Review Film Bila Esok Ibu Tiada: Ketika Penyesalan Datang Setelah Ibu Pergi
Drama keluarga Lewati Reting RendahHari ini saya akan mencoba untuk review film Bila Esok Ibu Tiada setelah saya menonton di NSC demak bersama pasangan saya.
Kalau membahas film komedi Indonesia, rasanya cukup sulit untuk tidak membicarakan Warkop DKI.
Buat saya pribadi, Dono, Kasino dan Indro merupakan salah satu trio komedi yang namanya sudah sangat melekat dengan perfilman Indonesia. Bahkan kalau kalian tidak terlalu sering menonton film-film lama, kemungkinan besar kalian tetap pernah melihat potongan adegan atau mendengar berbagai macam guyonan khas Warkop DKI.
Karena itu ketika Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dirilis, saya cukup penasaran bagaimana karakter legendaris tersebut bisa dibawa kembali ke layar lebar dengan pemain yang berbeda.
Apalagi menurut saya tantangannya cukup besar.
Dono, Kasino dan Indro sudah mempunyai ciri khas masing-masing. Mulai dari cara bicara, gestur, ekspresi sampai gaya bercandanya, saya sendiri menonton film ini di CGV Semarang dengan format 4DX, dan jujur pengalaman menonton dengan format seperti ini membuat saya semakin menikmati visual yang ditampilkan dalam film.
Jadi ketika Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian dan Tora Sudiro dipercaya untuk memerankan mereka, saya cukup penasaran apakah ketiga pemain tersebut bisa membuat karakter Warkop terasa hidup kembali.
Setelah menonton filmnya, menurut saya Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 memang cukup berhasil membawa kembali nuansa Warkop DKI.
Tetapi di sisi lain, saya juga merasa film ini mempunyai beberapa kekurangan, terutama dari sisi cerita yang menurut saya terasa cukup sederhana.
Film ini lebih terasa sebagai film komedi dan nostalgia dibandingkan film yang mempunyai cerita kuat.
Film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 bercerita mengenai tiga sahabat yaitu Dono, Kasino dan Indro.
Ketiganya bekerja sebagai personel CHIIPS atau Cara Hebat Ikut-ikutan Orang Sukses.
Sebagai petugas keamanan, seharusnya mereka bertugas untuk menjaga keamanan.
Tetapi masalahnya, ketiga orang ini justru sering membuat kekacauan sendiri.
Bukannya menyelesaikan masalah, tingkah mereka yang ceroboh dan tidak kompeten justru membuat berbagai situasi menjadi semakin kacau.
Masalah kemudian menjadi semakin besar ketika mereka tidak sengaja menemukan uang milik mafia.
Dari sinilah petualangan mereka dimulai.
Film kemudian membawa Dono, Kasino dan Indro ke dalam berbagai macam situasi konyol yang dipenuhi dengan komedi khas Warkop DKI.
Yang menarik, film ini tidak hanya mencoba membuat cerita baru, tetapi juga membawa kembali berbagai macam elemen yang membuat penonton lama merasa familiar dengan Warkop DKI.
Jadi sepanjang film kita bisa melihat perpaduan antara cerita baru, komedi modern dan berbagai macam unsur nostalgia.
Menurut saya daya tarik terbesar dari film ini memang ada pada nostalgianya.
Buat penonton yang sudah mengenal Warkop DKI sejak dulu, melihat Dono, Kasino dan Indro kembali dalam sebuah film tentu memberikan sensasi tersendiri.
Walaupun diperankan oleh aktor yang berbeda, karakter mereka masih terasa familiar.
Mulai dari gaya bicara, ekspresi sampai tingkah laku mereka.
Buat saya bagian ini cukup berhasil.
Karena ketika sebuah film remake atau reboot mencoba membawa kembali karakter lama, menurut saya yang paling penting bukan hanya membuat pemain terlihat mirip.
Tetapi bagaimana energi dari karakter tersebut bisa tetap terasa.
Dan menurut saya Abimana, Vino dan Tora cukup berhasil melakukan hal tersebut.
Mereka tidak benar-benar menjadi Dono, Kasino dan Indro versi asli.
Tetapi mereka berhasil membuat versi baru dari ketiga karakter tersebut yang masih terasa familiar.
Nah kalau dari sisi pemain, menurut saya ini juga menjadi salah satu bagian yang menarik.
Abimana Aryasatya sebagai Dono, Vino G. Bastian sebagai Kasino dan Tora Sudiro sebagai Indro mempunyai tantangan yang cukup berat.
Karena mereka memainkan karakter yang sudah mempunyai penggemar sendiri.
Apalagi penonton tentu akan membandingkan mereka dengan Dono, Kasino dan Indro yang asli.
Tapi menurut saya ketiganya cukup berhasil.
Yang paling saya perhatikan bukan hanya bagaimana mereka menirukan penampilan karakter lama, tetapi juga cara mereka berinteraksi satu sama lain.
Ada beberapa adegan dimana interaksi mereka terasa cukup natural.
Terutama ketika mereka mulai saling menjahili atau berada dalam situasi yang memang sengaja dibuat kacau.
Menurut saya chemistry ketiganya menjadi salah satu alasan kenapa film ini masih bisa terasa menghibur.
Kalau chemistry antar pemainnya tidak cocok, mungkin film ini akan terasa seperti sekadar meniru Warkop DKI.
Tapi menurut saya hal tersebut tidak terlalu terasa.
Kalau dari sisi komedi, film ini memang sangat mengandalkan gaya humor khas Warkop DKI.
Ada slapstick, dialog konyol, situasi absurd sampai tingkah laku para karakternya yang memang sengaja dibuat berlebihan.
Buat saya beberapa bagian memang cukup lucu.
Ada beberapa adegan yang membuat saya tertawa karena situasinya memang cukup absurd.
Tetapi ada juga beberapa bagian yang menurut saya terasa biasa saja.
Dan menurut saya ini memang kembali lagi ke masalah selera.
Komedi memang sangat subjektif.
Ada joke yang menurut saya tidak terlalu lucu tetapi mungkin justru menjadi bagian favorit penonton lainnya.
Karena itu saya tidak terlalu mempermasalahkan kalau ada beberapa bagian yang menurut saya kurang lucu.
Yang penting secara keseluruhan film ini masih bisa memberikan hiburan.
Salah satu hal yang cukup terasa ketika melihat film ini dibandingkan Warkop DKI versi lama adalah kualitas produksinya.
Film ini dibuat dengan teknologi dan standar produksi yang lebih modern.
Pengambilan gambarnya lebih dinamis, visualnya lebih bersih dan beberapa adegan juga dibuat dengan skala yang lebih besar.
Menurut saya hal ini memang diperlukan.
Karena kalau hanya mengambil karakter Warkop DKI kemudian membuat film dengan gaya yang benar-benar sama seperti film lama, mungkin akan terasa kurang relevan untuk penonton generasi sekarang.
Jadi menurut saya perpaduan antara karakter lama dengan produksi modern ini cukup menarik.
Filmnya masih membawa semangat Warkop DKI, tetapi tampilannya sudah disesuaikan dengan perkembangan film Indonesia saat itu.
Nah, kalau ada satu hal yang menurut saya menjadi kekurangan film ini, mungkin adalah bagian ceritanya.
Menurut saya cerita Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 sebenarnya tidak terlalu kuat.
Ada cerita mengenai Dono, Kasino dan Indro yang bekerja di CHIIPS, kemudian mereka terlibat masalah setelah menemukan uang milik mafia.
Tetapi perkembangan ceritanya sendiri menurut saya terasa cukup sederhana.
Saya justru lebih banyak menikmati adegan komedi dan interaksi antar karakternya dibandingkan penasaran dengan bagaimana cerita tersebut akan berakhir.
Beberapa adegan juga terasa seperti dibuat untuk menghadirkan satu joke kemudian berpindah ke joke berikutnya.
Karena itu saya bisa memahami kalau ada penonton yang merasa film ini seperti kumpulan sketsa komedi yang kemudian disatukan menjadi sebuah cerita.
Buat saya pribadi hal tersebut tidak terlalu mengganggu karena memang dari awal saya menonton film ini untuk mencari hiburan.
Tapi kalau kalian berharap mendapatkan cerita yang kuat dengan konflik yang berkembang secara serius, mungkin kalian akan merasa ceritanya cukup biasa.
Hal lain yang menurut saya cukup terasa adalah keputusan untuk membagi film menjadi Part 1 dan Part 2.
Menurut saya ketika sebuah cerita dibagi menjadi dua bagian, tentu saja ada risiko bagian pertama terasa seperti belum selesai.
Dan hal tersebut cukup saya rasakan di film ini.
Ada beberapa bagian yang menurut saya terasa seperti sedang membangun cerita untuk sesuatu yang lebih besar, tetapi kemudian filmnya berhenti di tengah perjalanan.
Saya pribadi lebih suka kalau sebuah film mempunyai cerita yang terasa cukup lengkap dalam satu film.
Tapi di sisi lain, mungkin memang konsep Part 1 dan Part 2 dibuat untuk memberikan ruang lebih besar bagi karakter dan berbagai macam komedi yang ingin dimasukkan.
Jadi buat saya masalahnya bukan pada film yang dibagi menjadi dua bagian, tetapi bagaimana pembagian tersebut membuat cerita Part 1 terasa kurang utuh.
Menurut saya ini juga menjadi salah satu hal yang menarik untuk dibahas.
Warkop DKI bukan nama yang kecil.
Karena itu ketika sebuah film menggunakan nama Warkop DKI, tentu saja ekspektasi penonton menjadi sangat tinggi.
Penonton lama pasti akan membandingkan dengan film aslinya.
Sedangkan penonton baru mungkin akan melihat film ini sebagai film komedi biasa.
Dan menurut saya hal tersebut membuat posisi film ini cukup sulit.
Kalau terlalu banyak mengambil unsur lama, bisa dianggap hanya mengulang.
Tapi kalau terlalu banyak membuat sesuatu yang baru, bisa saja penonton merasa bahwa nuansa Warkop-nya sudah hilang.
Buat saya pribadi, film ini lebih enak dilihat sebagai bentuk penghormatan dan pengenalan kembali Warkop DKI kepada generasi baru.
Saya tidak melihatnya sebagai pengganti Dono, Kasino dan Indro versi asli.
Karena menurut saya versi asli tetap mempunyai tempatnya sendiri.
Sedangkan film ini mencoba membawa karakter tersebut ke generasi yang berbeda.
1. Nostalgianya sangat terasa
Menurut saya ini merupakan kelebihan terbesar film.
Karakter Dono, Kasino dan Indro masih terasa familiar sehingga penonton lama bisa mendapatkan kembali sedikit rasa nostalgia ketika menontonnya.
2. Pemilihan pemain cukup cocok
Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian dan Tora Sudiro menurut saya cukup berhasil membawa karakter Dono, Kasino dan Indro dalam versi mereka sendiri.
Gestur, cara bicara dan interaksi antar pemain menjadi salah satu bagian yang cukup menarik.
3. Kualitas produksi lebih modern
Dari sisi visual dan pengambilan gambar, film ini terasa jauh lebih modern.
Hal ini membuat Warkop DKI bisa diperkenalkan kembali kepada generasi baru dengan gaya produksi yang lebih sesuai dengan zamannya.
4. Komedinya cukup menghibur
Walaupun tidak semua joke menurut saya berhasil, secara keseluruhan masih ada cukup banyak adegan yang bisa membuat penonton tertawa.
Apalagi kalau memang kalian menyukai gaya komedi Warkop DKI.
1. Ceritanya cukup sederhana
Menurut saya konflik dan perkembangan ceritanya tidak terlalu kuat.
Fokus film lebih banyak berada pada komedi dan interaksi karakter dibandingkan perkembangan cerita.
2. Beberapa bagian terasa seperti sketsa
Ada beberapa adegan yang terasa seperti kumpulan sketsa komedi yang kemudian disatukan.
Hal tersebut membuat alurnya terkadang terasa kurang padu.
3. Part 1 membuat cerita terasa belum selesai
Karena film ini memang dibuat menjadi dua bagian, menurut saya bagian pertama terasa seperti belum memberikan penyelesaian yang benar-benar lengkap.
4. Ekspektasi terhadap nama Warkop DKI sangat tinggi
Bagi penonton yang sudah sangat mengenal Warkop DKI versi asli, film ini tentu akan sulit untuk tidak dibandingkan dengan Dono, Kasino dan Indro yang asli.
Secara pribadi setelah selesai menonton Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1, saya merasa film ini cukup berhasil sebagai film komedi nostalgia.
Saya cukup menikmati bagaimana karakter Dono, Kasino dan Indro dibawa kembali ke layar lebar dengan pemain baru.
Abimana, Vino dan Tora juga menurut saya cukup berhasil membuat ketiga karakter tersebut terasa hidup.
Tetapi kalau ditanya mengenai ceritanya, menurut saya film ini memang cukup sederhana.
Tidak terlalu banyak kejutan dan konflik yang diberikan juga tidak terlalu berat.
Saya justru lebih menikmati bagaimana ketiga karakter tersebut berinteraksi dan bagaimana komedinya dibangun.
Tapi balik lagi, mungkin memang itu tujuan utama film ini.
Film ini bukan film yang saya rasa dibuat untuk memberikan cerita yang kompleks.
Film ini lebih ingin menghibur penonton sekaligus memberikan rasa nostalgia terhadap Warkop DKI.
Kalau kalian merupakan penggemar Warkop DKI sejak dulu, menurut saya film ini cukup menarik untuk ditonton.
Bukan karena film ini bisa menggantikan versi asli, tetapi karena cukup menarik melihat bagaimana karakter legendaris tersebut diterjemahkan kembali oleh aktor generasi baru.
Sedangkan kalau kalian tidak terlalu mengenal Warkop DKI sebelumnya, mungkin film ini akan terasa seperti film komedi biasa dengan karakter yang cukup unik.
Untuk saya pribadi, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 cukup sebagai tontonan santai.
Saya tidak merasa film ini harus mempunyai cerita yang sangat kompleks karena dari awal daya tarik terbesarnya memang ada pada komedi, nostalgia dan chemistry para pemain.
Dan menurut saya bagian tersebut cukup berhasil.
Kalau ditanya apakah saya akan menonton ulang film ini?
Mungkin iya, tetapi lebih karena ingin menikmati kembali beberapa adegan komedinya dan melihat bagaimana Abimana, Vino dan Tora membawakan karakter Dono, Kasino dan Indro.
Pada akhirnya, Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 menurut saya adalah film yang lebih kuat dari sisi nostalgia dan komedi dibandingkan dari sisi ceritanya.
Jadi kalau kalian sedang mencari tontonan ringan yang penuh dengan nostalgia Warkop DKI, film ini masih cukup cocok untuk ditonton.
Dari awal menonton episode pertama Keluarga Cemara: The Series, saya sebenarnya cukup penasaran dengan bagaimana serial ini akan membawa kembali cerita tentang sebuah keluarga yang harus menghadapi berbagai macam masalah dalam kehidupan sehari-hari, walaupun banyak yang antusias saat film ini diputar, hal ini bisa dilihat dari cukup banyaknya orang remaja yang datang ke bioskop NSC Demak ketika film ini ditayangkan.
Karena menurut saya Keluarga Cemara memang mempunyai daya tarik tersendiri.
Bukan karena ceritanya harus mempunyai konflik yang besar.
Bukan juga karena harus ada drama yang terlalu berat.
Tapi justru karena masalah-masalah sederhana yang dialami oleh keluarga ini terasa cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dan setelah selesai menonton episode pertamanya, menurut saya serial ini memang mencoba mempertahankan hal tersebut.
Masalahnya sederhana.
Tentang sekolah.
Tentang tanggung jawab.
Tentang ekonomi keluarga.
Tentang kesalahan yang harus diperbaiki.
Dan tentu saja tentang bagaimana sebuah keluarga saling membantu ketika salah satu anggota keluarganya sedang menghadapi masalah.
Episode pertama Keluarga Cemara: The Series memperlihatkan kehidupan keluarga yang masih harus menghadapi berbagai macam tantangan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu fokus utama episode ini adalah Eis.
Eis sedang berusaha membagi waktunya antara kegiatan di sekolah dan tanggung jawabnya untuk membantu orang tua di rumah.
Di sekolah sendiri, Eis mempunyai keinginan untuk mengikuti lomba cerdas cermat bersama teman-temannya.
Tapi di sisi lain, ada tanggung jawab yang tetap harus dia lakukan di rumah.
Masalah kemudian menjadi semakin rumit ketika Eis dan teman-temannya secara tidak sengaja merusak akuarium sekolah.
Mereka akhirnya harus bertanggung jawab atas kesalahan tersebut.
Salah satu cara yang mereka lakukan adalah dengan patungan dan berjualan kue untuk mengumpulkan uang demi mengganti akuarium yang rusak.
Sementara itu, Emak juga sedang berusaha mengembangkan usaha ayam gepreknya.
Emak mencoba meyakinkan seorang investor agar mau membantu mengembangkan usahanya.
Namun seperti yang bisa dibayangkan, usaha tersebut juga tidak berjalan semudah yang diharapkan.
Dari sinilah beberapa masalah dalam keluarga mulai saling berhubungan.
Ada masalah Eis di sekolah.
Ada usaha Emak yang sedang diperjuangkan.
Dan ada keluarga yang harus saling membantu untuk menghadapi semuanya.
Salah satu hal yang saya suka dari episode pertama ini adalah masalah yang diberikan tidak terasa terlalu dibuat-buat.
Tidak ada konflik yang terlalu besar.
Tidak ada masalah yang terasa seperti harus dibuat dramatis hanya supaya penonton tertarik.
Justru masalah yang muncul terasa seperti masalah yang bisa saja terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Anak yang ingin mengikuti kegiatan sekolah tetapi masih mempunyai tanggung jawab di rumah.
Anak yang melakukan kesalahan dan harus mencari cara untuk memperbaikinya.
Orang tua yang sedang berusaha mencari jalan keluar dari masalah ekonomi keluarga.
Menurut saya hal-hal seperti ini membuat Keluarga Cemara terasa cukup membumi.
Karena mungkin tidak semua penonton pernah mengalami masalah yang sama persis.
Tapi perasaan dan situasinya masih cukup mudah untuk dipahami.
Menurut saya konflik Eis menjadi salah satu bagian yang paling menarik dari episode ini.
Eis berada di posisi dimana dia ingin melakukan sesuatu yang dia sukai bersama teman-temannya.
Tapi di sisi lain dia juga mempunyai tanggung jawab di rumah.
Dan menurut saya hal seperti ini cukup dekat dengan kehidupan anak-anak dan remaja.
Kadang mereka ingin melakukan kegiatan bersama teman.
Ingin mengikuti lomba.
Ingin bermain.
Tapi tetap ada tanggung jawab yang harus dilakukan di rumah.
Jadi konflik Eis sebenarnya sederhana.
Tapi justru karena sederhana tersebut saya merasa konfliknya cukup mudah untuk dipahami.
Apalagi ketika masalah akuarium sekolah kemudian muncul.
Eis dan teman-temannya tidak hanya bisa menghindari masalah tersebut.
Mereka harus mencari cara untuk bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah mereka lakukan.
Dan menurut saya ini menjadi salah satu pesan yang cukup bagus dari episode pertama.
Saya cukup suka dengan bagaimana serial ini menunjukkan bahwa ketika melakukan kesalahan, ada konsekuensi yang harus dihadapi.
Eis dan teman-temannya tidak hanya dimarahi.
Mereka juga diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan tersebut.
Mereka patungan.
Mereka berjualan kue.
Mereka berusaha mengumpulkan uang untuk mengganti akuarium yang rusak.
Menurut saya bagian seperti ini cukup penting.
Karena anak-anak tidak hanya diajarkan bahwa melakukan kesalahan itu salah.
Tetapi juga diajarkan bahwa ketika sudah melakukan kesalahan, kita harus berusaha memperbaikinya.
Dan menurut saya pesan seperti ini justru terasa lebih kuat karena dimasukkan ke dalam cerita tanpa harus terlalu banyak memberikan ceramah kepada penonton.
Salah satu hal yang menurut saya cukup menarik adalah hubungan antara Abah dan Eis.
Abah tidak hanya menjadi sosok orang tua yang langsung memarahi ketika anak melakukan kesalahan.
Ada sisi dimana Abah mencoba memahami keadaan Eis.
Menurut saya hal seperti ini membuat hubungan mereka terasa cukup natural.
Karena menjadi orang tua bukan hanya tentang memberikan aturan kepada anak.
Tetapi juga tentang bagaimana orang tua bisa menjadi tempat anak untuk bercerita dan belajar ketika mereka melakukan kesalahan.
Dan menurut saya hubungan seperti inilah yang menjadi salah satu kekuatan Keluarga Cemara.
Bukan hanya masalah yang mereka hadapi.
Tetapi bagaimana setiap anggota keluarga menghadapi masalah tersebut bersama-sama.
Selain cerita Eis, saya juga cukup tertarik dengan perjuangan Emak dalam mengembangkan usaha ayam gepreknya.
Karena dari sini kita bisa melihat bahwa masalah keluarga bukan hanya datang dari anak-anak.
Orang tua juga mempunyai perjuangan mereka sendiri.
Emak harus berusaha meyakinkan investor.
Harus membagi waktu.
Dan tetap harus menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu.
Menurut saya bagian ini membuat cerita menjadi lebih lengkap.
Kalau hanya berfokus pada masalah Eis di sekolah, ceritanya mungkin akan terasa seperti drama keluarga yang hanya berpusat pada anak.
Tapi dengan adanya perjuangan Emak, kita bisa melihat bahwa setiap anggota keluarga sebenarnya mempunyai masalah masing-masing.
Dan semuanya tetap harus saling mendukung.
Menurut saya salah satu hal yang cukup menarik dari Keluarga Cemara adalah bagaimana cerita bisa terasa cukup emosional meskipun masalahnya sebenarnya sederhana.
Tidak harus ada konflik yang luar biasa.
Tidak harus ada plot twist besar.
Tidak harus ada masalah yang membuat penonton terus bertanya-tanya apa yang akan terjadi.
Cukup dengan memperlihatkan sebuah keluarga yang sedang berusaha menjalani kehidupan sehari-hari.
Menurut saya justru di situlah daya tariknya.
Karena penonton bisa lebih mudah melihat diri mereka sendiri di dalam cerita.
Entah itu sebagai anak.
Sebagai orang tua.
Atau mungkin sebagai seseorang yang sedang berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah dibuat.
Untuk masalah alur, menurut saya episode pertama ini cukup mudah diikuti.
Memang ada beberapa masalah yang diperkenalkan.
Ada masalah Eis di sekolah.
Ada masalah akuarium.
Ada kegiatan berjualan kue.
Ada usaha Emak.
Tapi semuanya masih bisa diikuti dengan cukup mudah.
Menurut saya tempo ceritanya juga tidak terlalu lambat.
Setiap masalah mempunyai fungsi untuk memperlihatkan karakter dan hubungan antar tokoh.
Walaupun karena episode ini menjadi pembuka serial, ada beberapa karakter dan konflik yang diperkenalkan dalam waktu yang cukup berdekatan.
Tapi untuk saya pribadi hal tersebut masih bisa diterima.
Karena memang episode pertama biasanya digunakan untuk memperkenalkan dunia dan karakter yang akan menjadi bagian dari cerita berikutnya.
Kalau berbicara mengenai pesan moral, menurut saya ini justru menjadi salah satu kekuatan terbesar episode pertama.
Ada tentang kejujuran.
Ada tentang tanggung jawab.
Ada tentang berani mengakui kesalahan.
Dan ada juga tentang bagaimana keluarga saling membantu ketika sedang menghadapi masalah.
Menurut saya pesan seperti ini memang sangat cocok dengan konsep Keluarga Cemara.
Karena dari awal cerita ini memang bukan hanya ingin menunjukkan masalah sebuah keluarga.
Tetapi juga ingin menunjukkan bagaimana keluarga tersebut menghadapi masalah bersama-sama.
Dan menurut saya itu terasa cukup jelas di episode pertama ini.
Walaupun saya cukup menikmati episode pertamanya, bukan berarti semuanya terasa sempurna.
Menurut saya ada beberapa bagian yang masih bisa dikembangkan.
Karena ini merupakan episode pertama, cukup banyak konflik yang harus diperkenalkan.
Ada masalah Eis.
Ada masalah sekolah.
Ada akuarium yang rusak.
Ada usaha Emak.
Dan ada masalah ekonomi keluarga.
Menurut saya hal ini memang diperlukan untuk membangun cerita.
Tapi di beberapa bagian saya merasa ceritanya sedikit terlalu padat.
Bukan berarti sulit dipahami.
Hanya saja saya merasa beberapa konflik mungkin bisa diberikan ruang yang lebih banyak supaya penonton bisa lebih mengenal karakter yang terlibat.
Menurut saya karena fokus utama episode ini cukup banyak berada pada Eis dan keluarganya, beberapa karakter pendukung belum mendapatkan porsi yang terlalu besar.
Padahal menurut saya karakter-karakter tersebut sebenarnya bisa menjadi bagian menarik dari cerita.
Tapi karena ini baru episode pertama, saya masih bisa memakluminya.
Mungkin saja karakter-karakter tersebut akan mendapatkan perkembangan yang lebih banyak di episode berikutnya.
1. Ceritanya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari
Menurut saya masalah yang diberikan cukup sederhana tetapi mudah dipahami.
Masalah sekolah, keluarga dan ekonomi semuanya terasa cukup realistis.
2. Pesan moralnya cukup kuat
Kejujuran dan tanggung jawab menjadi bagian penting dari cerita.
Menurut saya pesan tersebut juga disampaikan melalui tindakan karakter, bukan hanya melalui dialog.
3. Hubungan antar anggota keluarga terasa hangat.
Interaksi Abah, Emak dan Eis membuat suasana keluarga dalam serial ini terasa cukup kuat.
Ada masalah, tetapi mereka tetap berusaha saling mendukung.
4. Cocok untuk ditonton bersama keluarga
Menurut saya serial seperti ini memang cukup cocok untuk ditonton bersama keluarga.
Tidak terlalu berat.
Masalahnya mudah dipahami.
Dan ada beberapa nilai positif yang bisa didapatkan setelah menonton.
1. Konfliknya cukup banyak untuk ukuran episode pertama
Menurut saya ada cukup banyak hal yang ingin diperkenalkan dalam satu episode.
Hal ini membuat beberapa bagian terasa sedikit padat.
2. Beberapa karakter pendukung belum terlalu mendapatkan porsi
Karena fokus utama berada pada Eis dan keluarganya, beberapa karakter lain menurut saya masih terasa belum terlalu berkembang.
3. Ceritanya mungkin terasa terlalu sederhana bagi sebagian penonton
Untuk saya pribadi sebenarnya ini bukan masalah.
Tapi kalau kalian mencari cerita dengan konflik yang besar atau plot twist yang mengejutkan, mungkin episode pertama ini bukan tipe tontonan seperti itu.
Setelah selesai menonton episode pertama Keluarga Cemara: The Series, menurut saya serial ini cukup menarik untuk dilanjutkan.
Bukan karena episode pertamanya memberikan cerita yang luar biasa kompleks.
Justru sebaliknya.
Saya cukup menikmati karena masalah yang diberikan terasa sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ada anak yang ingin mengikuti kegiatan sekolah.
Ada tanggung jawab di rumah.
Ada kesalahan yang harus diperbaiki.
Ada orang tua yang sedang berusaha memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Dan ada keluarga yang mencoba menghadapi semuanya bersama-sama.
Menurut saya hal seperti inilah yang membuat Keluarga Cemara tetap mempunyai daya tarik.
Karena pada akhirnya keluarga bukan tentang siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan.
Tetapi tentang bagaimana ketika salah satu anggota keluarga melakukan kesalahan, anggota keluarga lainnya tetap ada untuk membantu.
Saya juga cukup suka dengan cara serial ini menyampaikan pesan mengenai kejujuran dan tanggung jawab.
Eis melakukan kesalahan.
Tapi dia tidak hanya diminta untuk meminta maaf.
Dia juga harus berusaha memperbaiki kesalahan tersebut.
Dan menurut saya itu adalah pesan yang cukup bagus untuk penonton anak-anak maupun orang dewasa.
Kalau kalian mencari serial keluarga yang ringan, mempunyai pesan moral dan ceritanya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari, menurut saya Keluarga Cemara: The Series bisa menjadi salah satu pilihan.
Tapi kalau kalian berharap mendapatkan konflik yang sangat besar sejak episode pertama, mungkin kalian perlu menurunkan ekspektasi.
Karena menurut saya kekuatan serial ini memang bukan pada konflik yang besar.
Kekuatan utamanya justru ada pada cerita sederhana tentang keluarga.
Tentang bagaimana mereka menghadapi masalah.
Tentang bagaimana mereka saling mendukung.
Dan tentang bagaimana sebuah keluarga tetap menjadi tempat untuk pulang ketika kehidupan sedang tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Untuk episode pertamanya sendiri, menurut saya Keluarga Cemara: The Series sudah cukup berhasil memberikan gambaran mengenai apa yang ingin dibawa oleh serial ini.
untuk rating IMDb sendiri, saat saya melihatnya film ini mendapatkan 8.0/10.