Review Film Cek Toko Sebelah: Drama Keluarga Tionghoa yang Berhasil Jadi Film Terbaik FFI 2017

Review Film Cek Toko Sebelah: Drama Keluarga Tionghoa yang Berhasil Jadi Film Terbaik FFI 2017

Cek Toko Sebelah


Kalau biasanya ketika mendengar film komedi Indonesia kita langsung membayangkan jokes yang receh, karakter yang berlebihan, atau cerita yang hanya dibuat untuk menghibur penonton, film Cek Toko Sebelah menurut saya justru mempunyai sesuatu yang berbeda. Film yang disutradarai oleh Ernest Prakasa ini memang membawa genre komedi, tetapi dibalik komedinya film ini juga menyimpan drama keluarga yang cukup kuat dan mungkin cukup relate dengan kehidupan banyak orang.

Hari ini saya akan mencoba untuk review film Cek Toko sebelah setelah saya menonton filmnya di NSC Demak. Jujur cukup banyak yang menonton film ini bersama keluarga, bahkan beberapa kursi bisa dibilang penuh karena banyak yang mengambil paket untuk keluarga.

Film ini pertama kali dirilis pada tahun 2016 dan berhasil mendapatkan perhatian yang cukup besar dari penonton Indonesia. Bahkan Cek Toko Sebelah berhasil mendapatkan penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2017. Menurut saya hal tersebut cukup menarik karena film ini bukan hanya mengandalkan komedi, tetapi juga mencoba membahas hubungan antara orang tua dan anak, masalah keluarga, pilihan hidup, kemudian ekspektasi orang tua terhadap anaknya.

Sebagai penikmat film Indonesia, saya sendiri cukup tertarik ketika menonton film ini karena konfliknya sebenarnya sangat sederhana. Hanya tentang sebuah toko sembako dan seorang ayah yang ingin salah satu anaknya meneruskan toko tersebut. Tetapi dari konflik sederhana tersebut ternyata bisa berkembang menjadi masalah keluarga yang cukup kompleks.

Nah, apakah Cek Toko Sebelah memang sebagus dan sesentuh itu atau hanya mengandalkan komedi dan drama keluarga biasa? Berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.

Sinopsis Singkat: Cek Toko Sebelah

Film Cek Toko Sebelah menceritakan sebuah keluarga yang terdiri dari Koh Afuk dan kedua anaknya yaitu Yohan dan Erwin.

Koh Afuk merupakan pemilik toko sembako yang sudah lama menjalankan usahanya. Karena sudah semakin tua dan ingin pensiun, Koh Afuk kemudian mempunyai keinginan agar toko tersebut diteruskan oleh anaknya.

Namun masalahnya, anak yang dipilih oleh Koh Afuk bukan Yohan sebagai anak sulung, melainkan Erwin.

Erwin sendiri sebenarnya sedang berada di posisi yang cukup bagus dalam kariernya. Ia mendapatkan kesempatan untuk naik jabatan dan bahkan mempunyai peluang untuk bekerja di Singapura. Sedangkan Yohan yang merupakan anak sulung justru merasa dirinya lebih pantas untuk meneruskan toko tersebut karena selama ini dirinya merasa sudah banyak berkorban untuk keluarga.

Dari sinilah konflik antara Yohan, Erwin dan Koh Afuk mulai muncul.

Yohan merasa dirinya selalu dianggap tidak bertanggung jawab dan kalah dibandingkan Erwin. Sedangkan Erwin sendiri berada dalam posisi yang sulit karena harus memilih antara mengejar karier yang selama ini dia bangun atau memenuhi keinginan ayahnya untuk meneruskan toko keluarga.

Masalah semakin rumit ketika kondisi Koh Afuk mulai menurun karena terlalu banyak memikirkan masalah toko dan keluarganya.

Pada akhirnya mereka harus menghadapi berbagai masalah yang bukan hanya berkaitan dengan toko, tetapi juga mengenai hubungan antara orang tua dan anak, rasa kecewa, kecemburuan, kemudian bagaimana sebuah keluarga bisa saling memahami satu sama lain.

POV: Opini Jujur dan Hal-Hal yang Menarik Dari Film Ini

Cerita Keluarga yang Sangat Relate

Menurut saya kekuatan terbesar dari Cek Toko Sebelah adalah ceritanya yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Konflik mengenai orang tua yang ingin anaknya mengikuti keinginan keluarga sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Banyak orang mungkin pernah berada dalam posisi seperti Erwin, dimana orang tua sudah mempunyai rencana sendiri mengenai masa depan anaknya.

Di sisi lain ada Yohan yang merasa dirinya kurang dihargai oleh ayahnya.

Menurut saya ini yang membuat konflik film terasa cukup manusiawi. Tidak ada karakter yang benar-benar jahat di dalam film ini. Koh Afuk memang terlihat seperti ayah yang pilih kasih, tetapi semakin film berjalan kita bisa memahami kenapa dirinya mengambil keputusan tersebut.

Begitu juga dengan Yohan.

Di awal mungkin kita bisa melihat Yohan sebagai anak yang iri kepada adiknya. Tetapi kalau melihat latar belakangnya, rasa kecewa Yohan sebenarnya mempunyai alasan.

Sedangkan Erwin sendiri bukan berarti tidak peduli kepada keluarga. Dia hanya sedang berada dalam posisi dimana dirinya ingin mengejar kehidupan dan karier yang sudah dibangun.

Menurut saya cara film ini memperlihatkan konflik dari berbagai sudut pandang tersebut cukup bagus.

Komedi dan Drama

Untuk bagian komedinya, menurut saya Ernest Prakasa cukup berhasil menggabungkan komedi dengan drama.

Hal yang saya suka adalah ketika film sedang berada di bagian yang lucu, kemudian tidak lama setelah itu film bisa kembali membawa kita ke bagian yang serius.

Komedi di film ini juga menurut saya tidak sepenuhnya menghilangkan konflik utama.

Ada beberapa jokes yang memang terasa ringan dan mungkin tidak semuanya akan membuat penonton tertawa terbahak-bahak, tetapi komedinya cukup membantu membuat film tidak terasa terlalu berat.

Yang paling menarik justru ketika film mulai masuk ke bagian drama.

Ada beberapa adegan yang menurut saya cukup menyentuh, terutama ketika hubungan antara Koh Afuk dan kedua anaknya mulai menemukan titik penyelesaian.

Salah satu bagian yang menurut saya cukup kuat adalah adegan rekonsiliasi di makam ibu Yohan dan Erwin.

Adegan tersebut tidak membutuhkan dialog yang terlalu berlebihan tetapi tetap mampu menyampaikan emosi yang cukup kuat.

Konflik Yohan dan Koh Afuk

Menurut saya hubungan antara Yohan dan Koh Afuk menjadi salah satu bagian terbaik dari film ini.

Yohan bukan hanya marah karena tidak mendapatkan toko. Masalah sebenarnya lebih dalam dari itu.

Yohan merasa dirinya tidak pernah benar-benar mendapatkan pengakuan dari ayahnya.

Selama ini Erwin selalu dianggap sebagai anak yang sukses, sedangkan Yohan sering dianggap sebagai anak yang tidak bertanggung jawab.

Padahal Yohan sendiri sebenarnya mempunyai perhatian besar terhadap keluarga.

Hal ini menurut saya cukup relate karena terkadang masalah dalam keluarga bukan muncul karena seseorang tidak sayang, tetapi karena cara menunjukkan rasa sayang tersebut berbeda.

Koh Afuk merasa dirinya sedang melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya, sementara Yohan melihat keputusan ayahnya sebagai bentuk ketidakadilan.

Disinilah menurut saya film ini berhasil menunjukkan bahwa dalam keluarga terkadang masalah bukan hanya tentang siapa yang benar atau siapa yang salah, tetapi tentang komunikasi yang tidak pernah benar-benar dilakukan.

Akting Pemain

Untuk bagian akting menurut saya para pemain di film ini cukup berhasil membawa karakter masing-masing.

Ernest Prakasa sebagai Erwin mampu membawa karakter seorang anak yang sedang berada di tengah konflik antara karier dan keluarga.

Gisella Anastasia sebagai Natalie juga cukup membantu memberikan warna pada cerita Erwin.

Namun menurut saya salah satu karakter yang cukup menarik adalah Yohan yang diperankan oleh Dion Wiyoko.

Karakter Yohan mempunyai emosi yang cukup kompleks. Dia bisa terlihat lucu di satu adegan, tetapi kemudian bisa berubah menjadi serius ketika membicarakan hubungannya dengan ayahnya.

Chew Kin Wah sebagai Koh Afuk juga menurut saya berhasil membawa karakter seorang ayah yang keras kepala tetapi sebenarnya menyimpan rasa sayang yang besar kepada keluarganya.

Akting para pemain inilah yang menurut saya membuat konflik keluarga di film ini terasa lebih hidup.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Cek Toko Sebelah

Kelebihan:

Cerita yang sangat relatable, terutama mengenai hubungan orang tua dan anak, ekspektasi keluarga dan pilihan hidup.

Pendalaman karakter yang cukup kuat, terutama Koh Afuk, Yohan dan Erwin. Masing-masing karakter mempunyai alasan sendiri dalam mengambil keputusan.

Komedi dan drama cukup seimbang, film ini tidak hanya berusaha membuat penonton tertawa tetapi juga memberikan beberapa adegan emosional yang cukup kuat.

Konflik keluarga terasa manusiawi, tidak ada karakter yang benar-benar dibuat sebagai penjahat. Bahkan keputusan yang terlihat salah dari satu sudut pandang ternyata mempunyai alasan dari sudut pandang karakter tersebut.

Pesan moralnya cukup kuat, film ini menunjukkan bahwa komunikasi dan penerimaan dalam keluarga terkadang jauh lebih penting daripada masalah materi atau kesuksesan seseorang.

Kekurangan:

Penyelesaian beberapa konflik terasa cukup cepat, terutama ketika film sudah masuk ke bagian akhir.

Konflik dengan pengembang properti terasa sedikit berbeda dari konflik utama, menurut saya bagian ini agak terlalu dramatis dibandingkan konflik keluarga yang sejak awal justru menjadi kekuatan utama film.

Perubahan sikap beberapa karakter terasa cukup cepat, terutama ketika masalah keluarga mulai menemukan penyelesaiannya.

Menurut saya kekurangan tersebut tidak sampai membuat filmnya menjadi buruk, tetapi memang ada beberapa bagian yang terasa bisa dibuat lebih perlahan agar perkembangan konfliknya terasa lebih natural.

Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?

Secara keseluruhan menurut saya Cek Toko Sebelah merupakan salah satu film keluarga Indonesia yang berhasil menggabungkan komedi dan drama dengan cukup baik.

Hal yang paling saya suka dari film ini adalah konfliknya yang sebenarnya sederhana tetapi bisa dibuat menjadi cerita yang cukup emosional.

Film ini bukan hanya bercerita mengenai sebuah toko sembako yang ingin diwariskan kepada anak, tetapi lebih kepada bagaimana sebuah keluarga menghadapi perbedaan keinginan, rasa kecewa, kemudian bagaimana setiap anggota keluarga mempunyai cara sendiri dalam menunjukkan rasa sayang.

Menurut saya karakter Koh Afuk, Yohan dan Erwin juga menjadi salah satu alasan kenapa film ini terasa cukup dekat dengan kehidupan nyata. Tidak ada karakter yang benar-benar sempurna. Semuanya mempunyai kesalahan, ego, keinginan dan alasan masing-masing.

Untuk kalian yang suka film keluarga dengan campuran komedi dan drama, menurut saya Cek Toko Sebelah cukup layak untuk ditonton.

Film ini juga cocok untuk kalian yang mungkin sedang berada dalam kondisi dimana keinginan pribadi harus berhadapan dengan keinginan keluarga, karena film ini cukup baik dalam menunjukkan bahwa sukses tidak selalu harus mengikuti satu jalan yang sama.

Kalau untuk rating pribadi dari saya, Cek Toko Sebelah saya kasih 8,5/10.

Bukan karena film ini sempurna, tetapi karena menurut saya film ini berhasil melakukan sesuatu yang cukup sulit, yaitu membuat penonton tertawa sekaligus membawa penonton memahami konflik keluarga yang sebenarnya sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dan menurut saya, penghargaan yang didapatkan film ini di Festival Film Indonesia 2017 juga cukup menggambarkan bagaimana film komedi keluarga bisa tetap mempunyai cerita dan drama yang kuat tanpa harus kehilangan sisi hiburannya.

Review Film Bila Esok Ibu Tiada: Ketika Penyesalan Datang Setelah Ibu Pergi

Review Film Bila Esok Ibu Tiada: Ketika Penyesalan Datang Setelah Ibu Pergi

Bila Esok ibu Telah Tiada

Hari ini saya akan mencoba untuk review film Bila Esok Ibu Tiada setelah saya menonton di NSC demak bersama pasangan saya.

Dari judulnya saja sebenarnya saya sudah bisa membayangkan kalau film ini bukan merupakan film yang ringan.

Apalagi kalau kita bicara mengenai cerita tentang seorang ibu dan hubungan antara orang tua dengan anak-anaknya.

Menurut saya tema seperti ini memang cukup dekat dengan kehidupan banyak orang.

Kita semua mungkin pernah berada di posisi terlalu sibuk dengan pekerjaan, terlalu fokus dengan kehidupan masing-masing, sampai akhirnya tanpa sadar mulai jarang menghubungi atau menghabiskan waktu bersama orang tua.

Dan menurut saya, hal itulah yang coba diangkat oleh film Bila Esok Ibu Tiada.

Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga yang mulai mengalami keretakan setelah meninggalnya sang ayah, Pak Hario.

Sementara itu, sang ibu, Ibu Rahmi, harus menjalani kehidupan dengan rasa kesepian karena keempat anaknya, Ranika, Rangga, Rania dan Hening, sudah mempunyai kesibukan masing-masing.

Dari sinilah konflik dalam keluarga tersebut mulai muncul.

Sinopsis Singkat: Bila Esok Ibu Tiada

Bila Esok Ibu Tiada menceritakan tentang Ibu Rahmi yang tinggal bersama kenangan keluarganya setelah suaminya meninggal dunia.

Keempat anaknya sebenarnya masih ada.

Tetapi masalahnya, mereka sudah terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Ada yang sibuk dengan pekerjaan, ada yang sibuk dengan urusan pribadi, dan ada juga yang justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Sampai akhirnya perhatian kepada sang ibu semakin berkurang.

Bahkan ketika hari ulang tahun Ibu Rahmi tiba, anak-anaknya justru tidak mengingatnya.

Hal sederhana seperti ini kemudian menjadi salah satu gambaran bahwa hubungan mereka sebagai keluarga memang sudah mulai renggang.

Belum lagi hubungan antara keempat saudara tersebut yang juga sering diwarnai pertengkaran dan ego masing-masing.

Di tengah kondisi tersebut, kesehatan Ibu Rahmi ternyata juga mulai memburuk.

Masalahnya, anak-anaknya tidak benar-benar menyadari kondisi sang ibu.

Dan kemudian terjadilah sebuah peristiwa yang menjadi titik balik dari cerita ini.

Ibu Rahmi meninggal dunia.

Setelah itu, barulah keempat anaknya mulai menyadari betapa pentingnya keberadaan sang ibu selama ini.

Mereka mulai dihantui rasa bersalah dan penyesalan karena merasa belum memberikan cukup waktu untuk ibunya.

Dari sinilah mereka kemudian mencoba memperbaiki hubungan sebagai saudara dan belajar untuk menghargai kebersamaan yang sebelumnya sering mereka abaikan.

Cerita Tentang Kesibukan Anak dan Kesepian Seorang Ibu

Menurut saya, bagian yang paling kuat dari film ini adalah bagaimana film menggambarkan kesepian seorang ibu.

Ibu Rahmi sebenarnya tidak sendirian.

Dia mempunyai empat orang anak.

Tetapi mempunyai anak tidak selalu berarti seseorang tidak bisa merasa kesepian.

Dan menurut saya, film ini cukup berhasil menunjukkan hal tersebut.

Keempat anaknya masih mempunyai kehidupan masing-masing.

Mereka bukan anak-anak yang benar-benar tidak peduli kepada ibunya.

Masalahnya adalah mereka terlalu sibuk.

Dan menurut saya justru hal seperti ini yang membuat ceritanya terasa cukup dekat dengan kehidupan nyata.

Karena dalam kehidupan sehari-hari, mungkin banyak orang yang sebenarnya sayang kepada orang tuanya.

Tetapi karena pekerjaan, keluarga, bisnis, atau berbagai kesibukan lainnya, akhirnya waktu untuk orang tua semakin sedikit.

Awalnya mungkin hanya tidak sempat menelepon.

Kemudian tidak sempat pulang.

Lalu mulai jarang bertemu.

Sampai akhirnya kita baru menyadari betapa berharganya waktu tersebut ketika semuanya sudah terlambat.

Konflik Antar Saudara Terasa Cukup Realistis

Selain hubungan antara anak dan ibu, film ini juga cukup banyak membahas hubungan antara Ranika, Rangga, Rania dan Hening.

Menurut saya konflik antar saudara di film ini terasa cukup realistis.

Mereka mempunyai karakter dan kepentingan masing-masing.

Ketika masing-masing mulai membawa ego dan masalah pribadi, hubungan mereka sebagai saudara juga ikut menjadi renggang.

Dan menurut saya ini merupakan salah satu hal yang menarik dari film ini.

Karena terkadang masalah keluarga bukan selalu muncul karena seseorang tidak menyayangi keluarganya.

Tetapi karena masing-masing merasa dirinya paling benar.

Akhirnya komunikasi menjadi semakin buruk dan masalah kecil bisa berubah menjadi pertengkaran besar.

Saya rasa banyak keluarga yang mungkin pernah mengalami situasi seperti ini.


Bagian Paling Menyakitkan Ada Setelah Ibu Pergi

Kalau ditanya bagian yang paling membuat saya merasa sedih, tentu saja ketika Ibu Rahmi meninggal dunia.

Tetapi menurut saya yang lebih menyakitkan justru apa yang terjadi setelahnya.

Karena ketika Ibu Rahmi masih hidup, anak-anaknya masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki hubungan.

Masih bisa menelepon.

Masih bisa pulang.

Masih bisa meminta maaf.

Masih bisa duduk bersama.

Tetapi setelah ibunya meninggal, semua kesempatan tersebut sudah tidak ada lagi.

Dan menurut saya di sinilah film ini benar-benar berhasil memberikan pukulan emosional kepada penonton.

Penyesalan memang selalu terasa lebih berat ketika kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Mungkin sebelumnya kita berpikir,

“Nanti saja saya telepon ibu.”

“Nanti kalau sudah tidak sibuk saya pulang.”

“Nanti kalau pekerjaan sudah selesai saya akan menghabiskan waktu bersama orang tua.”

Masalahnya adalah kita tidak pernah benar-benar tahu apakah kata “nanti” tersebut masih akan mempunyai kesempatan untuk dilakukan.

Film Ini Cukup Relevan Dengan Kehidupan Sekarang

Menurut saya pesan dari Bila Esok Ibu Tiada cukup sederhana.

Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari betapa pentingnya orang tersebut.

Dan menurut saya pesan seperti ini memang masih sangat relevan.

Apalagi sekarang banyak orang yang mempunyai kesibukan masing-masing.

Pekerjaan semakin banyak.

Tuntutan hidup semakin besar.

Bahkan ketika sedang bersama keluarga pun terkadang kita masih sibuk dengan handphone masing-masing.

Pada akhirnya waktu bersama orang tua bisa menjadi sesuatu yang semakin jarang dilakukan.

Dan film ini seperti mengingatkan kita bahwa orang tua tidak selamanya ada.

Saya rasa ini adalah salah satu pesan yang memang cukup bagus dari film ini.


Menurut Saya Filmnya Sangat Menguras Emosi

Nah, kalau kalian mencari film yang ringan dan bisa ditonton untuk bersantai, mungkin Bila Esok Ibu Tiada bukan pilihan yang tepat.

Karena dari awal film memang sudah membawa tema keluarga dan hubungan antara anak dengan orang tua.

Ditambah lagi dengan konflik antar saudara yang cukup intens.

Beberapa pertengkaran di dalam film menurut saya juga cukup menguras emosi.

Bahkan ada beberapa bagian yang mungkin membuat penonton merasa kesal melihat tingkah karakter-karakternya.

Tetapi menurut saya hal tersebut memang menjadi bagian dari cerita.

Film ini memang ingin menunjukkan bagaimana sebuah keluarga bisa menjadi berantakan ketika komunikasi dan perhatian mulai hilang.

Jadi walaupun cukup melelahkan secara emosional, saya masih bisa memahami kenapa konflik tersebut dibuat seperti itu.

Apakah Film Bila Esok Ibu Tiada Bagus?

Menurut saya, iya.

Film ini bukan film yang sempurna.

Tetapi sebagai sebuah drama keluarga, menurut saya Bila Esok Ibu Tiada berhasil menyampaikan pesan yang ingin diberikan kepada penonton.

Hal yang paling saya suka adalah film ini tidak hanya berbicara mengenai kematian seorang ibu.

Tetapi juga berbicara mengenai penyesalan.

Karena setelah seseorang pergi, kita mungkin baru mulai mengingat hal-hal kecil yang sebelumnya kita anggap biasa.

Telepon dari ibu.

Masakan ibu.

Pesan dari ibu.

Pertanyaan sederhana seperti sudah makan atau belum.

Hal-hal yang ketika masih ada mungkin terasa biasa saja.

Tetapi setelah orang tersebut tidak ada, justru hal-hal kecil tersebut yang paling kita rindukan.

Kelebihan dan Kekurangan Film Bila Esok Ibu Tiada

Kelebihan

1. Pesan moralnya kuat

Menurut saya ini merupakan kekuatan terbesar film.

Pesannya sederhana, tetapi cukup mudah diterima oleh penonton.

Film ini mengingatkan kita untuk tidak menunggu kehilangan orang tua sebelum mulai menghargai keberadaan mereka.

2. Konflik keluarganya terasa realistis

Pertengkaran antara saudara, kesibukan pekerjaan dan kurangnya komunikasi membuat ceritanya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

3. Berhasil membangun emosi

Film ini memang dibuat untuk menguras emosi penonton.

Terutama ketika cerita mulai masuk ke bagian kehilangan Ibu Rahmi dan penyesalan anak-anaknya.

4. Mudah membuat penonton melakukan refleksi diri

Menurut saya ini yang paling menarik.

Setelah menonton film seperti ini, kita bisa saja mulai berpikir mengenai hubungan kita sendiri dengan orang tua.

Apakah kita sudah cukup sering menghubungi mereka?

Apakah kita masih sering menghabiskan waktu bersama mereka?

Atau selama ini kita terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing?

Kekurangan

1. Konfliknya cukup menguras emosi

Buat saya pribadi, beberapa pertengkaran antar karakter terasa cukup melelahkan untuk diikuti.

2. Ceritanya sangat sedih

Ini sebenarnya bukan kekurangan mutlak.

Tetapi kalau kalian lebih suka film keluarga yang ringan atau mempunyai banyak unsur komedi, mungkin film ini akan terasa cukup berat.

3. Beberapa bagian terasa sangat dramatis

Karena film memang ingin memberikan dampak emosional yang besar kepada penonton, ada beberapa bagian yang menurut saya terasa cukup dibuat untuk memancing air mata.


Kesimpulan: Layak Ditonton atau Tidak?

Jadi setelah menonton Bila Esok Ibu Tiada, menurut saya film ini masih sangat layak untuk ditonton, terutama untuk kalian yang memang menyukai film drama keluarga.

Film ini memang cukup sedih.

Bahkan menurut saya kalian harus mempersiapkan diri kalau tidak ingin tiba-tiba merasa emosional ketika menontonnya.

Tetapi justru dari kesedihan tersebut film ini mempunyai pesan yang cukup kuat.

Kita sering kali berpikir bahwa masih ada waktu.

Masih ada hari esok.

Masih bisa menelepon nanti.

Masih bisa pulang minggu depan.

Masih bisa mengajak orang tua makan bersama lain kali.

Padahal kita tidak pernah tahu kapan kesempatan terakhir tersebut datang.

Dan menurut saya itulah alasan kenapa judul Bila Esok Ibu Tiada terasa cukup kuat.

Film ini seperti memberikan pertanyaan sederhana kepada kita.

Kalau besok ibu sudah tidak ada, apakah kita akan menyesal karena selama ini terlalu sibuk untuknya?

Menurut saya, itu adalah pertanyaan yang cukup menyakitkan.

Karena mungkin sebagian dari kita memang pernah terlalu sibuk dengan kehidupan sendiri sampai lupa bahwa orang tua juga hanya mempunyai waktu yang terbatas.

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati film ini.

Bukan karena ceritanya ringan atau menghibur, tetapi karena film ini berhasil membuat saya kembali berpikir mengenai arti keluarga dan waktu bersama orang tua.

Untuk rating pribadi, saya memberikan 8,5/10.

Menurut saya nilai tersebut cukup sesuai dengan bagaimana film ini menyampaikan pesan dan membangun emosinya.

Tetapi yang paling penting dari film ini bukan soal ratingnya.

Menurut saya, justru setelah keluar dari bioskop, kita bisa bertanya kepada diri sendiri:

Kapan terakhir kali kita benar-benar meluangkan waktu untuk ibu dan orang tua kita?

Karena selama mereka masih ada, mungkin hal sederhana seperti menelepon, pulang ke rumah, makan bersama atau sekadar duduk dan berbicara sebenarnya sudah cukup berarti.

Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya mereka setelah semuanya terlambat.
Review Film Keluarga Cemara The Series: Saat "Geng Kampung" Ambil Alih Panggung

Review Film Keluarga Cemara The Series: Saat "Geng Kampung" Ambil Alih Panggung

keluarga cemara the series


Dari awal menonton episode pertama Keluarga Cemara: The Series, saya sebenarnya cukup penasaran dengan bagaimana serial ini akan membawa kembali cerita tentang sebuah keluarga yang harus menghadapi berbagai macam masalah dalam kehidupan sehari-hari, walaupun banyak yang antusias saat film ini diputar, hal ini bisa dilihat dari cukup banyaknya orang remaja yang datang ke bioskop NSC Demak ketika film ini ditayangkan.

Karena menurut saya Keluarga Cemara memang mempunyai daya tarik tersendiri.

Bukan karena ceritanya harus mempunyai konflik yang besar.

Bukan juga karena harus ada drama yang terlalu berat.

Tapi justru karena masalah-masalah sederhana yang dialami oleh keluarga ini terasa cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dan setelah selesai menonton episode pertamanya, menurut saya serial ini memang mencoba mempertahankan hal tersebut.

Masalahnya sederhana.

Tentang sekolah.

Tentang tanggung jawab.

Tentang ekonomi keluarga.

Tentang kesalahan yang harus diperbaiki.

Dan tentu saja tentang bagaimana sebuah keluarga saling membantu ketika salah satu anggota keluarganya sedang menghadapi masalah.

Sinopsis Singkat: Keluarga Cemara The Series

Episode pertama Keluarga Cemara: The Series memperlihatkan kehidupan keluarga yang masih harus menghadapi berbagai macam tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu fokus utama episode ini adalah Eis.

Eis sedang berusaha membagi waktunya antara kegiatan di sekolah dan tanggung jawabnya untuk membantu orang tua di rumah.

Di sekolah sendiri, Eis mempunyai keinginan untuk mengikuti lomba cerdas cermat bersama teman-temannya.

Tapi di sisi lain, ada tanggung jawab yang tetap harus dia lakukan di rumah.

Masalah kemudian menjadi semakin rumit ketika Eis dan teman-temannya secara tidak sengaja merusak akuarium sekolah.

Mereka akhirnya harus bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.

Salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan patungan dan berjualan kue untuk mengumpulkan uang demi mengganti akuarium yang rusak.

Sementara itu, Emak juga sedang berusaha mengembangkan usaha ayam gepreknya.

Emak mencoba meyakinkan seorang investor agar mau membantu mengembangkan usahanya.

Namun seperti yang bisa dibayangkan, usaha tersebut juga tidak berjalan semudah yang diharapkan.

Dari sinilah beberapa masalah dalam keluarga mulai saling berhubungan.

Ada masalah Eis di sekolah.

Ada usaha Emak yang sedang diperjuangkan.

Dan ada keluarga yang harus saling membantu untuk menghadapi semuanya.

POV: Opini Jujur Menurut Saya Soal Episode Ini

Masalahnya Sederhana Tapi Terasa Dekat

Salah satu hal yang saya suka dari episode pertama ini adalah masalah yang diberikan tidak terasa terlalu dibuat-buat.

Tidak ada konflik yang terlalu besar.

Tidak ada masalah yang terasa seperti harus dibuat dramatis hanya supaya penonton tertarik.

Justru masalah yang muncul terasa seperti masalah yang bisa saja terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Anak yang ingin mengikuti kegiatan sekolah tetapi masih mempunyai tanggung jawab di rumah.

Anak yang melakukan kesalahan dan harus mencari cara untuk memperbaikinya.

Orang tua yang sedang berusaha mencari jalan keluar dari masalah ekonomi keluarga.

Menurut saya hal-hal seperti ini membuat Keluarga Cemara terasa cukup membumi.

Karena mungkin tidak semua penonton pernah mengalami masalah yang sama persis.

Tapi perasaan dan situasinya masih cukup mudah untuk dipahami.

Konflik Eis Menurut Saya Cukup Menarik

Menurut saya konflik Eis menjadi salah satu bagian yang paling menarik dari episode ini.

Eis berada di posisi dimana dia ingin melakukan sesuatu yang dia sukai bersama teman-temannya.

Tapi di sisi lain dia juga mempunyai tanggung jawab di rumah.

Dan menurut saya hal seperti ini cukup dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja.

Kadang mereka ingin melakukan kegiatan bersama teman.

Ingin mengikuti lomba.

Ingin bermain.

Tapi tetap ada tanggung jawab yang harus dilakukan di rumah.

Jadi konflik Eis sebenarnya sederhana.

Tapi justru karena sederhana tersebut saya merasa konfliknya cukup mudah untuk dipahami.

Apalagi ketika masalah akuarium sekolah kemudian muncul.

Eis dan teman-temannya tidak hanya bisa menghindari masalah tersebut.

Mereka harus mencari cara untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah mereka lakukan.

Dan menurut saya ini menjadi salah satu pesan yang cukup bagus dari episode pertama.

Kesalahan Tidak Bisa Begitu Saja Ditinggalkan

Saya cukup suka dengan bagaimana serial ini menunjukkan bahwa ketika melakukan kesalahan, ada konsekuensi yang harus dihadapi.

Eis dan teman-temannya tidak hanya dimarahi.

Mereka juga diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tersebut.

Mereka patungan.

Mereka berjualan kue.

Mereka berusaha mengumpulkan uang untuk mengganti akuarium yang rusak.

Menurut saya bagian seperti ini cukup penting.

Karena anak-anak tidak hanya diajarkan bahwa melakukan kesalahan itu salah.

Tetapi juga diajarkan bahwa ketika sudah melakukan kesalahan, kita harus berusaha memperbaikinya.

Dan menurut saya pesan seperti ini justru terasa lebih kuat karena dimasukkan ke dalam cerita tanpa harus terlalu banyak memberikan ceramah kepada penonton.

Hubungan Abah dan Eis Terasa Hangat

Salah satu hal yang menurut saya cukup menarik adalah hubungan antara Abah dan Eis.

Abah tidak hanya menjadi sosok orang tua yang langsung memarahi ketika anak melakukan kesalahan.

Ada sisi dimana Abah mencoba memahami keadaan Eis.

Menurut saya hal seperti ini membuat hubungan mereka terasa cukup natural.

Karena menjadi orang tua bukan hanya tentang memberikan aturan kepada anak.

Tetapi juga tentang bagaimana orang tua bisa menjadi tempat anak untuk bercerita dan belajar ketika mereka melakukan kesalahan.

Dan menurut saya hubungan seperti inilah yang menjadi salah satu kekuatan Keluarga Cemara.

Bukan hanya masalah yang mereka hadapi.

Tetapi bagaimana setiap anggota keluarga menghadapi masalah tersebut bersama-sama.

Perjuangan Emak Juga Menambah Cerita

Selain cerita Eis, saya juga cukup tertarik dengan perjuangan Emak dalam mengembangkan usaha ayam gepreknya.

Karena dari sini kita bisa melihat bahwa masalah keluarga bukan hanya datang dari anak-anak.

Orang tua juga mempunyai perjuangan mereka sendiri.

Emak harus berusaha meyakinkan investor.

Harus membagi waktu.

Dan tetap harus menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.

Menurut saya bagian ini membuat cerita menjadi lebih lengkap.

Kalau hanya berfokus pada masalah Eis di sekolah, ceritanya mungkin akan terasa seperti drama keluarga yang hanya berpusat pada anak.

Tapi dengan adanya perjuangan Emak, kita bisa melihat bahwa setiap anggota keluarga sebenarnya mempunyai masalah masing-masing.

Dan semuanya tetap harus saling mendukung.

Keluarga Cemara Memang Tidak Membutuhkan Konflik yang Terlalu Besar

Menurut saya salah satu hal yang cukup menarik dari Keluarga Cemara adalah bagaimana cerita bisa terasa cukup emosional meskipun masalahnya sebenarnya sederhana.

Tidak harus ada konflik yang luar biasa.

Tidak harus ada plot twist besar.

Tidak harus ada masalah yang membuat penonton terus bertanya-tanya apa yang akan terjadi.

Cukup dengan memperlihatkan sebuah keluarga yang sedang berusaha menjalani kehidupan sehari-hari.

Menurut saya justru di situlah daya tariknya.

Karena penonton bisa lebih mudah melihat diri mereka sendiri di dalam cerita.

Entah itu sebagai anak.

Sebagai orang tua.

Atau mungkin sebagai seseorang yang sedang berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat.

Alurnya Menurut Saya Cukup Ringan

Untuk masalah alur, menurut saya episode pertama ini cukup mudah diikuti.

Memang ada beberapa masalah yang diperkenalkan.

Ada masalah Eis di sekolah.

Ada masalah akuarium.

Ada kegiatan berjualan kue.

Ada usaha Emak.

Tapi semuanya masih bisa diikuti dengan cukup mudah.

Menurut saya tempo ceritanya juga tidak terlalu lambat.

Setiap masalah mempunyai fungsi untuk memperlihatkan karakter dan hubungan antar tokoh.

Walaupun karena episode ini menjadi pembuka serial, ada beberapa karakter dan konflik yang diperkenalkan dalam waktu yang cukup berdekatan.

Tapi untuk saya pribadi hal tersebut masih bisa diterima.

Karena memang episode pertama biasanya digunakan untuk memperkenalkan dunia dan karakter yang akan menjadi bagian dari cerita berikutnya.

Pesan Moral Menurut Saya Cukup Kuat

Kalau berbicara mengenai pesan moral, menurut saya ini justru menjadi salah satu kekuatan terbesar episode pertama.

Ada tentang kejujuran.

Ada tentang tanggung jawab.

Ada tentang berani mengakui kesalahan.

Dan ada juga tentang bagaimana keluarga saling membantu ketika sedang menghadapi masalah.

Menurut saya pesan seperti ini memang sangat cocok dengan konsep Keluarga Cemara.

Karena dari awal cerita ini memang bukan hanya ingin menunjukkan masalah sebuah keluarga.

Tetapi juga ingin menunjukkan bagaimana keluarga tersebut menghadapi masalah bersama-sama.

Dan menurut saya itu terasa cukup jelas di episode pertama ini.

Tapi Ada Beberapa Bagian yang Menurut Saya Masih Kurang

Walaupun saya cukup menikmati episode pertamanya, bukan berarti semuanya terasa sempurna.

Menurut saya ada beberapa bagian yang masih bisa dikembangkan.

Beberapa Konflik Terasa Datang Bersamaan

Karena ini merupakan episode pertama, cukup banyak konflik yang harus diperkenalkan.

Ada masalah Eis.

Ada masalah sekolah.

Ada akuarium yang rusak.

Ada usaha Emak.

Dan ada masalah ekonomi keluarga.

Menurut saya hal ini memang diperlukan untuk membangun cerita.

Tapi di beberapa bagian saya merasa ceritanya sedikit terlalu padat.

Bukan berarti sulit dipahami.

Hanya saja saya merasa beberapa konflik mungkin bisa diberikan ruang yang lebih banyak supaya penonton bisa lebih mengenal karakter yang terlibat.

Beberapa Karakter Pendukung Belum Terlalu Dalam

Menurut saya karena fokus utama episode ini cukup banyak berada pada Eis dan keluarganya, beberapa karakter pendukung belum mendapatkan porsi yang terlalu besar.

Padahal menurut saya karakter-karakter tersebut sebenarnya bisa menjadi bagian menarik dari cerita.

Tapi karena ini baru episode pertama, saya masih bisa memakluminya.

Mungkin saja karakter-karakter tersebut akan mendapatkan perkembangan yang lebih banyak di episode berikutnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Episode Ini Menurut Opini Saya Pribadi

Kelebihan

1. Ceritanya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari

Menurut saya masalah yang diberikan cukup sederhana tetapi mudah dipahami.

Masalah sekolah, keluarga dan ekonomi semuanya terasa cukup realistis.

2. Pesan moralnya cukup kuat

Kejujuran dan tanggung jawab menjadi bagian penting dari cerita.

Menurut saya pesan tersebut juga disampaikan melalui tindakan karakter, bukan hanya melalui dialog.

3. Hubungan antar anggota keluarga terasa hangat.

Interaksi Abah, Emak dan Eis membuat suasana keluarga dalam serial ini terasa cukup kuat.

Ada masalah, tetapi mereka tetap berusaha saling mendukung.

4. Cocok untuk ditonton bersama keluarga

Menurut saya serial seperti ini memang cukup cocok untuk ditonton bersama keluarga.

Tidak terlalu berat.

Masalahnya mudah dipahami.

Dan ada beberapa nilai positif yang bisa didapatkan setelah menonton.

Kekurangan

1. Konfliknya cukup banyak untuk ukuran episode pertama

Menurut saya ada cukup banyak hal yang ingin diperkenalkan dalam satu episode.

Hal ini membuat beberapa bagian terasa sedikit padat.

2. Beberapa karakter pendukung belum terlalu mendapatkan porsi

Karena fokus utama berada pada Eis dan keluarganya, beberapa karakter lain menurut saya masih terasa belum terlalu berkembang.

3. Ceritanya mungkin terasa terlalu sederhana bagi sebagian penonton

Untuk saya pribadi sebenarnya ini bukan masalah.

Tapi kalau kalian mencari cerita dengan konflik yang besar atau plot twist yang mengejutkan, mungkin episode pertama ini bukan tipe tontonan seperti itu.

Kesimpulan: Layak Di Tonton Atau Lewati Saja?

Setelah selesai menonton episode pertama Keluarga Cemara: The Series, menurut saya serial ini cukup menarik untuk dilanjutkan.

Bukan karena episode pertamanya memberikan cerita yang luar biasa kompleks.

Justru sebaliknya.

Saya cukup menikmati karena masalah yang diberikan terasa sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ada anak yang ingin mengikuti kegiatan sekolah.

Ada tanggung jawab di rumah.

Ada kesalahan yang harus diperbaiki.

Ada orang tua yang sedang berusaha memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Dan ada keluarga yang mencoba menghadapi semuanya bersama-sama.

Menurut saya hal seperti inilah yang membuat Keluarga Cemara tetap mempunyai daya tarik.

Karena pada akhirnya keluarga bukan tentang siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Tetapi tentang bagaimana ketika salah satu anggota keluarga melakukan kesalahan, anggota keluarga lainnya tetap ada untuk membantu.

Saya juga cukup suka dengan cara serial ini menyampaikan pesan mengenai kejujuran dan tanggung jawab.

Eis melakukan kesalahan.

Tapi dia tidak hanya diminta untuk meminta maaf.

Dia juga harus berusaha memperbaiki kesalahan tersebut.

Dan menurut saya itu adalah pesan yang cukup bagus untuk penonton anak-anak maupun orang dewasa.

Kalau kalian mencari serial keluarga yang ringan, mempunyai pesan moral dan ceritanya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, menurut saya Keluarga Cemara: The Series bisa menjadi salah satu pilihan.

Tapi kalau kalian berharap mendapatkan konflik yang sangat besar sejak episode pertama, mungkin kalian perlu menurunkan ekspektasi.

Karena menurut saya kekuatan serial ini memang bukan pada konflik yang besar.

Kekuatan utamanya justru ada pada cerita sederhana tentang keluarga.

Tentang bagaimana mereka menghadapi masalah.

Tentang bagaimana mereka saling mendukung.

Dan tentang bagaimana sebuah keluarga tetap menjadi tempat untuk pulang ketika kehidupan sedang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Untuk episode pertamanya sendiri, menurut saya Keluarga Cemara: The Series sudah cukup berhasil memberikan gambaran mengenai apa yang ingin dibawa oleh serial ini. 

untuk rating IMDb sendiri, saat saya melihatnya film ini mendapatkan 8.0/10.