Review Film Bila Esok Ibu Tiada: Ketika Penyesalan Datang Setelah Ibu Pergi

Review Film Bila Esok Ibu Tiada: Ketika Penyesalan Datang Setelah Ibu Pergi

Bila Esok ibu Telah Tiada

Hari ini saya akan mencoba untuk review film Bila Esok Ibu Tiada setelah saya menonton di NSC demak bersama pasangan saya.

Dari judulnya saja sebenarnya saya sudah bisa membayangkan kalau film ini bukan merupakan film yang ringan.

Apalagi kalau kita bicara mengenai cerita tentang seorang ibu dan hubungan antara orang tua dengan anak-anaknya.

Menurut saya tema seperti ini memang cukup dekat dengan kehidupan banyak orang.

Kita semua mungkin pernah berada di posisi terlalu sibuk dengan pekerjaan, terlalu fokus dengan kehidupan masing-masing, sampai akhirnya tanpa sadar mulai jarang menghubungi atau menghabiskan waktu bersama orang tua.

Dan menurut saya, hal itulah yang coba diangkat oleh film Bila Esok Ibu Tiada.

Film ini bercerita mengenai sebuah keluarga yang mulai mengalami keretakan setelah meninggalnya sang ayah, Pak Hario.

Sementara itu, sang ibu, Ibu Rahmi, harus menjalani kehidupan dengan rasa kesepian karena keempat anaknya, Ranika, Rangga, Rania dan Hening, sudah mempunyai kesibukan masing-masing.

Dari sinilah konflik dalam keluarga tersebut mulai muncul.

Sinopsis Singkat: Bila Esok Ibu Tiada

Bila Esok Ibu Tiada menceritakan tentang Ibu Rahmi yang tinggal bersama kenangan keluarganya setelah suaminya meninggal dunia.

Keempat anaknya sebenarnya masih ada.

Tetapi masalahnya, mereka sudah terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Ada yang sibuk dengan pekerjaan, ada yang sibuk dengan urusan pribadi, dan ada juga yang justru lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Sampai akhirnya perhatian kepada sang ibu semakin berkurang.

Bahkan ketika hari ulang tahun Ibu Rahmi tiba, anak-anaknya justru tidak mengingatnya.

Hal sederhana seperti ini kemudian menjadi salah satu gambaran bahwa hubungan mereka sebagai keluarga memang sudah mulai renggang.

Belum lagi hubungan antara keempat saudara tersebut yang juga sering diwarnai pertengkaran dan ego masing-masing.

Di tengah kondisi tersebut, kesehatan Ibu Rahmi ternyata juga mulai memburuk.

Masalahnya, anak-anaknya tidak benar-benar menyadari kondisi sang ibu.

Dan kemudian terjadilah sebuah peristiwa yang menjadi titik balik dari cerita ini.

Ibu Rahmi meninggal dunia.

Setelah itu, barulah keempat anaknya mulai menyadari betapa pentingnya keberadaan sang ibu selama ini.

Mereka mulai dihantui rasa bersalah dan penyesalan karena merasa belum memberikan cukup waktu untuk ibunya.

Dari sinilah mereka kemudian mencoba memperbaiki hubungan sebagai saudara dan belajar untuk menghargai kebersamaan yang sebelumnya sering mereka abaikan.

Cerita Tentang Kesibukan Anak dan Kesepian Seorang Ibu

Menurut saya, bagian yang paling kuat dari film ini adalah bagaimana film menggambarkan kesepian seorang ibu.

Ibu Rahmi sebenarnya tidak sendirian.

Dia mempunyai empat orang anak.

Tetapi mempunyai anak tidak selalu berarti seseorang tidak bisa merasa kesepian.

Dan menurut saya, film ini cukup berhasil menunjukkan hal tersebut.

Keempat anaknya masih mempunyai kehidupan masing-masing.

Mereka bukan anak-anak yang benar-benar tidak peduli kepada ibunya.

Masalahnya adalah mereka terlalu sibuk.

Dan menurut saya justru hal seperti ini yang membuat ceritanya terasa cukup dekat dengan kehidupan nyata.

Karena dalam kehidupan sehari-hari, mungkin banyak orang yang sebenarnya sayang kepada orang tuanya.

Tetapi karena pekerjaan, keluarga, bisnis, atau berbagai kesibukan lainnya, akhirnya waktu untuk orang tua semakin sedikit.

Awalnya mungkin hanya tidak sempat menelepon.

Kemudian tidak sempat pulang.

Lalu mulai jarang bertemu.

Sampai akhirnya kita baru menyadari betapa berharganya waktu tersebut ketika semuanya sudah terlambat.

Konflik Antar Saudara Terasa Cukup Realistis

Selain hubungan antara anak dan ibu, film ini juga cukup banyak membahas hubungan antara Ranika, Rangga, Rania dan Hening.

Menurut saya konflik antar saudara di film ini terasa cukup realistis.

Mereka mempunyai karakter dan kepentingan masing-masing.

Ketika masing-masing mulai membawa ego dan masalah pribadi, hubungan mereka sebagai saudara juga ikut menjadi renggang.

Dan menurut saya ini merupakan salah satu hal yang menarik dari film ini.

Karena terkadang masalah keluarga bukan selalu muncul karena seseorang tidak menyayangi keluarganya.

Tetapi karena masing-masing merasa dirinya paling benar.

Akhirnya komunikasi menjadi semakin buruk dan masalah kecil bisa berubah menjadi pertengkaran besar.

Saya rasa banyak keluarga yang mungkin pernah mengalami situasi seperti ini.


Bagian Paling Menyakitkan Ada Setelah Ibu Pergi

Kalau ditanya bagian yang paling membuat saya merasa sedih, tentu saja ketika Ibu Rahmi meninggal dunia.

Tetapi menurut saya yang lebih menyakitkan justru apa yang terjadi setelahnya.

Karena ketika Ibu Rahmi masih hidup, anak-anaknya masih mempunyai kesempatan untuk memperbaiki hubungan.

Masih bisa menelepon.

Masih bisa pulang.

Masih bisa meminta maaf.

Masih bisa duduk bersama.

Tetapi setelah ibunya meninggal, semua kesempatan tersebut sudah tidak ada lagi.

Dan menurut saya di sinilah film ini benar-benar berhasil memberikan pukulan emosional kepada penonton.

Penyesalan memang selalu terasa lebih berat ketika kita sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi.

Mungkin sebelumnya kita berpikir,

“Nanti saja saya telepon ibu.”

“Nanti kalau sudah tidak sibuk saya pulang.”

“Nanti kalau pekerjaan sudah selesai saya akan menghabiskan waktu bersama orang tua.”

Masalahnya adalah kita tidak pernah benar-benar tahu apakah kata “nanti” tersebut masih akan mempunyai kesempatan untuk dilakukan.

Film Ini Cukup Relevan Dengan Kehidupan Sekarang

Menurut saya pesan dari Bila Esok Ibu Tiada cukup sederhana.

Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari betapa pentingnya orang tersebut.

Dan menurut saya pesan seperti ini memang masih sangat relevan.

Apalagi sekarang banyak orang yang mempunyai kesibukan masing-masing.

Pekerjaan semakin banyak.

Tuntutan hidup semakin besar.

Bahkan ketika sedang bersama keluarga pun terkadang kita masih sibuk dengan handphone masing-masing.

Pada akhirnya waktu bersama orang tua bisa menjadi sesuatu yang semakin jarang dilakukan.

Dan film ini seperti mengingatkan kita bahwa orang tua tidak selamanya ada.

Saya rasa ini adalah salah satu pesan yang memang cukup bagus dari film ini.


Menurut Saya Filmnya Sangat Menguras Emosi

Nah, kalau kalian mencari film yang ringan dan bisa ditonton untuk bersantai, mungkin Bila Esok Ibu Tiada bukan pilihan yang tepat.

Karena dari awal film memang sudah membawa tema keluarga dan hubungan antara anak dengan orang tua.

Ditambah lagi dengan konflik antar saudara yang cukup intens.

Beberapa pertengkaran di dalam film menurut saya juga cukup menguras emosi.

Bahkan ada beberapa bagian yang mungkin membuat penonton merasa kesal melihat tingkah karakter-karakternya.

Tetapi menurut saya hal tersebut memang menjadi bagian dari cerita.

Film ini memang ingin menunjukkan bagaimana sebuah keluarga bisa menjadi berantakan ketika komunikasi dan perhatian mulai hilang.

Jadi walaupun cukup melelahkan secara emosional, saya masih bisa memahami kenapa konflik tersebut dibuat seperti itu.

Apakah Film Bila Esok Ibu Tiada Bagus?

Menurut saya, iya.

Film ini bukan film yang sempurna.

Tetapi sebagai sebuah drama keluarga, menurut saya Bila Esok Ibu Tiada berhasil menyampaikan pesan yang ingin diberikan kepada penonton.

Hal yang paling saya suka adalah film ini tidak hanya berbicara mengenai kematian seorang ibu.

Tetapi juga berbicara mengenai penyesalan.

Karena setelah seseorang pergi, kita mungkin baru mulai mengingat hal-hal kecil yang sebelumnya kita anggap biasa.

Telepon dari ibu.

Masakan ibu.

Pesan dari ibu.

Pertanyaan sederhana seperti sudah makan atau belum.

Hal-hal yang ketika masih ada mungkin terasa biasa saja.

Tetapi setelah orang tersebut tidak ada, justru hal-hal kecil tersebut yang paling kita rindukan.

Kelebihan dan Kekurangan Film Bila Esok Ibu Tiada

Kelebihan

1. Pesan moralnya kuat

Menurut saya ini merupakan kekuatan terbesar film.

Pesannya sederhana, tetapi cukup mudah diterima oleh penonton.

Film ini mengingatkan kita untuk tidak menunggu kehilangan orang tua sebelum mulai menghargai keberadaan mereka.

2. Konflik keluarganya terasa realistis

Pertengkaran antara saudara, kesibukan pekerjaan dan kurangnya komunikasi membuat ceritanya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

3. Berhasil membangun emosi

Film ini memang dibuat untuk menguras emosi penonton.

Terutama ketika cerita mulai masuk ke bagian kehilangan Ibu Rahmi dan penyesalan anak-anaknya.

4. Mudah membuat penonton melakukan refleksi diri

Menurut saya ini yang paling menarik.

Setelah menonton film seperti ini, kita bisa saja mulai berpikir mengenai hubungan kita sendiri dengan orang tua.

Apakah kita sudah cukup sering menghubungi mereka?

Apakah kita masih sering menghabiskan waktu bersama mereka?

Atau selama ini kita terlalu sibuk dengan kehidupan masing-masing?

Kekurangan

1. Konfliknya cukup menguras emosi

Buat saya pribadi, beberapa pertengkaran antar karakter terasa cukup melelahkan untuk diikuti.

2. Ceritanya sangat sedih

Ini sebenarnya bukan kekurangan mutlak.

Tetapi kalau kalian lebih suka film keluarga yang ringan atau mempunyai banyak unsur komedi, mungkin film ini akan terasa cukup berat.

3. Beberapa bagian terasa sangat dramatis

Karena film memang ingin memberikan dampak emosional yang besar kepada penonton, ada beberapa bagian yang menurut saya terasa cukup dibuat untuk memancing air mata.


Kesimpulan: Layak Ditonton atau Tidak?

Jadi setelah menonton Bila Esok Ibu Tiada, menurut saya film ini masih sangat layak untuk ditonton, terutama untuk kalian yang memang menyukai film drama keluarga.

Film ini memang cukup sedih.

Bahkan menurut saya kalian harus mempersiapkan diri kalau tidak ingin tiba-tiba merasa emosional ketika menontonnya.

Tetapi justru dari kesedihan tersebut film ini mempunyai pesan yang cukup kuat.

Kita sering kali berpikir bahwa masih ada waktu.

Masih ada hari esok.

Masih bisa menelepon nanti.

Masih bisa pulang minggu depan.

Masih bisa mengajak orang tua makan bersama lain kali.

Padahal kita tidak pernah tahu kapan kesempatan terakhir tersebut datang.

Dan menurut saya itulah alasan kenapa judul Bila Esok Ibu Tiada terasa cukup kuat.

Film ini seperti memberikan pertanyaan sederhana kepada kita.

Kalau besok ibu sudah tidak ada, apakah kita akan menyesal karena selama ini terlalu sibuk untuknya?

Menurut saya, itu adalah pertanyaan yang cukup menyakitkan.

Karena mungkin sebagian dari kita memang pernah terlalu sibuk dengan kehidupan sendiri sampai lupa bahwa orang tua juga hanya mempunyai waktu yang terbatas.

Secara keseluruhan, saya cukup menikmati film ini.

Bukan karena ceritanya ringan atau menghibur, tetapi karena film ini berhasil membuat saya kembali berpikir mengenai arti keluarga dan waktu bersama orang tua.

Untuk rating pribadi, saya memberikan 8,5/10.

Menurut saya nilai tersebut cukup sesuai dengan bagaimana film ini menyampaikan pesan dan membangun emosinya.

Tetapi yang paling penting dari film ini bukan soal ratingnya.

Menurut saya, justru setelah keluar dari bioskop, kita bisa bertanya kepada diri sendiri:

Kapan terakhir kali kita benar-benar meluangkan waktu untuk ibu dan orang tua kita?

Karena selama mereka masih ada, mungkin hal sederhana seperti menelepon, pulang ke rumah, makan bersama atau sekadar duduk dan berbicara sebenarnya sudah cukup berarti.

Jangan sampai kita baru menyadari betapa berharganya mereka setelah semuanya terlambat.