Review Film Review Pengabdi Setan (2017): Remake yang Berhasil Melampaui Bayang-Bayang Versi Klasiknya

Review Film Review Pengabdi Setan (2017): Remake yang Berhasil Melampaui Bayang-Bayang Versi Klasiknya

Pengabdi Setan


Film horor Indonesia memang sudah cukup banyak dibuat, tetapi ada beberapa judul yang menurut saya mempunyai posisi cukup spesial karena bukan hanya berhasil membuat penonton takut, tetapi juga berhasil menjadi pembicaraan banyak orang.

Salah satunya adalah Pengabdi Setan.

Berbeda dengan beberapa film sebelumnya yang saya tonton di bioskop, kali ini saya menonton Pengabdi Setan langsung dari rumah melalui Netflix bersama pasangan saya.

Film yang disutradarai oleh Joko Anwar ini sebenarnya merupakan remake dari film dengan judul yang sama yang dirilis pada tahun 1980-an. Karena itu menurut saya ada beban tersendiri ketika film ini dibuat ulang.

Apalagi film versi klasiknya sendiri sudah cukup dikenal oleh penonton Indonesia.

Saya sendiri akhirnya mencoba menonton Pengabdi Setan (2017) karena memang penasaran dengan film yang cukup sering disebut sebagai salah satu film horor Indonesia yang berhasil mendapatkan perhatian besar dari penonton.

Ditambah lagi setelah melihat Pengabdi Setan 2, saya justru semakin penasaran dengan film pertamanya.

Karena kalau boleh jujur, setelah menonton sekuelnya saya merasa Pengabdi Setan 2 mempunyai kualitas yang jauh lebih menarik dibandingkan film pertamanya, terutama dari sisi akting dan bagaimana cerita tersebut dieksekusi.

Jadi ketika akhirnya kembali menonton film pertamanya, ekspektasi saya sebenarnya cukup tinggi.

Tapi setelah selesai menonton, menurut saya film ini tidak sebaik yang saya bayangkan.

Bukan berarti Pengabdi Setan (2017) merupakan film yang jelek.

Justru ada beberapa hal yang menurut saya sangat bagus dan menjadi alasan kenapa film ini tetap menarik untuk ditonton.

Tapi kalau dibandingkan dengan hype yang dimiliki film ini dan bagaimana saya melihat kualitas sekuelnya, saya pribadi merasa film pertama ini masih mempunyai beberapa masalah yang cukup terasa.

Sinopsis Singkat: Pengabdi Setan

Pengabdi Setan bercerita mengenai sebuah keluarga yang hidup bersama seorang ibu yang sudah lama menderita sakit.

Setelah sang ibu meninggal dunia, berbagai kejadian aneh mulai terjadi di rumah tersebut.

Rini dan keluarganya kemudian mulai mengalami berbagai macam kejadian yang berhubungan dengan sosok ibu mereka.

Masalahnya semakin rumit ketika berbagai kejadian supernatural mulai mengganggu keluarga tersebut.

Dari sini kemudian film membawa penonton untuk mengikuti bagaimana keluarga Rini mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa hubungan kematian sang ibu dengan berbagai kejadian yang mereka alami.

Secara konsep sebenarnya cukup menarik.

Apalagi film ini mempunyai atmosfer rumah tua yang menurut saya memang sangat cocok untuk film horor.

Rumah, kamar, lorong dan berbagai sudut gelap yang digunakan dalam film juga membuat suasananya terasa cukup kuat.

Tapi masalahnya menurut saya bukan berada pada konsep dasarnya.

Justru beberapa masalah muncul ketika cerita mulai berjalan dan beberapa kejadian terasa seperti muncul hanya karena memang dibutuhkan oleh cerita.

POV: Opini Jujur dan Hal-Hal Yang Menarik Dari Pengabdi Setan

Atmosfer Horornya Masih Menjadi Salah Satu Kelebihan Terbesar

Kalau membahas Pengabdi Setan, menurut saya kita tidak bisa mengabaikan bagaimana film ini membangun atmosfer horornya.

Dari awal film sudah terasa bahwa rumah yang menjadi tempat tinggal keluarga Rini memang mempunyai suasana yang tidak nyaman.

Bukan hanya karena ada sosok hantu atau adegan jumpscare, tetapi karena lingkungan rumahnya sendiri sudah terasa menyeramkan.

Beberapa ruangan yang gelap, suara-suara yang muncul dan bagaimana kamera memperlihatkan bagian tertentu dari rumah membuat saya cukup sering merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya ada di belakang karakter.

Menurut saya bagian seperti ini justru lebih menarik dibandingkan ketika film hanya mengandalkan jumpscare.

Karena ketika penonton dibuat memperhatikan latar belakang atau sudut ruangan, ada rasa penasaran apakah memang ada sesuatu di sana atau tidak.

Dan film ini cukup sering memainkan hal tersebut.

Detail Horornya Menurut Saya Cukup Bagus

Nah ini salah satu bagian yang menurut saya cukup menarik.

Saya sangat suka bagaimana film ini menggunakan berbagai detail horor yang terasa lebih nyata.

Salah satu contohnya adalah penggunaan lalat.

Memang terdengar seperti hal kecil, tetapi menurut saya detail seperti ini justru membuat adegan tertentu terasa lebih menjijikkan dan tidak nyaman.

Penggunaan properti nyata dibandingkan terlalu banyak mengandalkan CGI membuat beberapa bagian terasa lebih otentik.

Apalagi ketika melihat detail lalat tersebut, rasanya memang seperti melihat sesuatu yang benar-benar ada di dalam situasi tersebut.

Buat saya hal seperti ini cukup penting dalam film horor.

Karena terkadang sesuatu yang sederhana justru bisa memberikan rasa tidak nyaman yang lebih kuat dibandingkan efek CGI yang terlalu berlebihan.


Hidden Jump Scare Yang Cukup Menarik

Selain detail horornya, ada juga beberapa teknik jumpscare yang menurut saya cukup bagus.

Salah satunya adalah ketika film menempatkan sesuatu di latar belakang tanpa langsung membuat penonton menyadarinya.

Misalnya ketika ada bayangan Bondi di kamar ibu.

Adegan seperti ini menurut saya lebih menarik karena penonton tidak selalu diberikan tanda bahwa sesuatu akan muncul.

Jadi kita bisa saja sedang memperhatikan karakter di depan layar, tetapi ternyata ada sesuatu yang bergerak atau muncul di bagian belakang.

Menurut saya teknik seperti ini cukup efektif.

Karena penonton tidak hanya menunggu suara keras atau sesuatu yang tiba-tiba muncul di depan kamera.

Justru kita dibuat sedikit curiga dengan setiap sudut frame.

Dan menurut saya teknik hidden jump scare seperti ini menjadi salah satu hal yang cukup saya suka dari film ini.


Tapi Masalahnya Ada di Konsistensi Cerita

Nah, kalau dari sisi cerita saya justru mempunyai cukup banyak masalah.

Salah satu yang cukup mengganggu adalah beberapa kejadian yang menurut saya terasa kurang konsisten.

Contohnya adalah kondisi Bondi yang mengalami kerasukan.

Ada beberapa bagian dimana kondisinya seperti menjadi sangat penting, tetapi kemudian keadaan tersebut bisa berubah dan tidak selalu mendapatkan penjelasan yang menurut saya cukup kuat.

Saya jadi beberapa kali bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan karakter tersebut.

Hal yang sama juga saya rasakan terhadap kursi roda.

Di satu sisi kursi roda digunakan sebagai bagian yang membuat suasana menjadi menyeramkan.

Tapi di bagian lain benda tersebut justru seperti menjadi sesuatu yang membantu atau bahkan menyelamatkan karakter.

Buat saya perubahan fungsi seperti ini terasa cukup membingungkan.

Mungkin sebenarnya ada penjelasan tertentu di dalam cerita yang bisa membuat semuanya masuk akal.

Tapi ketika saya menontonnya, saya pribadi merasa beberapa bagian tersebut belum dijelaskan dengan cukup baik.


Ada Beberapa Kejadian Yang Terasa Hanya Karena Kebutuhan Plot

Selain masalah konsistensi, saya juga merasa ada beberapa kejadian yang seperti muncul hanya karena cerita membutuhkan karakter tersebut untuk muncul.

Salah satunya adalah Budiman.

Kemunculan Budiman di saat yang cukup krusial menurut saya memang membantu cerita untuk bergerak ke arah berikutnya.

Tapi yang membuat saya bertanya-tanya adalah bagaimana sebenarnya dia bisa mengetahui kondisi keluarga Rini dan bagaimana dia bisa mengetahui lokasi mereka.

Karena film tidak memberikan penjelasan yang menurut saya cukup jelas mengenai hal tersebut.

Jadi ketika karakter tersebut tiba-tiba muncul dan kemudian memberikan informasi penting, saya justru merasa seperti sedang melihat sebuah karakter yang dimunculkan karena memang cerita membutuhkan seseorang untuk menjelaskan sesuatu.

Menurut saya ini yang membuat beberapa bagian cerita terasa kurang natural.

Bukan berarti keberadaan karakternya tidak penting.

Tetapi cara memasukkannya ke dalam cerita menurut saya masih terasa agak dipaksakan.


Dialognya Menurut Saya Terlalu Baku

Satu hal lain yang cukup saya perhatikan adalah dialog para karakternya.

Karena film ini mengambil latar waktu tahun 1981, saya sebenarnya berharap dialog yang digunakan bisa terasa lebih natural dan sesuai dengan periode tersebut.

Tapi beberapa dialog menurut saya justru terasa cukup baku.

Kadang saya merasa seperti sedang mendengar karakter yang berbicara dengan bahasa film, bukan orang yang benar-benar sedang berbicara dalam kehidupan sehari-hari.

Memang ini bukan masalah yang sampai membuat saya tidak bisa menikmati filmnya.

Tapi ketika diperhatikan, ada beberapa percakapan yang terasa kurang natural.

Dan menurut saya hal seperti ini cukup berpengaruh terhadap bagaimana penonton bisa merasa dekat dengan karakter.


Aktingnya Menurut Saya Masih Bisa Lebih Baik

Untuk masalah akting sebenarnya saya tidak ingin mengatakan bahwa seluruh pemainnya buruk.

Ada beberapa pemain yang menurut saya sudah cukup baik dalam membawa karakternya.

Tetapi kalau dibandingkan dengan Pengabdi Setan 2, saya justru merasa sekuelnya mempunyai peningkatan yang cukup terasa dari sisi akting.

Di film kedua, interaksi antar karakter menurut saya terasa lebih natural dan ekspresinya juga lebih meyakinkan.

Sedangkan di film pertama ini masih ada beberapa bagian dimana saya merasa aktingnya belum terlalu kuat.

Mungkin ini juga salah satu alasan kenapa ketika saya menonton film pertama setelah melihat sekuelnya, perbedaannya menjadi lebih terasa.

Karena saya sudah mempunyai pembanding.


Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Pengabdi Setan

Kelebihan:

1. Atmosfer horornya cukup kuat

Rumah dan lingkungan yang digunakan dalam film berhasil menciptakan suasana yang tidak nyaman.

Tidak hanya mengandalkan jumpscare, tetapi juga menggunakan ruang dan suasana untuk membangun rasa takut.

2. Detail horornya terasa nyata

Penggunaan properti nyata, termasuk detail lalat, menurut saya menjadi salah satu bagian yang cukup bagus.

Detail kecil seperti ini justru membuat beberapa adegan terasa lebih menjijikkan dan memberikan kesan horor yang lebih nyata.

3. Hidden jump scare cukup menarik

Beberapa jumpscare yang ditempatkan di latar belakang menurut saya lebih menarik dibandingkan jumpscare yang hanya mengandalkan suara keras dan kemunculan tiba-tiba.

Teknik seperti bayangan Bondi di kamar ibu menjadi salah satu contoh yang menurut saya cukup efektif.


Kekurangan:

1. Alurnya kurang konsisten

Beberapa kejadian seperti kerasukan Bondi dan penggunaan kursi roda terasa tidak selalu mempunyai penjelasan yang cukup jelas.

Hal tersebut membuat saya beberapa kali merasa bingung dengan aturan yang sebenarnya berlaku di dalam cerita.

2. Ada beberapa plot hole

Kemunculan Budiman menjadi salah satu contoh yang menurut saya cukup terasa.

Karakter tersebut muncul di saat yang penting, tetapi bagaimana dia bisa mengetahui kondisi dan lokasi keluarga Rini menurut saya tidak dijelaskan dengan cukup baik.

3. Dialog terasa terlalu baku

Untuk film yang menggunakan latar tahun 1981, beberapa percakapan menurut saya terasa terlalu formal dan kurang natural.

4. Akting dan eksekusi cerita masih kalah dibandingkan sekuelnya

Ini memang kembali ke opini pribadi saya.

Setelah melihat Pengabdi Setan 2, saya merasa sekuelnya mempunyai peningkatan yang cukup terasa terutama dari sisi akting dan bagaimana cerita dieksekusi.

Karena itu ketika kembali melihat film pertamanya, beberapa kekurangannya menjadi lebih mudah saya perhatikan.


Kesimpulan: Apakah Pengabdi Setan (2017) Masih Layak Ditonton?

Secara pribadi setelah selesai menonton Pengabdi Setan (2017), saya merasa film ini masih cukup menarik untuk ditonton.

Terutama kalau kalian memang penasaran dengan salah satu film horor Indonesia yang cukup terkenal dan ingin melihat bagaimana Joko Anwar membuat ulang film klasik dengan pendekatan yang lebih modern.

Ada banyak hal yang menurut saya memang berhasil.

Atmosfernya kuat, detail horornya cukup bagus dan beberapa teknik hidden jump scare menurut saya cukup menarik.

Tapi di sisi lain, saya merasa ceritanya masih mempunyai beberapa masalah.

Ada beberapa bagian yang terasa tidak konsisten, beberapa kejadian seperti hanya terjadi karena kebutuhan plot dan dialognya menurut saya masih terlalu baku.

Dan yang paling terasa buat saya adalah ketika film ini dibandingkan dengan Pengabdi Setan 2.

Setelah melihat sekuelnya, saya justru merasa film keduanya mempunyai kualitas akting dan eksekusi cerita yang lebih baik.

Jadi kalau kalian datang ke film pertama ini dengan ekspektasi yang sangat tinggi karena melihat hype atau karena sudah menonton Pengabdi Setan 2, mungkin kalian akan merasa sedikit berbeda dengan ekspektasi tersebut.

Buat saya pribadi, film ini bukan film horor yang jelek.

Justru ada beberapa bagian yang menurut saya sangat bagus dan masih bisa dinikmati sampai sekarang.

Tapi saya juga tidak bisa mengatakan bahwa film ini sepenuhnya memenuhi ekspektasi saya.

Terutama karena beberapa masalah di bagian cerita cukup terasa ketika saya mencoba memperhatikan detailnya.


Kalau ditanya apakah saya akan menonton ulang?


Mungkin tidak dalam waktu dekat.

Bukan karena filmnya tidak menarik, tetapi menurut saya setelah sekali menonton sudah cukup untuk memahami keseluruhan ceritanya.

Untuk rating pribadi, saya mungkin berada di sekitar 5/10.

Nilai tersebut bukan berarti filmnya tidak mempunyai kelebihan.

Justru secara teknis dan atmosfer, ada beberapa hal yang menurut saya cukup bagus.

Tapi ketika semuanya digabungkan dengan masalah alur, beberapa plot hole, dialog yang terasa baku dan perbandingan dengan sekuelnya, saya pribadi merasa 5/10 cukup menggambarkan pengalaman menonton saya.

Jadi kalau kalian penasaran dengan film horor Indonesia ini, silakan coba tonton.

Tapi menurut saya jangan datang dengan ekspektasi bahwa kalian akan mendapatkan film horor yang sempurna hanya karena film ini mempunyai reputasi dan hype yang cukup besar.

Karena setelah saya menontonnya sendiri, saya justru merasa hal yang paling menarik dari Pengabdi Setan bukan hanya soal seberapa seram filmnya, tetapi bagaimana film ini berhasil membangun atmosfer dan memberikan beberapa detail horor yang sampai sekarang masih cukup berkesan.
Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Horor Atmosferik yang Membawa Joko Anwar ke Oscar

Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Horor Atmosferik yang Membawa Joko Anwar ke Oscar

Perempuan Tanah Jahanam


Belakangan ini film horor Indonesia semakin banyak bermunculan di layar lebar, mulai dari film dengan cerita yang mengangkat budaya lokal, kisah tentang ilmu hitam, sampai film yang mencoba membawa konsep baru dalam dunia perfilman horor Indonesia. Salah satu film yang menurut saya cukup menarik untuk dibahas adalah Perempuan Tanah Jahanam, film garapan Joko Anwar yang tidak hanya menawarkan teror dan jumpscare, tetapi juga membawa cerita tentang kutukan keluarga, masa lalu, dan ritual yang cukup kental dengan budaya lokal.

Sebagai penikmat film horor Indonesia, saya nonton film Perempuan Tanah Jahanam tidak sendirian kali ini, saya menontonnya bersama pasangan saya di NSC Demak.

Jujur dari awal saya sudah mempunyai ekspetasi sendiri ketika melihat film ini karena salah satu film yang cukup berbeda dibandingkan film horor yang biasanya lebih mengandalkan jumpscare. Film ini lebih banyak bermain dengan atmosfer, suasana desa yang terasa begitu asing dan menyeramkan, kemudian perlahan membuka misteri mengenai siapa sebenarnya Maya dan apa hubungan dirinya dengan desa tersebut.

Film ini juga menjadi salah satu karya Joko Anwar yang mendapatkan perhatian cukup besar, bahkan menjadi perwakilan Indonesia untuk kategori International Feature Film di Academy Awards atau Oscar. Nah, pertanyaannya adalah apakah film ini memang sebagus dan semencekam itu atau sebenarnya hanya terlihat bagus karena nama besar Joko Anwar? Berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.

Sinopsis Singkat: Perempuan Tanah Jahanam

Film Perempuan Tanah Jahanam menceritakan Maya, seorang perempuan yang bekerja sebagai penjaga tol dan sedang mengalami masalah ekonomi. Suatu hari Maya mendapatkan serangan dari orang tidak dikenal yang memanggil dirinya dengan nama Rahayu dan menyebutkan nama desa asal dari orang tuanya.

Karena penasaran dengan identitas dirinya dan masa lalu keluarganya, Maya bersama sahabatnya Dini kemudian pergi menuju sebuah desa bernama Harjosari. Maya berharap dirinya bisa menemukan peninggalan atau warisan dari keluarganya yang mungkin dapat membantu kondisi ekonominya.

Namun setelah sampai di desa tersebut, Maya dan Dini mulai menemukan berbagai kejanggalan. Salah satu hal yang paling mencolok adalah banyaknya makam bayi yang terdapat di desa tersebut. Dari sinilah perlahan misteri mengenai masa lalu Maya mulai terbuka.

Ternyata keluarga Maya memiliki hubungan dengan kutukan yang sudah berlangsung cukup lama di desa tersebut. Penduduk desa percaya bahwa Maya atau Rahayu merupakan bagian dari penyebab munculnya kutukan tersebut dan untuk menghentikan kutukan itu, mereka harus membunuh Maya.

Maya kemudian harus berusaha bertahan hidup sekaligus mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada keluarganya dan mengapa dirinya menjadi sasaran penduduk desa.

POV: Opini Jujur dan Hal-Hal yang Menarik Dari Film Ini

Atmosfer Horor

Menurut saya hal yang paling terasa dari film Perempuan Tanah Jahanam adalah atmosfer horornya. Film ini tidak terlalu bergantung kepada jumpscare untuk membuat penonton merasa takut, tetapi lebih banyak menggunakan suasana tempat, pencahayaan, suara, kemudian desain lokasi yang membuat suasana film terasa tidak nyaman.

Desa Harjosari sendiri menurut saya menjadi salah satu bagian penting dalam film ini. Dari awal Maya dan Dini datang ke desa tersebut, sudah terasa ada sesuatu yang tidak beres. Suasana desa yang sepi, masyarakatnya yang terlihat aneh, kemudian banyaknya makam bayi membuat rasa penasaran semakin besar.

Berbeda dengan beberapa film horor yang sejak awal langsung memberikan jumpscare, Perempuan Tanah Jahanam lebih memilih untuk membangun rasa tidak nyaman secara perlahan. Menurut saya pendekatan seperti ini justru membuat beberapa bagian film terasa lebih mencekam.

Ada beberapa adegan yang sebenarnya tidak membutuhkan jumpscare tetapi tetap terasa menyeramkan karena suasana dan cara pengambilan gambarnya.

Jumpscare dan Eksekusi Horor

Kalau kalian datang untuk mencari film horor yang isinya penuh dengan jumpscare, menurut saya Perempuan Tanah Jahanam mungkin bukan pilihan yang tepat. Film ini lebih mengandalkan atmosfer dan cerita daripada jumpscare.

Tetapi bukan berarti film ini tidak memiliki adegan yang menyeramkan. Justru beberapa adegan kekerasan dan ritual di dalam film menurut saya cukup mengganggu secara visual.

Penggunaan konsep tumbal, kutukan, kemudian wayang kulit yang berkaitan dengan masa lalu desa membuat film ini mempunyai identitas horor lokal yang cukup kuat.

Menurut saya konsep seperti ini jauh lebih menarik dibandingkan hanya menggunakan hantu dengan wajah menyeramkan yang muncul secara tiba-tiba.

Cerita dan Misteri Keluarga

Bagian yang menurut saya cukup menarik sekaligus menjadi salah satu masalah dalam film ini adalah cerita mengenai hubungan antar karakter.

Awalnya kita hanya mengikuti perjalanan Maya yang ingin mencari tahu mengenai keluarganya. Tetapi semakin mendekati akhir film, informasi mengenai siapa sebenarnya orang tua Maya, hubungan Saptadi dengan keluarganya, Dono Wongso, kepala desa, dan karakter lainnya mulai bermunculan.

Di satu sisi informasi tersebut membuat cerita menjadi lebih kompleks, tetapi di sisi lain menurut saya beberapa penjelasannya terasa terlalu cepat.

Ada beberapa bagian ketika informasi baru diberikan secara berturut-turut sehingga saya harus mencoba mengingat kembali hubungan antara satu karakter dengan karakter lainnya.

Menurut saya kalau penjelasan mengenai hubungan keluarga tersebut diberikan sedikit demi sedikit sejak awal, mungkin ceritanya akan terasa lebih mudah untuk diikuti.

Ritual Wayang Kulit

Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah penggunaan wayang kulit sebagai bagian dari cerita horornya.

Biasanya ketika kita berbicara tentang film horor Indonesia, kita sering menemukan konsep seperti pesugihan, santet, tumbal, atau roh penasaran. Perempuan Tanah Jahanam sebenarnya masih menggunakan elemen-elemen tersebut, tetapi kemudian memasukkannya ke dalam konsep cerita yang berkaitan dengan wayang kulit.

Menurut saya ini menjadi salah satu kekuatan film karena memberikan identitas lokal yang cukup kuat.

Visual dari ritual tersebut juga menurut saya cukup mengganggu dan memberikan kesan mengerikan, apalagi ketika dikombinasikan dengan suasana desa yang sejak awal sudah terasa tidak nyaman.

Akting Pemain

Untuk bagian akting, menurut saya para pemain dalam film ini cukup mampu membawa karakter mereka masing-masing.

Tara Basro sebagai Maya menurut saya berhasil membawa karakter yang terlihat bingung, penasaran, kemudian perlahan berubah menjadi seseorang yang harus bertahan hidup ketika dirinya mulai dikejar oleh penduduk desa.

Christine Hakim sebagai Nyi Misni juga menurut saya cukup mencuri perhatian. Karakter yang dimainkan terasa dingin dan memiliki aura yang membuat saya merasa tidak nyaman setiap kali karakter tersebut muncul.

Marissa Anita sebagai Dini juga cukup bagus dalam membangun hubungan antara Maya dan Dini. Karakter Dini sendiri menurut saya menjadi salah satu karakter yang membuat perjalanan Maya terasa tidak terlalu sendirian di awal cerita.

Namun menurut saya ada beberapa karakter pendukung yang pengembangannya tidak terlalu dalam. Hal tersebut mungkin karena film lebih berfokus kepada misteri Maya dan keluarganya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Perempuan Tanah Jahanam

Kelebihan:

Atmosfer horor yang kuat, film ini tidak terlalu mengandalkan jumpscare tetapi lebih banyak menggunakan suasana, lokasi, pencahayaan dan suara untuk membangun ketegangan.

Konsep horor lokal yang menarik, penggunaan kutukan, tumbal dan ritual wayang kulit membuat film ini mempunyai identitas tersendiri.

Visual dan penataan lokasi yang bagus, desa Harjosari terasa seperti tempat yang benar-benar menyimpan sesuatu dan berhasil membuat suasana film menjadi semakin tidak nyaman.

Akting pemain cukup kuat, terutama Tara Basro dan Christine Hakim yang menurut saya mampu membawa karakter mereka dengan cukup meyakinkan.

Misteri yang membuat penasaran, sejak awal film penonton dibuat bertanya-tanya siapa Maya sebenarnya dan apa hubungan dirinya dengan desa tersebut.

Kekurangan:

Alur cerita terasa cukup buru-buru, terutama ketika film mulai masuk ke bagian penjelasan mengenai hubungan keluarga dan asal-usul kutukan.

Hubungan antar karakter cukup membingungkan, semakin mendekati akhir semakin banyak informasi mengenai keluarga Maya dan penduduk desa yang harus dipahami secara cepat.

Beberapa karakter terasa kurang mendapatkan pengembangan, karena fokus cerita lebih banyak berada pada Maya dan misteri keluarganya.

Bukan tipe film horor untuk semua orang, bagi kalian yang lebih suka horor dengan banyak jumpscare mungkin akan merasa film ini terlalu lambat di beberapa bagian.

Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?

Secara keseluruhan menurut saya Perempuan Tanah Jahanam merupakan film horor yang cukup solid, terutama dari sisi atmosfer, visual dan konsep horor lokal yang dibawa.

Film ini memang bukan film yang sempurna. Ada beberapa bagian cerita yang menurut saya terasa terlalu buru-buru dan hubungan antar karakter yang cukup rumit membuat beberapa bagian cerita menjadi sedikit membingungkan.

Tetapi kalau kalian mencari film horor Indonesia yang tidak hanya mengandalkan jumpscare, Perempuan Tanah Jahanam menurut saya masih sangat menarik untuk ditonton.

Hal yang paling saya suka dari film ini adalah bagaimana Joko Anwar membangun rasa takut melalui suasana. Desa yang sepi, karakter penduduk yang aneh, makam bayi, ritual, kemudian misteri keluarga Maya perlahan membuat penonton merasa bahwa ada sesuatu yang salah sejak awal.

Untuk kalian yang suka film horor dengan atmosfer yang kuat dan cerita yang mencoba menggabungkan budaya lokal dengan unsur horor, menurut saya film ini layak untuk dicoba.

Kalau untuk rating pribadi dari saya, Perempuan Tanah Jahanam saya kasih 8/10.

Bukan karena film ini sempurna, tetapi karena dari sisi atmosfer horor, visual, konsep cerita dan penggunaan unsur budaya lokal menurut saya film ini berhasil memberikan pengalaman yang berbeda dari film horor Indonesia pada umumnya.

Dan menurut saya, salah satu alasan film ini masih menarik untuk dibicarakan sampai sekarang adalah karena Perempuan Tanah Jahanam tidak hanya mencoba membuat penonton takut, tetapi juga membuat penonton penasaran dengan masa lalu dan rahasia yang disimpan oleh desa Harjosari.

 Review  Film Alas Roban: Ketika Legenda Jalur Angker Pantura Dibawa ke Layar Lebar

Review Film Alas Roban: Ketika Legenda Jalur Angker Pantura Dibawa ke Layar Lebar

Alas Roban


Kalau membahas jalur Pantura yang mempunyai cerita mistis, mungkin nama Alas Roban menjadi salah satu tempat yang langsung terlintas di pikiran banyak orang.

Sejak dulu Alas Roban memang sudah cukup terkenal dengan berbagai macam cerita mengenai kejadian mistis, kecelakaan dan berbagai kisah horor yang berkembang di masyarakat.

Karena itu ketika saya mengetahui bahwa legenda mengenai Alas Roban akhirnya dibawa ke layar lebar, saya cukup penasaran seperti apa filmnya, bahkan pengalaman saya ketika ingin menonton film ini juga cukup menarik, karena saat saya datang ke NSC Demak kondisi bioskop ternyata begitu ramai dan saya sampai harus bolak balik sebanyak 2 kali hanya untuk mendapatkan tiket menonton film ini.

Apalagi film ini tidak hanya mencoba menjadikan Alas Roban sebagai latar tempat, tetapi juga memasukkan berbagai macam unsur mitos lokal, ritual dan cerita mengenai dunia gaib ke dalam ceritanya.

Setelah menonton film ini, menurut saya Alas Roban mempunyai premis yang sebenarnya cukup menarik.

Tetapi sayangnya, ada beberapa bagian dari film ini yang membuat saya merasa bahwa eksekusinya masih belum maksimal.

Film ini mempunyai cerita yang cukup emosional mengenai hubungan seorang ibu dengan anaknya, tetapi di sisi lain ada beberapa bagian yang justru membuat saya mempertanyakan logika dari keputusan para karakternya.

Sinopsis Singkat: Alas Roban

Film Alas Roban bercerita mengenai seorang janda bernama Sita yang melakukan perjalanan bersama putrinya, Gendis.

Dalam perjalanan menuju Semarang, bus yang mereka tumpangi mengalami masalah dan akhirnya harus berhenti di kawasan Alas Roban.

Dari sinilah masalah mulai muncul.

Sita kemudian mengajak Gendis menuju sebuah warung yang berada di tengah hutan.

Awalnya mungkin terlihat seperti sebuah warung biasa, tetapi ternyata tempat tersebut merupakan warung gaib yang kemudian menjadi awal mula dari berbagai kejadian mistis yang dialami Gendis.

Setelah kejadian tersebut, Gendis mulai menunjukkan perilaku aneh dan beberapa kali mengalami kesurupan.

Ternyata gangguan tersebut berhubungan dengan sosok Dewi Raras yang dikenal sebagai salah satu roh penguasa Alas Roban.

Sita yang tentu saja tidak ingin kehilangan putrinya kemudian berusaha mencari bantuan dari orang-orang yang memahami dunia mistis.

Ia bertemu dengan beberapa orang seperti Mbok Yem dan Mbah Sakti yang kemudian membantu Sita melakukan ritual untuk membebaskan sukma Gendis yang terjebak di dimensi lain.

Dan ternyata masalahnya tidak sesederhana itu.

Dewi Raras sebenarnya menginginkan jiwa Sita.

Pada akhirnya Sita harus mengorbankan dirinya sendiri agar Gendis bisa selamat dan kembali ke dunia nyata.

Film kemudian ditutup dengan kematian Sita, sementara Gendis akhirnya bisa kembali melihat dengan jelas setelah menjalani operasi katarak.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Premis Alas Roban Sebenarnya Cukup Menarik

Menurut saya salah satu hal yang membuat film ini menarik dari awal adalah pemilihan Alas Roban sebagai latar ceritanya.

Alas Roban sendiri sudah mempunyai reputasi sebagai salah satu jalur yang banyak dikaitkan dengan cerita mistis di masyarakat.

Jadi ketika legenda tersebut kemudian dijadikan sebuah film horor, sebenarnya bahan ceritanya sudah cukup menarik.

Film ini juga tidak hanya mengandalkan jumpscare atau sosok hantu saja.

Ada unsur ritual, mitos lokal sampai cerita mengenai dimensi lain yang dimasukkan ke dalam film.

Buat saya, bagian seperti ini justru cukup menarik karena membuat film terasa seperti mencoba mengangkat horor yang berasal dari cerita rakyat dan kepercayaan lokal.

Apalagi ketika cerita mengenai Dewi Raras mulai dijelaskan, kita bisa melihat bahwa film ini memang ingin membangun sebuah mitologi sendiri di balik Alas Roban.

Walaupun eksekusinya masih mempunyai beberapa kekurangan, menurut saya premis dasarnya sebenarnya cukup potensial.

Unsur Ritual dan Mitos Lokal Cukup Menarik

Salah satu bagian yang menurut saya cukup menarik adalah ketika film mulai masuk ke bagian ritual dan dunia mistis.

Ada beberapa karakter yang memang memahami dunia gaib dan kemudian membantu Sita untuk mencari cara agar Gendis bisa diselamatkan.

Bagian ini membuat film terasa lebih seperti folk horror dibandingkan sekadar film horor yang hanya mengandalkan penampakan hantu.

Saya pribadi cukup suka ketika film horor Indonesia mencoba menggunakan cerita atau mitos lokal sebagai bagian penting dari ceritanya.

Karena sebenarnya Indonesia mempunyai banyak sekali cerita rakyat dan kepercayaan lokal yang bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat cerita horor.

Dan menurut saya Alas Roban mempunyai potensi yang cukup besar untuk itu.

Hanya saja, saya merasa bagian ini masih bisa dibuat jauh lebih dalam.

Cerita Tentang Pengorbanan Seorang Ibu Cukup Emosional

Kalau ada satu bagian yang menurut saya cukup berhasil dari sisi emosional, mungkin adalah hubungan antara Sita dan Gendis.

Dari awal kita bisa melihat bahwa Sita berusaha melakukan berbagai macam cara untuk menyelamatkan putrinya.

Sampai pada akhirnya Sita mengetahui bahwa satu-satunya cara agar Gendis bisa selamat adalah dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Menurut saya bagian ini cukup memberikan bobot emosional pada film.

Karena pada akhirnya cerita film ini bukan hanya mengenai hantu atau teror yang terjadi di Alas Roban, tetapi juga mengenai seorang ibu yang rela mengorbankan dirinya demi anaknya.

Walaupun akhir ceritanya cukup tragis, menurut saya bagian ini menjadi salah satu alasan kenapa film masih mempunyai sisi emosional yang cukup terasa.

Efek Visual dan Green Screen Masih Menjadi Catatan

Nah, kalau dari sisi teknis justru ini salah satu bagian yang cukup saya sayangkan.

Ada beberapa adegan yang menggunakan efek visual dan green screen yang menurut saya masih terasa kurang halus.

Beberapa visual justru membuat saya sedikit kehilangan suasana horornya karena efek yang digunakan terlihat kurang menyatu dengan adegannya.

Menurut saya untuk film horor, atmosfer merupakan salah satu bagian yang cukup penting.

Ketika efek visual terlihat terlalu jelas atau terasa seperti efek buatan, rasa takut yang seharusnya muncul justru bisa berkurang.

Ada beberapa bagian dimana saya malah lebih fokus melihat bagaimana efek tersebut dibuat dibandingkan merasa takut dengan apa yang sedang terjadi di layar.

Tapi balik lagi, masalah efek visual memang bisa berbeda bagi setiap penonton.

Mungkin ada penonton yang tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut selama ceritanya masih bisa dinikmati.

Namun untuk saya pribadi, beberapa efek visual di film ini cukup terasa dan menjadi salah satu kekurangannya.

Logika Cerita Kadang Membuat Saya Bertanya Tanya

Selain masalah teknis, hal lain yang cukup saya rasakan adalah mengenai keputusan para karakter di dalam cerita.

Ada beberapa situasi dimana saya justru bertanya-tanya, kenapa karakter tersebut melakukan hal itu?

Bukan berarti semua keputusan karakternya tidak masuk akal, tetapi ada beberapa bagian yang menurut saya terasa kurang meyakinkan.

Apalagi ketika sedang menonton film horor, biasanya penonton memang akan mencoba memahami alasan dari setiap tindakan karakter.

Ketika keputusan yang diambil terasa kurang logis, akhirnya saya justru lebih sibuk mempertanyakan tindakan karakter dibandingkan menikmati ketegangan yang sedang dibangun.

Ini cukup disayangkan karena sebenarnya premis filmnya sendiri sudah mempunyai potensi yang menarik.

Menurut saya kalau bagian ini bisa dibuat lebih rapi, pengalaman menontonnya mungkin akan terasa lebih kuat.

Filmnya Lebih Menarik Dari Premis Daripada Eksekusinya

Kalau saya boleh jujur, setelah selesai menonton film ini saya merasa bahwa premis Alas Roban sebenarnya lebih menarik dibandingkan eksekusinya.

Ide mengenai jalur angker Pantura, warung gaib, Dewi Raras, ritual dan pengorbanan seorang ibu sebenarnya mempunyai bahan cerita yang cukup banyak.

Tetapi ketika semuanya dimasukkan ke dalam film, ada beberapa bagian yang menurut saya belum terasa maksimal.

Saya bisa melihat apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini.

Ada unsur horor, mitos lokal, drama keluarga dan pengorbanan seorang ibu.

Namun beberapa elemen tersebut terkadang terasa belum menyatu dengan sempurna.

Jadi buat saya film ini bukan film yang tidak mempunyai ide menarik.

Justru sebaliknya, idenya cukup menarik.

Hanya saja saya merasa masih ada jarak antara potensi cerita dengan hasil akhirnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Alas Roban

Kelebihan:

1. Premisnya cukup menarik

Penggunaan legenda Alas Roban sebagai dasar cerita menurut saya merupakan salah satu daya tarik terbesar film ini.

Alas Roban sendiri sudah dikenal luas dengan berbagai cerita mistis sehingga cukup menarik ketika legenda tersebut kemudian dijadikan sebuah film horor.

2. Unsur mitos dan ritual lokal cukup terasa

Film ini tidak hanya mengandalkan hantu dan jumpscare.

Ada juga unsur ritual, dunia gaib dan mitos lokal yang membuat nuansa folk horror-nya cukup terasa.

3. Mempunyai sisi emosional

Hubungan antara Sita dan Gendis menjadi salah satu bagian yang cukup menarik.

Pengorbanan Sita demi menyelamatkan putrinya memberikan sisi emosional yang membuat film ini tidak hanya berbicara mengenai horor.

Kekurangan:

1. Efek visual dan green screen kurang halus

Ada beberapa adegan yang menurut saya efek visualnya masih terasa kurang natural.

Hal ini cukup mengganggu atmosfer horor yang sebenarnya sedang dibangun.

2. Beberapa keputusan karakter terasa kurang logis

Ada beberapa bagian dimana tindakan karakter membuat saya bertanya-tanya mengenai alasan mereka mengambil keputusan tersebut.

Menurut saya bagian ini membuat alurnya terasa kurang meyakinkan.

3. Eksekusi ceritanya belum maksimal

Premis film sebenarnya cukup menarik, tetapi saya merasa beberapa ide yang ada belum dieksekusi dengan maksimal.

Ada banyak potensi dari cerita Alas Roban yang sebenarnya masih bisa dikembangkan lebih jauh.

Kesimpulan: Layak Ditonton Atau Lewati Saja?

Secara pribadi setelah selesai menonton Alas Roban, saya merasa film ini mempunyai ide yang cukup menarik tetapi masih mempunyai beberapa kekurangan dalam eksekusinya.

Saya cukup suka dengan bagaimana film ini mencoba menggunakan legenda lokal sebagai dasar cerita.

Apalagi unsur ritual dan cerita mengenai Dewi Raras membuat film terasa mempunyai dunia mistisnya sendiri.

Tetapi di sisi lain, beberapa efek visual yang kurang halus dan keputusan karakter yang terkadang membuat saya bertanya-tanya cukup mengurangi pengalaman menontonnya.

Kalau kalian memang suka film horor Indonesia yang mengangkat mitos lokal, menurut saya film ini masih bisa dicoba.

Apalagi kalau kalian memang penasaran dengan bagaimana legenda Alas Roban diterjemahkan menjadi sebuah cerita film.

Tapi kalau kalian datang dengan ekspetasi ingin mendapatkan film horor dengan visual yang sangat rapi, cerita yang sangat logis dan eksekusi yang sempurna, mungkin kalian akan menemukan beberapa bagian yang terasa kurang.

Untuk saya pribadi, Alas Roban masih menjadi film yang cukup menarik karena premisnya.

Saya justru merasa bahwa potensi terbesar film ini ada pada cerita mengenai Alas Roban itu sendiri.

Sayangnya, setelah selesai menonton, saya merasa masih ada beberapa bagian yang sebenarnya bisa dibuat lebih baik.

Untuk rating IMDb sendiri saat saya melihatnya berada di angka 5,2/10.

Menurut saya angka tersebut juga masih bisa berubah karena filmnya masih relatif baru dan jumlah penonton yang memberikan rating bisa saja terus bertambah.

Jadi untuk saya pribadi, Alas Roban lebih cocok sebagai tontonan bagi kalian yang penasaran dengan cerita horor berlatar mitos lokal dan ingin melihat bagaimana legenda salah satu jalur paling terkenal di Pantura tersebut dibawa ke layar lebar.

Review Film KKN di Desa Penari: Fenomena Horor Viral yang Hampir Sempurna Memindahkan Thread ke Layar Lebar

Review Film KKN di Desa Penari: Fenomena Horor Viral yang Hampir Sempurna Memindahkan Thread ke Layar Lebar

KKN di Desa Penari


Kalau kita membahas film horror Indonesia yang sempat membuat heboh dan menjadi perbincangan banyak orang, rasanya nama KKN di Desa Penari tidak mungkin untuk dilewatkan. Film yang diangkat dari cerita viral di media sosial ini sempat menjadi salah satu film yang paling banyak dinantikan oleh penonton Indonesia. Bahkan sebelum filmnya tayang, cerita mengenai KKN di Desa Penari sendiri sudah begitu populer dan membuat banyak orang penasaran bagaimana cerita yang sebelumnya hanya berupa thread bisa dipindahkan ke layar lebar, saya sendiri mencoba datang ke bioskop NSC Demak untuk menonton film ini dan dari awal film di putar jujur saya langsung merasakan suasana yang cukup berbeda, mulai dari color grading, musik dan pengambilan angle kamera menurut saya cukup berhasil membuat suasana di dalam film terasa mencekam dan sangat tegang

Sebagai penikmat film horror Indonesia, saya tentu saja ikut penasaran dengan bagaimana hasil adaptasi dari cerita yang sebelumnya hanya saya dengar dari internet ini. Apakah cerita KKN di Desa Penari mampu memberikan pengalaman horror yang sama ketika dipindahkan ke layar lebar? Atau justru popularitas ceritanya membuat ekspektasi penonton menjadi terlalu tinggi?

Berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.

Sinopsis Singkat: KKN di Desa Penari

Film KKN di Desa Penari mengisahkan enam mahasiswa bernama Nur, Widya, Ayu, Bima, Anton dan Wahyu yang melakukan program Kuliah Kerja Nyata atau KKN di sebuah desa terpencil.

Sejak awal kedatangan mereka, kepala desa yang diperankan oleh Pak Prabu sudah memberikan beberapa peringatan kepada para mahasiswa agar menjaga tata krama dan tidak memasuki beberapa wilayah yang dianggap sakral.

Namun selama menjalankan kegiatan KKN, mulai terjadi berbagai kejadian aneh. Beberapa dari mereka mulai mengalami gangguan dari makhluk gaib yang berada di desa tersebut, salah satunya adalah sosok jin penari bernama Badarawuhi.

Masalah menjadi semakin besar ketika Bima dan Ayu melakukan sebuah pelanggaran yang akhirnya membawa mereka ke dalam masalah dengan dunia gaib. Bima bahkan terjebak dalam sebuah hubungan dengan Badarawuhi karena keinginannya untuk mendapatkan Widya.

Pada akhirnya pelanggaran yang mereka lakukan membawa konsekuensi yang sangat fatal. Sukma Bima dan Ayu menjadi bagian dari dunia gaib dan mereka akhirnya meninggal setelah program KKN tersebut selesai.


POV: Opini Jujur dan Hal-Hal yang Menarik Dari Film Ini

Atmosfer di Bioskop

Saya mulai dari suasana ketika menonton film ini. Menurut saya salah satu kekuatan utama dari KKN di Desa Penari adalah bagaimana film ini berhasil membangun suasana desa yang terasa cukup berbeda dengan film horror Indonesia pada umumnya.

Ketika film mulai memperlihatkan suasana desa terpencil, kemudian ditambah dengan suasana malam, musik, pencahayaan dan pengambilan gambar yang cukup gelap, menurut saya atmosfer horror dari film ini mulai terasa.

Berbeda dengan beberapa film horror yang langsung memberikan jumpscare dari awal, KKN di Desa Penari lebih banyak mencoba membangun rasa tidak nyaman terlebih dahulu.

Buat saya pribadi hal seperti ini cukup penting dalam sebuah film horror. Karena menurut saya horror bukan hanya tentang seberapa sering film memberikan jumpscare kepada penonton, tetapi bagaimana film tersebut bisa membuat penonton merasa tidak aman ketika melihat sebuah tempat atau karakter tertentu.

Dan menurut saya KKN di Desa Penari cukup berhasil dalam bagian tersebut.

Eksekusi Jumpscare dan Horornya

Kalau membahas horror Indonesia tentu saja tidak bisa lepas dari jumpscare. KKN di Desa Penari sendiri juga menggunakan jumpscare sebagai salah satu cara untuk memberikan rasa takut kepada penonton.

Tetapi menurut saya kekuatan terbesar dari film ini sebenarnya bukan hanya dari jumpscarenya.

Sosok Badarawuhi menjadi salah satu karakter yang menurut saya cukup ikonik. Penampilan, gerakan tari, musik dan bagaimana karakter tersebut diperkenalkan membuat sosok Badarawuhi terasa cukup mengganggu ketika muncul di layar.

Beberapa adegan juga berhasil membuat saya merasa tidak nyaman, terutama ketika film mulai memperlihatkan hubungan antara manusia dengan dunia gaib yang ada di desa tersebut.

Namun menurut saya ada beberapa bagian yang masih terasa seperti formula horror Indonesia pada umumnya. Jumpscare memang bisa membuat penonton kaget, tetapi kalau terlalu sering digunakan lama-lama efek takutnya menjadi berkurang.

Jadi untuk saya pribadi, atmosfer dan pembangunan ketegangan justru lebih menarik dibandingkan jumpscare yang diberikan secara langsung.

Cerita dan Pesan Moral

Salah satu hal yang menurut saya menarik dari KKN di Desa Penari adalah pesan moral yang cukup jelas.

Film ini sebenarnya tidak hanya menceritakan tentang mahasiswa yang diganggu oleh makhluk gaib, tetapi juga mengenai bagaimana seseorang harus menghormati tempat yang didatangi, terutama ketika berada di lingkungan yang memiliki adat, aturan dan kepercayaan yang berbeda.

Sejak awal mereka sudah mendapatkan peringatan dari Pak Prabu untuk menjaga tata krama dan tidak melewati batas tertentu.

Namun beberapa karakter justru mengabaikan peringatan tersebut dan akhirnya harus menerima konsekuensi dari tindakan mereka.

Menurut saya pesan seperti ini cukup kuat karena masih berhubungan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang memang memiliki banyak sekali budaya dan adat istiadat di setiap daerah.

Tetapi dari sisi cerita, saya merasa masih ada beberapa bagian yang terasa kurang maksimal. Beberapa hubungan antar karakter menurut saya tidak terlalu mendapatkan pendalaman yang cukup.

Ada beberapa karakter yang terasa hanya muncul untuk mendukung cerita utama sehingga penonton tidak terlalu mendapatkan kesempatan untuk mengenal karakter tersebut lebih dalam.

Hal tersebut membuat beberapa transisi cerita terasa sedikit melompat.

Akting Pemain

Untuk bagian akting menurut saya performa para pemain cukup beragam.

Beberapa pemain mampu membawa karakter mereka dengan cukup baik, terutama ketika harus menunjukkan ekspresi ketakutan dan kepanikan ketika menghadapi kejadian supernatural.

Menurut saya beberapa adegan yang melibatkan Nur dan Widya juga cukup menarik karena kedua karakter tersebut mempunyai peran penting dalam cerita.

Tetapi di beberapa bagian saya masih merasa ada ekspresi pemain yang terlihat kurang natural, terutama ketika menghadapi situasi yang seharusnya sangat menegangkan.

Namun secara keseluruhan saya masih bisa menikmati akting para pemainnya karena atmosfer film dan cerita yang dibangun cukup membantu.

Dan tentu saja salah satu karakter yang paling mudah diingat dari film ini adalah Badarawuhi.

Menurut saya karakter tersebut berhasil menjadi salah satu daya tarik utama film karena bukan hanya mengandalkan penampilan menyeramkan tetapi juga mempunyai identitas visual yang cukup kuat.


Kelebihan dan Kekurangan Dari Film KKN di Desa Penari

Kelebihan:

Atmosfer horror yang cukup kuat, terutama melalui penggunaan musik, pencahayaan, suasana desa dan pengambilan gambar yang membuat lokasi terasa asing dan menyeramkan.

Identitas horror lokal yang sangat terasa. Film ini tidak hanya mengandalkan formula horror Barat tetapi menggunakan mitos, adat, sinden, desa terpencil dan kepercayaan masyarakat Indonesia sebagai bagian penting dari ceritanya.

Karakter Badarawuhi cukup ikonik. Penampilan dan cara karakter tersebut ditampilkan membuat Badarawuhi menjadi salah satu karakter yang paling mudah diingat dari film ini.

Pesan moral yang cukup jelas, terutama mengenai pentingnya menjaga tata krama dan menghormati aturan serta adat istiadat ketika berada di tempat baru.

Adaptasi dari cerita viral ke layar lebar cukup menarik. Menurut saya bukan hal yang mudah untuk memindahkan sebuah cerita yang sebelumnya dikenal melalui thread internet menjadi sebuah film dengan visual, karakter dan atmosfer yang bisa dinikmati di bioskop.


Kekurangan:

Storytelling masih memiliki beberapa bagian yang terasa kurang solid. Beberapa hubungan antar karakter menurut saya kurang mendapatkan pendalaman sehingga ada beberapa adegan yang terasa seperti loncat dari satu kejadian ke kejadian lainnya.

Beberapa karakter kurang dieksplorasi. Karena jumlah karakter yang cukup banyak, tidak semuanya mendapatkan porsi cerita yang sama sehingga beberapa karakter terasa kurang memiliki perkembangan.

Jumpscare masih menjadi salah satu senjata utama. Menurut saya beberapa jumpscare memang berhasil membuat kaget, tetapi ada bagian tertentu yang terasa seperti formula horror Indonesia pada umumnya.

Ekspektasi penonton sangat tinggi. Karena cerita KKN di Desa Penari sudah sangat populer sebelum filmnya dirilis, menurut saya hal tersebut membuat ekspektasi penonton menjadi sangat tinggi. Akibatnya, ada kemungkinan sebagian penonton merasa hasil akhirnya tidak sepenuhnya sesuai dengan bayangan mereka ketika membaca cerita aslinya.

Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?

Secara keseluruhan menurut saya KKN di Desa Penari merupakan salah satu film horror Indonesia yang menarik untuk dibahas, bukan hanya karena filmnya tetapi juga karena fenomena yang terjadi sebelum film tersebut tayang.

Cerita yang sebelumnya viral di media sosial berhasil dipindahkan ke layar lebar dengan membawa atmosfer desa, budaya lokal dan sosok Badarawuhi yang cukup ikonik.

Walaupun menurut saya masih terdapat beberapa kekurangan dari segi storytelling, pendalaman karakter dan penggunaan jumpscare, film ini tetap mempunyai daya tarik tersendiri.

Bagi kalian yang memang menyukai film horror Indonesia dan penasaran bagaimana sebuah thread viral bisa diadaptasi menjadi film layar lebar, menurut saya KKN di Desa Penari cukup layak untuk dicoba.

Tetapi bagi kalian yang datang dengan ekspektasi bahwa film ini akan memberikan pengalaman horror yang benar-benar menakutkan dari awal sampai akhir, mungkin hasilnya bisa terasa berbeda.

Kalau dari saya pribadi, film ini bukan film horror yang sempurna. Tetapi sebagai sebuah adaptasi dari cerita viral yang berhasil membawa mitos lokal ke layar lebar, menurut saya KKN di Desa Penari adalah sebuah film yang cukup menarik dan berhasil meninggalkan kesan.

Rating pribadi saya: 7/10.