana atau tidak.

Dan film ini cukup sering memainkan hal tersebut.

Detail Horornya Menurut Saya Cukup Bagus

Nah ini salah satu bagian yang menurut saya cukup menarik.

Saya sangat suka bagaimana film ini menggunakan berbagai detail horor yang terasa lebih nyata.

Salah satu contohnya adalah penggunaan lalat.

Memang terdengar seperti hal kecil, tetapi menurut saya detail seperti ini justru membuat adegan tertentu terasa lebih menjijikkan dan tidak nyaman.

Penggunaan properti nyata dibandingkan terlalu banyak mengandalkan CGI membuat beberapa bagian terasa lebih otentik.

Apalagi ketika melihat detail lalat tersebut, rasanya memang seperti melihat sesuatu yang benar-benar ada di dalam situasi tersebut.

Buat saya hal seperti ini cukup penting dalam film horor.

Karena terkadang sesuatu yang sederhana justru bisa memberikan rasa tidak nyaman yang lebih kuat dibandingkan efek CGI yang terlalu berlebihan.


Hidden Jump Scare Yang Cukup Menarik

Selain detail horornya, ada juga beberapa teknik jumpscare yang menurut saya cukup bagus.

Salah satunya adalah ketika film menempatkan sesuatu di latar belakang tanpa langsung membuat penonton menyadarinya.

Misalnya ketika ada bayangan Bondi di kamar ibu.

Adegan seperti ini menurut saya lebih menarik karena penonton tidak selalu diberikan tanda bahwa sesuatu akan muncul.

Jadi kita bisa saja sedang memperhatikan karakter di depan layar, tetapi ternyata ada sesuatu yang bergerak atau muncul di bagian belakang.

Menurut saya teknik seperti ini cukup efektif.

Karena penonton tidak hanya menunggu suara keras atau sesuatu yang tiba-tiba muncul di depan kamera.

Justru kita dibuat sedikit curiga dengan setiap sudut frame.

Dan menurut saya teknik hidden jump scare seperti ini menjadi salah satu hal yang cukup saya suka dari film ini.


Tapi Masalahnya Ada di Konsistensi Cerita

Nah, kalau dari sisi cerita saya justru mempunyai cukup banyak masalah.

Salah satu yang cukup mengganggu adalah beberapa kejadian yang menurut saya terasa kurang konsisten.

Contohnya adalah kondisi Bondi yang mengalami kerasukan.

Ada beberapa bagian dimana kondisinya seperti menjadi sangat penting, tetapi kemudian keadaan tersebut bisa berubah dan tidak selalu mendapatkan penjelasan yang menurut saya cukup kuat.

Saya jadi beberapa kali bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan karakter tersebut.

Hal yang sama juga saya rasakan terhadap kursi roda.

Di satu sisi kursi roda digunakan sebagai bagian yang membuat suasana menjadi menyeramkan.

Tapi di bagian lain benda tersebut justru seperti menjadi sesuatu yang membantu atau bahkan menyelamatkan karakter.

Buat saya perubahan fungsi seperti ini terasa cukup membingungkan.

Mungkin sebenarnya ada penjelasan tertentu di dalam cerita yang bisa membuat semuanya masuk akal.

Tapi ketika saya menontonnya, saya pribadi merasa beberapa bagian tersebut belum dijelaskan dengan cukup baik.


Ada Beberapa Kejadian Yang Terasa Hanya Karena Kebutuhan Plot

Selain masalah konsistensi, saya juga merasa ada beberapa kejadian yang seperti muncul hanya karena cerita membutuhkan karakter tersebut untuk muncul.

Salah satunya adalah Budiman.

Kemunculan Budiman di saat yang cukup krusial menurut saya memang membantu cerita untuk bergerak ke arah berikutnya.

Tapi yang membuat saya bertanya-tanya adalah bagaimana sebenarnya dia bisa mengetahui kondisi keluarga Rini dan bagaimana dia bisa mengetahui lokasi mereka.

Karena film tidak memberikan penjelasan yang menurut saya cukup jelas mengenai hal tersebut.

Jadi ketika karakter tersebut tiba-tiba muncul dan kemudian memberikan informasi penting, saya justru merasa seperti sedang melihat sebuah karakter yang dimunculkan karena memang cerita membutuhkan seseorang untuk menjelaskan sesuatu.

Menurut saya ini yang membuat beberapa bagian cerita terasa kurang natural.

Bukan berarti keberadaan karakternya tidak penting.

Tetapi cara memasukkannya ke dalam cerita menurut saya masih terasa agak dipaksakan.


Dialognya Menurut Saya Terlalu Baku

Satu hal lain yang cukup saya perhatikan adalah dialog para karakternya.

Karena film ini mengambil latar waktu tahun 1981, saya sebenarnya berharap dialog yang digunakan bisa terasa lebih natural dan sesuai dengan periode tersebut.

Tapi beberapa dialog menurut saya justru terasa cukup baku.

Kadang saya merasa seperti sedang mendengar karakter yang berbicara dengan bahasa film, bukan orang yang benar-benar sedang berbicara dalam kehidupan sehari-hari.

Memang ini bukan masalah yang sampai membuat saya tidak bisa menikmati filmnya.

Tapi ketika diperhatikan, ada beberapa percakapan yang terasa kurang natural.

Dan menurut saya hal seperti ini cukup berpengaruh terhadap bagaimana penonton bisa merasa dekat dengan karakter.


Aktingnya Menurut Saya Masih Bisa Lebih Baik

Untuk masalah akting sebenarnya saya tidak ingin mengatakan bahwa seluruh pemainnya buruk.

Ada beberapa pemain yang menurut saya sudah cukup baik dalam membawa karakternya.

Tetapi kalau dibandingkan dengan Pengabdi Setan 2, saya justru merasa sekuelnya mempunyai peningkatan yang cukup terasa dari sisi akting.

Di film kedua, interaksi antar karakter menurut saya terasa lebih natural dan ekspresinya juga lebih meyakinkan.

Sedangkan di film pertama ini masih ada beberapa bagian dimana saya merasa aktingnya belum terlalu kuat.

Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa ketika saya menonton film pertama setelah melihat sekuelnya, perbedaannya menjadi lebih terasa.

Karena saya sudah mempunyai pembanding.


Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Pengabdi Setan

Kelebihan:

1. Atmosfer horornya cukup kuat

Rumah dan lingkungan yang digunakan dalam film berhasil menciptakan suasana yang tidak nyaman.

Tidak hanya mengandalkan jumpscare, tetapi juga menggunakan ruang dan suasana untuk membangun rasa takut.

2. Detail horornya terasa nyata

Penggunaan properti nyata, termasuk detail lalat, menurut saya menjadi salah satu bagian yang cukup bagus.

Detail kecil seperti ini justru membuat beberapa adegan terasa lebih menjijikkan dan memberikan kesan horor yang lebih nyata.

3. Hidden jump scare cukup menarik

Beberapa jumpscare yang ditempatkan di latar belakang menurut saya lebih menarik dibandingkan jumpscare yang hanya mengandalkan suara keras dan kemunculan tiba-tiba.

Teknik seperti bayangan Bondi di kamar ibu menjadi salah satu contoh yang menurut saya cukup efektif.


Kekurangan:

1. Alurnya kurang konsisten

Beberapa kejadian seperti kerasukan Bondi dan penggunaan kursi roda terasa tidak selalu mempunyai penjelasan yang cukup jelas.

Hal tersebut membuat saya beberapa kali merasa bingung dengan aturan yang sebenarnya berlaku di dalam cerita.

2. Ada beberapa plot hole

Kemunculan Budiman menjadi salah satu contoh yang menurut saya cukup terasa.

Karakter tersebut muncul di saat yang penting, tetapi bagaimana dia bisa mengetahui kondisi dan lokasi keluarga Rini menurut saya tidak dijelaskan dengan cukup baik.

3. Dialog terasa terlalu baku

Untuk film yang menggunakan latar tahun 1981, beberapa percakapan menurut saya terasa terlalu formal dan kurang natural.

4. Akting dan eksekusi cerita masih kalah dibandingkan sekuelnya

Ini memang kembali ke opini pribadi saya.

Setelah melihat Pengabdi Setan 2, saya merasa sekuelnya mempunyai peningkatan yang cukup terasa terutama dari sisi akting dan bagaimana cerita dieksekusi.

Karena itu ketika kembali melihat film pertamanya, beberapa kekurangannya menjadi lebih mudah saya perhatikan.


Kesimpulan: Apakah Pengabdi Setan (2017) Masih Layak Ditonton?

Secara pribadi setelah selesai menonton Pengabdi Setan (2017), saya merasa film ini masih cukup menarik untuk ditonton.

Terutama kalau kalian memang penasaran dengan salah satu film horor Indonesia yang cukup terkenal dan ingin melihat bagaimana Joko Anwar membuat ulang film klasik dengan pendekatan yang lebih modern.

Ada banyak hal yang menurut saya memang berhasil.

Atmosfernya kuat, detail horornya cukup bagus dan beberapa teknik hidden jump scare menurut saya cukup menarik.

Tapi di sisi lain, saya merasa ceritanya masih mempunyai beberapa masalah.

Ada beberapa bagian yang terasa tidak konsisten, beberapa kejadian seperti hanya terjadi karena kebutuhan plot dan dialognya menurut saya masih terlalu baku.

Dan yang paling terasa buat saya adalah ketika film ini dibandingkan dengan Pengabdi Setan 2.

Setelah melihat sekuelnya, saya justru merasa film keduanya mempunyai kualitas akting dan eksekusi cerita yang lebih baik.

Jadi kalau kalian datang ke film pertama ini dengan ekspektasi yang sangat tinggi karena melihat hype atau karena sudah menonton Pengabdi Setan 2, mungkin kalian akan merasa sedikit berbeda dengan ekspektasi tersebut.

Buat saya pribadi, film ini bukan film horor yang jelek.

Justru ada beberapa bagian yang menurut saya sangat bagus dan masih bisa dinikmati sampai sekarang.

Tapi saya juga tidak bisa mengatakan bahwa film ini sepenuhnya memenuhi ekspektasi saya.

Terutama karena beberapa masalah di bagian cerita cukup terasa ketika saya mencoba memperhatikan detailnya.


Kalau ditanya apakah saya akan menonton ulang?


Mungkin tidak dalam waktu dekat.

Bukan karena filmnya tidak menarik, tetapi menurut saya setelah sekali menonton sudah cukup untuk memahami keseluruhan ceritanya.

Untuk rating pribadi, saya mungkin berada di sekitar 5/10.

Nilai tersebut bukan berarti filmnya tidak mempunyai kelebihan.

Justru secara teknis dan atmosfer, ada beberapa hal yang menurut saya cukup bagus.

Tapi ketika semuanya digabungkan dengan masalah alur, beberapa plot hole, dialog yang terasa baku dan perbandingan dengan sekuelnya, saya pribadi merasa 5/10 cukup menggambarkan pengalaman menonton saya.

Jadi kalau kalian penasaran dengan film horor Indonesia ini, silakan coba tonton.

Tapi menurut saya jangan datang dengan ekspektasi bahwa kalian akan mendapatkan film horor yang sempurna hanya karena film ini mempunyai reputasi dan hype yang cukup besar.

Karena setelah saya menontonnya sendiri, saya justru merasa hal yang paling menarik dari Pengabdi Setan bukan hanya soal seberapa seram filmnya, tetapi bagaimana film ini berhasil membangun atmosfer dan memberikan beberapa detail horor yang sampai sekarang masih cukup berkesan.
Review Film Cek Toko Sebelah: Drama Keluarga Tionghoa yang Berhasil Jadi Film Terbaik FFI 2017

Review Film Cek Toko Sebelah: Drama Keluarga Tionghoa yang Berhasil Jadi Film Terbaik FFI 2017

Cek Toko Sebelah


Kalau biasanya ketika mendengar film komedi Indonesia kita langsung membayangkan jokes yang receh, karakter yang berlebihan, atau cerita yang hanya dibuat untuk menghibur penonton, film Cek Toko Sebelah menurut saya justru mempunyai sesuatu yang berbeda. Film yang disutradarai oleh Ernest Prakasa ini memang membawa genre komedi, tetapi dibalik komedinya film ini juga menyimpan drama keluarga yang cukup kuat dan mungkin cukup relate dengan kehidupan banyak orang.

Hari ini saya akan mencoba untuk review film Cek Toko sebelah setelah saya menonton filmnya di NSC Demak. Jujur cukup banyak yang menonton film ini bersama keluarga, bahkan beberapa kursi bisa dibilang penuh karena banyak yang mengambil paket untuk keluarga.

Film ini pertama kali dirilis pada tahun 2016 dan berhasil mendapatkan perhatian yang cukup besar dari penonton Indonesia. Bahkan Cek Toko Sebelah berhasil mendapatkan penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2017. Menurut saya hal tersebut cukup menarik karena film ini bukan hanya mengandalkan komedi, tetapi juga mencoba membahas hubungan antara orang tua dan anak, masalah keluarga, pilihan hidup, kemudian ekspektasi orang tua terhadap anaknya.

Sebagai penikmat film Indonesia, saya sendiri cukup tertarik ketika menonton film ini karena konfliknya sebenarnya sangat sederhana. Hanya tentang sebuah toko sembako dan seorang ayah yang ingin salah satu anaknya meneruskan toko tersebut. Tetapi dari konflik sederhana tersebut ternyata bisa berkembang menjadi masalah keluarga yang cukup kompleks.

Nah, apakah Cek Toko Sebelah memang sebagus dan sesentuh itu atau hanya mengandalkan komedi dan drama keluarga biasa? Berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.

Sinopsis Singkat: Cek Toko Sebelah

Film Cek Toko Sebelah menceritakan sebuah keluarga yang terdiri dari Koh Afuk dan kedua anaknya yaitu Yohan dan Erwin.

Koh Afuk merupakan pemilik toko sembako yang sudah lama menjalankan usahanya. Karena sudah semakin tua dan ingin pensiun, Koh Afuk kemudian mempunyai keinginan agar toko tersebut diteruskan oleh anaknya.

Namun masalahnya, anak yang dipilih oleh Koh Afuk bukan Yohan sebagai anak sulung, melainkan Erwin.

Erwin sendiri sebenarnya sedang berada di posisi yang cukup bagus dalam kariernya. Ia mendapatkan kesempatan untuk naik jabatan dan bahkan mempunyai peluang untuk bekerja di Singapura. Sedangkan Yohan yang merupakan anak sulung justru merasa dirinya lebih pantas untuk meneruskan toko tersebut karena selama ini dirinya merasa sudah banyak berkorban untuk keluarga.

Dari sinilah konflik antara Yohan, Erwin dan Koh Afuk mulai muncul.

Yohan merasa dirinya selalu dianggap tidak bertanggung jawab dan kalah dibandingkan Erwin. Sedangkan Erwin sendiri berada dalam posisi yang sulit karena harus memilih antara mengejar karier yang selama ini dia bangun atau memenuhi keinginan ayahnya untuk meneruskan toko keluarga.

Masalah semakin rumit ketika kondisi Koh Afuk mulai menurun karena terlalu banyak memikirkan masalah toko dan keluarganya.

Pada akhirnya mereka harus menghadapi berbagai masalah yang bukan hanya berkaitan dengan toko, tetapi juga mengenai hubungan antara orang tua dan anak, rasa kecewa, kecemburuan, kemudian bagaimana sebuah keluarga bisa saling memahami satu sama lain.

POV: Opini Jujur dan Hal-Hal yang Menarik Dari Film Ini

Cerita Keluarga yang Sangat Relate

Menurut saya kekuatan terbesar dari Cek Toko Sebelah adalah ceritanya yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Konflik mengenai orang tua yang ingin anaknya mengikuti keinginan keluarga sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Banyak orang mungkin pernah berada dalam posisi seperti Erwin, dimana orang tua sudah mempunyai rencana sendiri mengenai masa depan anaknya.

Di sisi lain ada Yohan yang merasa dirinya kurang dihargai oleh ayahnya.

Menurut saya ini yang membuat konflik film terasa cukup manusiawi. Tidak ada karakter yang benar-benar jahat di dalam film ini. Koh Afuk memang terlihat seperti ayah yang pilih kasih, tetapi semakin film berjalan kita bisa memahami kenapa dirinya mengambil keputusan tersebut.

Begitu juga dengan Yohan.

Di awal mungkin kita bisa melihat Yohan sebagai anak yang iri kepada adiknya. Tetapi kalau melihat latar belakangnya, rasa kecewa Yohan sebenarnya mempunyai alasan.

Sedangkan Erwin sendiri bukan berarti tidak peduli kepada keluarga. Dia hanya sedang berada dalam posisi dimana dirinya ingin mengejar kehidupan dan karier yang sudah dibangun.

Menurut saya cara film ini memperlihatkan konflik dari berbagai sudut pandang tersebut cukup bagus.

Komedi dan Drama

Untuk bagian komedinya, menurut saya Ernest Prakasa cukup berhasil menggabungkan komedi dengan drama.

Hal yang saya suka adalah ketika film sedang berada di bagian yang lucu, kemudian tidak lama setelah itu film bisa kembali membawa kita ke bagian yang serius.

Komedi di film ini juga menurut saya tidak sepenuhnya menghilangkan konflik utama.

Ada beberapa jokes yang memang terasa ringan dan mungkin tidak semuanya akan membuat penonton tertawa terbahak-bahak, tetapi komedinya cukup membantu membuat film tidak terasa terlalu berat.

Yang paling menarik justru ketika film mulai masuk ke bagian drama.

Ada beberapa adegan yang menurut saya cukup menyentuh, terutama ketika hubungan antara Koh Afuk dan kedua anaknya mulai menemukan titik penyelesaian.

Salah satu bagian yang menurut saya cukup kuat adalah adegan rekonsiliasi di makam ibu Yohan dan Erwin.

Adegan tersebut tidak membutuhkan dialog yang terlalu berlebihan tetapi tetap mampu menyampaikan emosi yang cukup kuat.

Konflik Yohan dan Koh Afuk

Menurut saya hubungan antara Yohan dan Koh Afuk menjadi salah satu bagian terbaik dari film ini.

Yohan bukan hanya marah karena tidak mendapatkan toko. Masalah sebenarnya lebih dalam dari itu.

Yohan merasa dirinya tidak pernah benar-benar mendapatkan pengakuan dari ayahnya.

Selama ini Erwin selalu dianggap sebagai anak yang sukses, sedangkan Yohan sering dianggap sebagai anak yang tidak bertanggung jawab.

Padahal Yohan sendiri sebenarnya mempunyai perhatian besar terhadap keluarga.

Hal ini menurut saya cukup relate karena terkadang masalah dalam keluarga bukan muncul karena seseorang tidak sayang, tetapi karena cara menunjukkan rasa sayang tersebut berbeda.

Koh Afuk merasa dirinya sedang melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya, sementara Yohan melihat keputusan ayahnya sebagai bentuk ketidakadilan.

Disinilah menurut saya film ini berhasil menunjukkan bahwa dalam keluarga terkadang masalah bukan hanya tentang siapa yang benar atau siapa yang salah, tetapi tentang komunikasi yang tidak pernah benar-benar dilakukan.

Akting Pemain

Untuk bagian akting menurut saya para pemain di film ini cukup berhasil membawa karakter masing-masing.

Ernest Prakasa sebagai Erwin mampu membawa karakter seorang anak yang sedang berada di tengah konflik antara karier dan keluarga.

Gisella Anastasia sebagai Natalie juga cukup membantu memberikan warna pada cerita Erwin.

Namun menurut saya salah satu karakter yang cukup menarik adalah Yohan yang diperankan oleh Dion Wiyoko.

Karakter Yohan mempunyai emosi yang cukup kompleks. Dia bisa terlihat lucu di satu adegan, tetapi kemudian bisa berubah menjadi serius ketika membicarakan hubungannya dengan ayahnya.

Chew Kin Wah sebagai Koh Afuk juga menurut saya berhasil membawa karakter seorang ayah yang keras kepala tetapi sebenarnya menyimpan rasa sayang yang besar kepada keluarganya.

Akting para pemain inilah yang menurut saya membuat konflik keluarga di film ini terasa lebih hidup.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Cek Toko Sebelah

Kelebihan:

Cerita yang sangat relatable, terutama mengenai hubungan orang tua dan anak, ekspektasi keluarga dan pilihan hidup.

Pendalaman karakter yang cukup kuat, terutama Koh Afuk, Yohan dan Erwin. Masing-masing karakter mempunyai alasan sendiri dalam mengambil keputusan.

Komedi dan drama cukup seimbang, film ini tidak hanya berusaha membuat penonton tertawa tetapi juga memberikan beberapa adegan emosional yang cukup kuat.

Konflik keluarga terasa manusiawi, tidak ada karakter yang benar-benar dibuat sebagai penjahat. Bahkan keputusan yang terlihat salah dari satu sudut pandang ternyata mempunyai alasan dari sudut pandang karakter tersebut.

Pesan moralnya cukup kuat, film ini menunjukkan bahwa komunikasi dan penerimaan dalam keluarga terkadang jauh lebih penting daripada masalah materi atau kesuksesan seseorang.

Kekurangan:

Penyelesaian beberapa konflik terasa cukup cepat, terutama ketika film sudah masuk ke bagian akhir.

Konflik dengan pengembang properti terasa sedikit berbeda dari konflik utama, menurut saya bagian ini agak terlalu dramatis dibandingkan konflik keluarga yang sejak awal justru menjadi kekuatan utama film.

Perubahan sikap beberapa karakter terasa cukup cepat, terutama ketika masalah keluarga mulai menemukan penyelesaiannya.

Menurut saya kekurangan tersebut tidak sampai membuat filmnya menjadi buruk, tetapi memang ada beberapa bagian yang terasa bisa dibuat lebih perlahan agar perkembangan konfliknya terasa lebih natural.

Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?

Secara keseluruhan menurut saya Cek Toko Sebelah merupakan salah satu film keluarga Indonesia yang berhasil menggabungkan komedi dan drama dengan cukup baik.

Hal yang paling saya suka dari film ini adalah konfliknya yang sebenarnya sederhana tetapi bisa dibuat menjadi cerita yang cukup emosional.

Film ini bukan hanya bercerita mengenai sebuah toko sembako yang ingin diwariskan kepada anak, tetapi lebih kepada bagaimana sebuah keluarga menghadapi perbedaan keinginan, rasa kecewa, kemudian bagaimana setiap anggota keluarga mempunyai cara sendiri dalam menunjukkan rasa sayang.

Menurut saya karakter Koh Afuk, Yohan dan Erwin juga menjadi salah satu alasan kenapa film ini terasa cukup dekat dengan kehidupan nyata. Tidak ada karakter yang benar-benar sempurna. Semuanya mempunyai kesalahan, ego, keinginan dan alasan masing-masing.

Untuk kalian yang suka film keluarga dengan campuran komedi dan drama, menurut saya Cek Toko Sebelah cukup layak untuk ditonton.

Film ini juga cocok untuk kalian yang mungkin sedang berada dalam kondisi dimana keinginan pribadi harus berhadapan dengan keinginan keluarga, karena film ini cukup baik dalam menunjukkan bahwa sukses tidak selalu harus mengikuti satu jalan yang sama.

Kalau untuk rating pribadi dari saya, Cek Toko Sebelah saya kasih 8,5/10.

Bukan karena film ini sempurna, tetapi karena menurut saya film ini berhasil melakukan sesuatu yang cukup sulit, yaitu membuat penonton tertawa sekaligus membawa penonton memahami konflik keluarga yang sebenarnya sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dan menurut saya, penghargaan yang didapatkan film ini di Festival Film Indonesia 2017 juga cukup menggambarkan bagaimana film komedi keluarga bisa tetap mempunyai cerita dan drama yang kuat tanpa harus kehilangan sisi hiburannya.

 Review  Film Alas Roban: Ketika Legenda Jalur Angker Pantura Dibawa ke Layar Lebar

Review Film Alas Roban: Ketika Legenda Jalur Angker Pantura Dibawa ke Layar Lebar

Alas Roban


Kalau membahas jalur Pantura yang mempunyai cerita mistis, mungkin nama Alas Roban menjadi salah satu tempat yang langsung terlintas di pikiran banyak orang.

Sejak dulu Alas Roban memang sudah cukup terkenal dengan berbagai macam cerita mengenai kejadian mistis, kecelakaan dan berbagai kisah horor yang berkembang di masyarakat.

Karena itu ketika saya mengetahui bahwa legenda mengenai Alas Roban akhirnya dibawa ke layar lebar, saya cukup penasaran seperti apa filmnya, bahkan pengalaman saya ketika ingin menonton film ini juga cukup menarik, karena saat saya datang ke NSC Demak kondisi bioskop ternyata begitu ramai dan saya sampai harus bolak balik sebanyak 2 kali hanya untuk mendapatkan tiket menonton film ini.

Apalagi film ini tidak hanya mencoba menjadikan Alas Roban sebagai latar tempat, tetapi juga memasukkan berbagai macam unsur mitos lokal, ritual dan cerita mengenai dunia gaib ke dalam ceritanya.

Setelah menonton film ini, menurut saya Alas Roban mempunyai premis yang sebenarnya cukup menarik.

Tetapi sayangnya, ada beberapa bagian dari film ini yang membuat saya merasa bahwa eksekusinya masih belum maksimal.

Film ini mempunyai cerita yang cukup emosional mengenai hubungan seorang ibu dengan anaknya, tetapi di sisi lain ada beberapa bagian yang justru membuat saya mempertanyakan logika dari keputusan para karakternya.

Sinopsis Singkat: Alas Roban

Film Alas Roban bercerita mengenai seorang janda bernama Sita yang melakukan perjalanan bersama putrinya, Gendis.

Dalam perjalanan menuju Semarang, bus yang mereka tumpangi mengalami masalah dan akhirnya harus berhenti di kawasan Alas Roban.

Dari sinilah masalah mulai muncul.

Sita kemudian mengajak Gendis menuju sebuah warung yang berada di tengah hutan.

Awalnya mungkin terlihat seperti sebuah warung biasa, tetapi ternyata tempat tersebut merupakan warung gaib yang kemudian menjadi awal mula dari berbagai kejadian mistis yang dialami Gendis.

Setelah kejadian tersebut, Gendis mulai menunjukkan perilaku aneh dan beberapa kali mengalami kesurupan.

Ternyata gangguan tersebut berhubungan dengan sosok Dewi Raras yang dikenal sebagai salah satu roh penguasa Alas Roban.

Sita yang tentu saja tidak ingin kehilangan putrinya kemudian berusaha mencari bantuan dari orang-orang yang memahami dunia mistis.

Ia bertemu dengan beberapa orang seperti Mbok Yem dan Mbah Sakti yang kemudian membantu Sita melakukan ritual untuk membebaskan sukma Gendis yang terjebak di dimensi lain.

Dan ternyata masalahnya tidak sesederhana itu.

Dewi Raras sebenarnya menginginkan jiwa Sita.

Pada akhirnya Sita harus mengorbankan dirinya sendiri agar Gendis bisa selamat dan kembali ke dunia nyata.

Film kemudian ditutup dengan kematian Sita, sementara Gendis akhirnya bisa kembali melihat dengan jelas setelah menjalani operasi katarak.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Premis Alas Roban Sebenarnya Cukup Menarik

Menurut saya salah satu hal yang membuat film ini menarik dari awal adalah pemilihan Alas Roban sebagai latar ceritanya.

Alas Roban sendiri sudah mempunyai reputasi sebagai salah satu jalur yang banyak dikaitkan dengan cerita mistis di masyarakat.

Jadi ketika legenda tersebut kemudian dijadikan sebuah film horor, sebenarnya bahan ceritanya sudah cukup menarik.

Film ini juga tidak hanya mengandalkan jumpscare atau sosok hantu saja.

Ada unsur ritual, mitos lokal sampai cerita mengenai dimensi lain yang dimasukkan ke dalam film.

Buat saya, bagian seperti ini justru cukup menarik karena membuat film terasa seperti mencoba mengangkat horor yang berasal dari cerita rakyat dan kepercayaan lokal.

Apalagi ketika cerita mengenai Dewi Raras mulai dijelaskan, kita bisa melihat bahwa film ini memang ingin membangun sebuah mitologi sendiri di balik Alas Roban.

Walaupun eksekusinya masih mempunyai beberapa kekurangan, menurut saya premis dasarnya sebenarnya cukup potensial.

Unsur Ritual dan Mitos Lokal Cukup Menarik

Salah satu bagian yang menurut saya cukup menarik adalah ketika film mulai masuk ke bagian ritual dan dunia mistis.

Ada beberapa karakter yang memang memahami dunia gaib dan kemudian membantu Sita untuk mencari cara agar Gendis bisa diselamatkan.

Bagian ini membuat film terasa lebih seperti folk horror dibandingkan sekadar film horor yang hanya mengandalkan penampakan hantu.

Saya pribadi cukup suka ketika film horor Indonesia mencoba menggunakan cerita atau mitos lokal sebagai bagian penting dari ceritanya.

Karena sebenarnya Indonesia mempunyai banyak sekali cerita rakyat dan kepercayaan lokal yang bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat cerita horor.

Dan menurut saya Alas Roban mempunyai potensi yang cukup besar untuk itu.

Hanya saja, saya merasa bagian ini masih bisa dibuat jauh lebih dalam.

Cerita Tentang Pengorbanan Seorang Ibu Cukup Emosional

Kalau ada satu bagian yang menurut saya cukup berhasil dari sisi emosional, mungkin adalah hubungan antara Sita dan Gendis.

Dari awal kita bisa melihat bahwa Sita berusaha melakukan berbagai macam cara untuk menyelamatkan putrinya.

Sampai pada akhirnya Sita mengetahui bahwa satu-satunya cara agar Gendis bisa selamat adalah dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Menurut saya bagian ini cukup memberikan bobot emosional pada film.

Karena pada akhirnya cerita film ini bukan hanya mengenai hantu atau teror yang terjadi di Alas Roban, tetapi juga mengenai seorang ibu yang rela mengorbankan dirinya demi anaknya.

Walaupun akhir ceritanya cukup tragis, menurut saya bagian ini menjadi salah satu alasan kenapa film masih mempunyai sisi emosional yang cukup terasa.

Efek Visual dan Green Screen Masih Menjadi Catatan

Nah, kalau dari sisi teknis justru ini salah satu bagian yang cukup saya sayangkan.

Ada beberapa adegan yang menggunakan efek visual dan green screen yang menurut saya masih terasa kurang halus.

Beberapa visual justru membuat saya sedikit kehilangan suasana horornya karena efek yang digunakan terlihat kurang menyatu dengan adegannya.

Menurut saya untuk film horor, atmosfer merupakan salah satu bagian yang cukup penting.

Ketika efek visual terlihat terlalu jelas atau terasa seperti efek buatan, rasa takut yang seharusnya muncul justru bisa berkurang.

Ada beberapa bagian dimana saya malah lebih fokus melihat bagaimana efek tersebut dibuat dibandingkan merasa takut dengan apa yang sedang terjadi di layar.

Tapi balik lagi, masalah efek visual memang bisa berbeda bagi setiap penonton.

Mungkin ada penonton yang tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut selama ceritanya masih bisa dinikmati.

Namun untuk saya pribadi, beberapa efek visual di film ini cukup terasa dan menjadi salah satu kekurangannya.

Logika Cerita Kadang Membuat Saya Bertanya Tanya

Selain masalah teknis, hal lain yang cukup saya rasakan adalah mengenai keputusan para karakter di dalam cerita.

Ada beberapa situasi dimana saya justru bertanya-tanya, kenapa karakter tersebut melakukan hal itu?

Bukan berarti semua keputusan karakternya tidak masuk akal, tetapi ada beberapa bagian yang menurut saya terasa kurang meyakinkan.

Apalagi ketika sedang menonton film horor, biasanya penonton memang akan mencoba memahami alasan dari setiap tindakan karakter.

Ketika keputusan yang diambil terasa kurang logis, akhirnya saya justru lebih sibuk mempertanyakan tindakan karakter dibandingkan menikmati ketegangan yang sedang dibangun.

Ini cukup disayangkan karena sebenarnya premis filmnya sendiri sudah mempunyai potensi yang menarik.

Menurut saya kalau bagian ini bisa dibuat lebih rapi, pengalaman menontonnya mungkin akan terasa lebih kuat.

Filmnya Lebih Menarik Dari Premis Daripada Eksekusinya

Kalau saya boleh jujur, setelah selesai menonton film ini saya merasa bahwa premis Alas Roban sebenarnya lebih menarik dibandingkan eksekusinya.

Ide mengenai jalur angker Pantura, warung gaib, Dewi Raras, ritual dan pengorbanan seorang ibu sebenarnya mempunyai bahan cerita yang cukup banyak.

Tetapi ketika semuanya dimasukkan ke dalam film, ada beberapa bagian yang menurut saya belum terasa maksimal.

Saya bisa melihat apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini.

Ada unsur horor, mitos lokal, drama keluarga dan pengorbanan seorang ibu.

Namun beberapa elemen tersebut terkadang terasa belum menyatu dengan sempurna.

Jadi buat saya film ini bukan film yang tidak mempunyai ide menarik.

Justru sebaliknya, idenya cukup menarik.

Hanya saja saya merasa masih ada jarak antara potensi cerita dengan hasil akhirnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Alas Roban

Kelebihan:

1. Premisnya cukup menarik

Penggunaan legenda Alas Roban sebagai dasar cerita menurut saya merupakan salah satu daya tarik terbesar film ini.

Alas Roban sendiri sudah dikenal luas dengan berbagai cerita mistis sehingga cukup menarik ketika legenda tersebut kemudian dijadikan sebuah film horor.

2. Unsur mitos dan ritual lokal cukup terasa

Film ini tidak hanya mengandalkan hantu dan jumpscare.

Ada juga unsur ritual, dunia gaib dan mitos lokal yang membuat nuansa folk horror-nya cukup terasa.

3. Mempunyai sisi emosional

Hubungan antara Sita dan Gendis menjadi salah satu bagian yang cukup menarik.

Pengorbanan Sita demi menyelamatkan putrinya memberikan sisi emosional yang membuat film ini tidak hanya berbicara mengenai horor.

Kekurangan:

1. Efek visual dan green screen kurang halus

Ada beberapa adegan yang menurut saya efek visualnya masih terasa kurang natural.

Hal ini cukup mengganggu atmosfer horor yang sebenarnya sedang dibangun.

2. Beberapa keputusan karakter terasa kurang logis

Ada beberapa bagian dimana tindakan karakter membuat saya bertanya-tanya mengenai alasan mereka mengambil keputusan tersebut.

Menurut saya bagian ini membuat alurnya terasa kurang meyakinkan.

3. Eksekusi ceritanya belum maksimal

Premis film sebenarnya cukup menarik, tetapi saya merasa beberapa ide yang ada belum dieksekusi dengan maksimal.

Ada banyak potensi dari cerita Alas Roban yang sebenarnya masih bisa dikembangkan lebih jauh.

Kesimpulan: Layak Ditonton Atau Lewati Saja?

Secara pribadi setelah selesai menonton Alas Roban, saya merasa film ini mempunyai ide yang cukup menarik tetapi masih mempunyai beberapa kekurangan dalam eksekusinya.

Saya cukup suka dengan bagaimana film ini mencoba menggunakan legenda lokal sebagai dasar cerita.

Apalagi unsur ritual dan cerita mengenai Dewi Raras membuat film terasa mempunyai dunia mistisnya sendiri.

Tetapi di sisi lain, beberapa efek visual yang kurang halus dan keputusan karakter yang terkadang membuat saya bertanya-tanya cukup mengurangi pengalaman menontonnya.

Kalau kalian memang suka film horor Indonesia yang mengangkat mitos lokal, menurut saya film ini masih bisa dicoba.

Apalagi kalau kalian memang penasaran dengan bagaimana legenda Alas Roban diterjemahkan menjadi sebuah cerita film.

Tapi kalau kalian datang dengan ekspetasi ingin mendapatkan film horor dengan visual yang sangat rapi, cerita yang sangat logis dan eksekusi yang sempurna, mungkin kalian akan menemukan beberapa bagian yang terasa kurang.

Untuk saya pribadi, Alas Roban masih menjadi film yang cukup menarik karena premisnya.

Saya justru merasa bahwa potensi terbesar film ini ada pada cerita mengenai Alas Roban itu sendiri.

Sayangnya, setelah selesai menonton, saya merasa masih ada beberapa bagian yang sebenarnya bisa dibuat lebih baik.

Untuk rating IMDb sendiri saat saya melihatnya berada di angka 5,2/10.

Menurut saya angka tersebut juga masih bisa berubah karena filmnya masih relatif baru dan jumlah penonton yang memberikan rating bisa saja terus bertambah.

Jadi untuk saya pribadi, Alas Roban lebih cocok sebagai tontonan bagi kalian yang penasaran dengan cerita horor berlatar mitos lokal dan ingin melihat bagaimana legenda salah satu jalur paling terkenal di Pantura tersebut dibawa ke layar lebar.