Review Film Cek Toko Sebelah: Drama Keluarga Tionghoa yang Berhasil Jadi Film Terbaik FFI 2017

Review Film Cek Toko Sebelah: Drama Keluarga Tionghoa yang Berhasil Jadi Film Terbaik FFI 2017

Cek Toko Sebelah


Kalau biasanya ketika mendengar film komedi Indonesia kita langsung membayangkan jokes yang receh, karakter yang berlebihan, atau cerita yang hanya dibuat untuk menghibur penonton, film Cek Toko Sebelah menurut saya justru mempunyai sesuatu yang berbeda. Film yang disutradarai oleh Ernest Prakasa ini memang membawa genre komedi, tetapi dibalik komedinya film ini juga menyimpan drama keluarga yang cukup kuat dan mungkin cukup relate dengan kehidupan banyak orang.

Hari ini saya akan mencoba untuk review film Cek Toko sebelah setelah saya menonton filmnya di NSC Demak. Jujur cukup banyak yang menonton film ini bersama keluarga, bahkan beberapa kursi bisa dibilang penuh karena banyak yang mengambil paket untuk keluarga.

Film ini pertama kali dirilis pada tahun 2016 dan berhasil mendapatkan perhatian yang cukup besar dari penonton Indonesia. Bahkan Cek Toko Sebelah berhasil mendapatkan penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2017. Menurut saya hal tersebut cukup menarik karena film ini bukan hanya mengandalkan komedi, tetapi juga mencoba membahas hubungan antara orang tua dan anak, masalah keluarga, pilihan hidup, kemudian ekspektasi orang tua terhadap anaknya.

Sebagai penikmat film Indonesia, saya sendiri cukup tertarik ketika menonton film ini karena konfliknya sebenarnya sangat sederhana. Hanya tentang sebuah toko sembako dan seorang ayah yang ingin salah satu anaknya meneruskan toko tersebut. Tetapi dari konflik sederhana tersebut ternyata bisa berkembang menjadi masalah keluarga yang cukup kompleks.

Nah, apakah Cek Toko Sebelah memang sebagus dan sesentuh itu atau hanya mengandalkan komedi dan drama keluarga biasa? Berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.

Sinopsis Singkat: Cek Toko Sebelah

Film Cek Toko Sebelah menceritakan sebuah keluarga yang terdiri dari Koh Afuk dan kedua anaknya yaitu Yohan dan Erwin.

Koh Afuk merupakan pemilik toko sembako yang sudah lama menjalankan usahanya. Karena sudah semakin tua dan ingin pensiun, Koh Afuk kemudian mempunyai keinginan agar toko tersebut diteruskan oleh anaknya.

Namun masalahnya, anak yang dipilih oleh Koh Afuk bukan Yohan sebagai anak sulung, melainkan Erwin.

Erwin sendiri sebenarnya sedang berada di posisi yang cukup bagus dalam kariernya. Ia mendapatkan kesempatan untuk naik jabatan dan bahkan mempunyai peluang untuk bekerja di Singapura. Sedangkan Yohan yang merupakan anak sulung justru merasa dirinya lebih pantas untuk meneruskan toko tersebut karena selama ini dirinya merasa sudah banyak berkorban untuk keluarga.

Dari sinilah konflik antara Yohan, Erwin dan Koh Afuk mulai muncul.

Yohan merasa dirinya selalu dianggap tidak bertanggung jawab dan kalah dibandingkan Erwin. Sedangkan Erwin sendiri berada dalam posisi yang sulit karena harus memilih antara mengejar karier yang selama ini dia bangun atau memenuhi keinginan ayahnya untuk meneruskan toko keluarga.

Masalah semakin rumit ketika kondisi Koh Afuk mulai menurun karena terlalu banyak memikirkan masalah toko dan keluarganya.

Pada akhirnya mereka harus menghadapi berbagai masalah yang bukan hanya berkaitan dengan toko, tetapi juga mengenai hubungan antara orang tua dan anak, rasa kecewa, kecemburuan, kemudian bagaimana sebuah keluarga bisa saling memahami satu sama lain.

POV: Opini Jujur dan Hal-Hal yang Menarik Dari Film Ini

Cerita Keluarga yang Sangat Relate

Menurut saya kekuatan terbesar dari Cek Toko Sebelah adalah ceritanya yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Konflik mengenai orang tua yang ingin anaknya mengikuti keinginan keluarga sebenarnya bukan sesuatu yang asing. Banyak orang mungkin pernah berada dalam posisi seperti Erwin, dimana orang tua sudah mempunyai rencana sendiri mengenai masa depan anaknya.

Di sisi lain ada Yohan yang merasa dirinya kurang dihargai oleh ayahnya.

Menurut saya ini yang membuat konflik film terasa cukup manusiawi. Tidak ada karakter yang benar-benar jahat di dalam film ini. Koh Afuk memang terlihat seperti ayah yang pilih kasih, tetapi semakin film berjalan kita bisa memahami kenapa dirinya mengambil keputusan tersebut.

Begitu juga dengan Yohan.

Di awal mungkin kita bisa melihat Yohan sebagai anak yang iri kepada adiknya. Tetapi kalau melihat latar belakangnya, rasa kecewa Yohan sebenarnya mempunyai alasan.

Sedangkan Erwin sendiri bukan berarti tidak peduli kepada keluarga. Dia hanya sedang berada dalam posisi dimana dirinya ingin mengejar kehidupan dan karier yang sudah dibangun.

Menurut saya cara film ini memperlihatkan konflik dari berbagai sudut pandang tersebut cukup bagus.

Komedi dan Drama

Untuk bagian komedinya, menurut saya Ernest Prakasa cukup berhasil menggabungkan komedi dengan drama.

Hal yang saya suka adalah ketika film sedang berada di bagian yang lucu, kemudian tidak lama setelah itu film bisa kembali membawa kita ke bagian yang serius.

Komedi di film ini juga menurut saya tidak sepenuhnya menghilangkan konflik utama.

Ada beberapa jokes yang memang terasa ringan dan mungkin tidak semuanya akan membuat penonton tertawa terbahak-bahak, tetapi komedinya cukup membantu membuat film tidak terasa terlalu berat.

Yang paling menarik justru ketika film mulai masuk ke bagian drama.

Ada beberapa adegan yang menurut saya cukup menyentuh, terutama ketika hubungan antara Koh Afuk dan kedua anaknya mulai menemukan titik penyelesaian.

Salah satu bagian yang menurut saya cukup kuat adalah adegan rekonsiliasi di makam ibu Yohan dan Erwin.

Adegan tersebut tidak membutuhkan dialog yang terlalu berlebihan tetapi tetap mampu menyampaikan emosi yang cukup kuat.

Konflik Yohan dan Koh Afuk

Menurut saya hubungan antara Yohan dan Koh Afuk menjadi salah satu bagian terbaik dari film ini.

Yohan bukan hanya marah karena tidak mendapatkan toko. Masalah sebenarnya lebih dalam dari itu.

Yohan merasa dirinya tidak pernah benar-benar mendapatkan pengakuan dari ayahnya.

Selama ini Erwin selalu dianggap sebagai anak yang sukses, sedangkan Yohan sering dianggap sebagai anak yang tidak bertanggung jawab.

Padahal Yohan sendiri sebenarnya mempunyai perhatian besar terhadap keluarga.

Hal ini menurut saya cukup relate karena terkadang masalah dalam keluarga bukan muncul karena seseorang tidak sayang, tetapi karena cara menunjukkan rasa sayang tersebut berbeda.

Koh Afuk merasa dirinya sedang melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya, sementara Yohan melihat keputusan ayahnya sebagai bentuk ketidakadilan.

Disinilah menurut saya film ini berhasil menunjukkan bahwa dalam keluarga terkadang masalah bukan hanya tentang siapa yang benar atau siapa yang salah, tetapi tentang komunikasi yang tidak pernah benar-benar dilakukan.

Akting Pemain

Untuk bagian akting menurut saya para pemain di film ini cukup berhasil membawa karakter masing-masing.

Ernest Prakasa sebagai Erwin mampu membawa karakter seorang anak yang sedang berada di tengah konflik antara karier dan keluarga.

Gisella Anastasia sebagai Natalie juga cukup membantu memberikan warna pada cerita Erwin.

Namun menurut saya salah satu karakter yang cukup menarik adalah Yohan yang diperankan oleh Dion Wiyoko.

Karakter Yohan mempunyai emosi yang cukup kompleks. Dia bisa terlihat lucu di satu adegan, tetapi kemudian bisa berubah menjadi serius ketika membicarakan hubungannya dengan ayahnya.

Chew Kin Wah sebagai Koh Afuk juga menurut saya berhasil membawa karakter seorang ayah yang keras kepala tetapi sebenarnya menyimpan rasa sayang yang besar kepada keluarganya.

Akting para pemain inilah yang menurut saya membuat konflik keluarga di film ini terasa lebih hidup.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Cek Toko Sebelah

Kelebihan:

Cerita yang sangat relatable, terutama mengenai hubungan orang tua dan anak, ekspektasi keluarga dan pilihan hidup.

Pendalaman karakter yang cukup kuat, terutama Koh Afuk, Yohan dan Erwin. Masing-masing karakter mempunyai alasan sendiri dalam mengambil keputusan.

Komedi dan drama cukup seimbang, film ini tidak hanya berusaha membuat penonton tertawa tetapi juga memberikan beberapa adegan emosional yang cukup kuat.

Konflik keluarga terasa manusiawi, tidak ada karakter yang benar-benar dibuat sebagai penjahat. Bahkan keputusan yang terlihat salah dari satu sudut pandang ternyata mempunyai alasan dari sudut pandang karakter tersebut.

Pesan moralnya cukup kuat, film ini menunjukkan bahwa komunikasi dan penerimaan dalam keluarga terkadang jauh lebih penting daripada masalah materi atau kesuksesan seseorang.

Kekurangan:

Penyelesaian beberapa konflik terasa cukup cepat, terutama ketika film sudah masuk ke bagian akhir.

Konflik dengan pengembang properti terasa sedikit berbeda dari konflik utama, menurut saya bagian ini agak terlalu dramatis dibandingkan konflik keluarga yang sejak awal justru menjadi kekuatan utama film.

Perubahan sikap beberapa karakter terasa cukup cepat, terutama ketika masalah keluarga mulai menemukan penyelesaiannya.

Menurut saya kekurangan tersebut tidak sampai membuat filmnya menjadi buruk, tetapi memang ada beberapa bagian yang terasa bisa dibuat lebih perlahan agar perkembangan konfliknya terasa lebih natural.

Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?

Secara keseluruhan menurut saya Cek Toko Sebelah merupakan salah satu film keluarga Indonesia yang berhasil menggabungkan komedi dan drama dengan cukup baik.

Hal yang paling saya suka dari film ini adalah konfliknya yang sebenarnya sederhana tetapi bisa dibuat menjadi cerita yang cukup emosional.

Film ini bukan hanya bercerita mengenai sebuah toko sembako yang ingin diwariskan kepada anak, tetapi lebih kepada bagaimana sebuah keluarga menghadapi perbedaan keinginan, rasa kecewa, kemudian bagaimana setiap anggota keluarga mempunyai cara sendiri dalam menunjukkan rasa sayang.

Menurut saya karakter Koh Afuk, Yohan dan Erwin juga menjadi salah satu alasan kenapa film ini terasa cukup dekat dengan kehidupan nyata. Tidak ada karakter yang benar-benar sempurna. Semuanya mempunyai kesalahan, ego, keinginan dan alasan masing-masing.

Untuk kalian yang suka film keluarga dengan campuran komedi dan drama, menurut saya Cek Toko Sebelah cukup layak untuk ditonton.

Film ini juga cocok untuk kalian yang mungkin sedang berada dalam kondisi dimana keinginan pribadi harus berhadapan dengan keinginan keluarga, karena film ini cukup baik dalam menunjukkan bahwa sukses tidak selalu harus mengikuti satu jalan yang sama.

Kalau untuk rating pribadi dari saya, Cek Toko Sebelah saya kasih 8,5/10.

Bukan karena film ini sempurna, tetapi karena menurut saya film ini berhasil melakukan sesuatu yang cukup sulit, yaitu membuat penonton tertawa sekaligus membawa penonton memahami konflik keluarga yang sebenarnya sangat sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Dan menurut saya, penghargaan yang didapatkan film ini di Festival Film Indonesia 2017 juga cukup menggambarkan bagaimana film komedi keluarga bisa tetap mempunyai cerita dan drama yang kuat tanpa harus kehilangan sisi hiburannya.

 Review  Film Alas Roban: Ketika Legenda Jalur Angker Pantura Dibawa ke Layar Lebar

Review Film Alas Roban: Ketika Legenda Jalur Angker Pantura Dibawa ke Layar Lebar

Alas Roban


Kalau membahas jalur Pantura yang mempunyai cerita mistis, mungkin nama Alas Roban menjadi salah satu tempat yang langsung terlintas di pikiran banyak orang.

Sejak dulu Alas Roban memang sudah cukup terkenal dengan berbagai macam cerita mengenai kejadian mistis, kecelakaan dan berbagai kisah horor yang berkembang di masyarakat.

Karena itu ketika saya mengetahui bahwa legenda mengenai Alas Roban akhirnya dibawa ke layar lebar, saya cukup penasaran seperti apa filmnya, bahkan pengalaman saya ketika ingin menonton film ini juga cukup menarik, karena saat saya datang ke NSC Demak kondisi bioskop ternyata begitu ramai dan saya sampai harus bolak balik sebanyak 2 kali hanya untuk mendapatkan tiket menonton film ini.

Apalagi film ini tidak hanya mencoba menjadikan Alas Roban sebagai latar tempat, tetapi juga memasukkan berbagai macam unsur mitos lokal, ritual dan cerita mengenai dunia gaib ke dalam ceritanya.

Setelah menonton film ini, menurut saya Alas Roban mempunyai premis yang sebenarnya cukup menarik.

Tetapi sayangnya, ada beberapa bagian dari film ini yang membuat saya merasa bahwa eksekusinya masih belum maksimal.

Film ini mempunyai cerita yang cukup emosional mengenai hubungan seorang ibu dengan anaknya, tetapi di sisi lain ada beberapa bagian yang justru membuat saya mempertanyakan logika dari keputusan para karakternya.

Sinopsis Singkat: Alas Roban

Film Alas Roban bercerita mengenai seorang janda bernama Sita yang melakukan perjalanan bersama putrinya, Gendis.

Dalam perjalanan menuju Semarang, bus yang mereka tumpangi mengalami masalah dan akhirnya harus berhenti di kawasan Alas Roban.

Dari sinilah masalah mulai muncul.

Sita kemudian mengajak Gendis menuju sebuah warung yang berada di tengah hutan.

Awalnya mungkin terlihat seperti sebuah warung biasa, tetapi ternyata tempat tersebut merupakan warung gaib yang kemudian menjadi awal mula dari berbagai kejadian mistis yang dialami Gendis.

Setelah kejadian tersebut, Gendis mulai menunjukkan perilaku aneh dan beberapa kali mengalami kesurupan.

Ternyata gangguan tersebut berhubungan dengan sosok Dewi Raras yang dikenal sebagai salah satu roh penguasa Alas Roban.

Sita yang tentu saja tidak ingin kehilangan putrinya kemudian berusaha mencari bantuan dari orang-orang yang memahami dunia mistis.

Ia bertemu dengan beberapa orang seperti Mbok Yem dan Mbah Sakti yang kemudian membantu Sita melakukan ritual untuk membebaskan sukma Gendis yang terjebak di dimensi lain.

Dan ternyata masalahnya tidak sesederhana itu.

Dewi Raras sebenarnya menginginkan jiwa Sita.

Pada akhirnya Sita harus mengorbankan dirinya sendiri agar Gendis bisa selamat dan kembali ke dunia nyata.

Film kemudian ditutup dengan kematian Sita, sementara Gendis akhirnya bisa kembali melihat dengan jelas setelah menjalani operasi katarak.

POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini

Premis Alas Roban Sebenarnya Cukup Menarik

Menurut saya salah satu hal yang membuat film ini menarik dari awal adalah pemilihan Alas Roban sebagai latar ceritanya.

Alas Roban sendiri sudah mempunyai reputasi sebagai salah satu jalur yang banyak dikaitkan dengan cerita mistis di masyarakat.

Jadi ketika legenda tersebut kemudian dijadikan sebuah film horor, sebenarnya bahan ceritanya sudah cukup menarik.

Film ini juga tidak hanya mengandalkan jumpscare atau sosok hantu saja.

Ada unsur ritual, mitos lokal sampai cerita mengenai dimensi lain yang dimasukkan ke dalam film.

Buat saya, bagian seperti ini justru cukup menarik karena membuat film terasa seperti mencoba mengangkat horor yang berasal dari cerita rakyat dan kepercayaan lokal.

Apalagi ketika cerita mengenai Dewi Raras mulai dijelaskan, kita bisa melihat bahwa film ini memang ingin membangun sebuah mitologi sendiri di balik Alas Roban.

Walaupun eksekusinya masih mempunyai beberapa kekurangan, menurut saya premis dasarnya sebenarnya cukup potensial.

Unsur Ritual dan Mitos Lokal Cukup Menarik

Salah satu bagian yang menurut saya cukup menarik adalah ketika film mulai masuk ke bagian ritual dan dunia mistis.

Ada beberapa karakter yang memang memahami dunia gaib dan kemudian membantu Sita untuk mencari cara agar Gendis bisa diselamatkan.

Bagian ini membuat film terasa lebih seperti folk horror dibandingkan sekadar film horor yang hanya mengandalkan penampakan hantu.

Saya pribadi cukup suka ketika film horor Indonesia mencoba menggunakan cerita atau mitos lokal sebagai bagian penting dari ceritanya.

Karena sebenarnya Indonesia mempunyai banyak sekali cerita rakyat dan kepercayaan lokal yang bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat cerita horor.

Dan menurut saya Alas Roban mempunyai potensi yang cukup besar untuk itu.

Hanya saja, saya merasa bagian ini masih bisa dibuat jauh lebih dalam.

Cerita Tentang Pengorbanan Seorang Ibu Cukup Emosional

Kalau ada satu bagian yang menurut saya cukup berhasil dari sisi emosional, mungkin adalah hubungan antara Sita dan Gendis.

Dari awal kita bisa melihat bahwa Sita berusaha melakukan berbagai macam cara untuk menyelamatkan putrinya.

Sampai pada akhirnya Sita mengetahui bahwa satu-satunya cara agar Gendis bisa selamat adalah dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Menurut saya bagian ini cukup memberikan bobot emosional pada film.

Karena pada akhirnya cerita film ini bukan hanya mengenai hantu atau teror yang terjadi di Alas Roban, tetapi juga mengenai seorang ibu yang rela mengorbankan dirinya demi anaknya.

Walaupun akhir ceritanya cukup tragis, menurut saya bagian ini menjadi salah satu alasan kenapa film masih mempunyai sisi emosional yang cukup terasa.

Efek Visual dan Green Screen Masih Menjadi Catatan

Nah, kalau dari sisi teknis justru ini salah satu bagian yang cukup saya sayangkan.

Ada beberapa adegan yang menggunakan efek visual dan green screen yang menurut saya masih terasa kurang halus.

Beberapa visual justru membuat saya sedikit kehilangan suasana horornya karena efek yang digunakan terlihat kurang menyatu dengan adegannya.

Menurut saya untuk film horor, atmosfer merupakan salah satu bagian yang cukup penting.

Ketika efek visual terlihat terlalu jelas atau terasa seperti efek buatan, rasa takut yang seharusnya muncul justru bisa berkurang.

Ada beberapa bagian dimana saya malah lebih fokus melihat bagaimana efek tersebut dibuat dibandingkan merasa takut dengan apa yang sedang terjadi di layar.

Tapi balik lagi, masalah efek visual memang bisa berbeda bagi setiap penonton.

Mungkin ada penonton yang tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut selama ceritanya masih bisa dinikmati.

Namun untuk saya pribadi, beberapa efek visual di film ini cukup terasa dan menjadi salah satu kekurangannya.

Logika Cerita Kadang Membuat Saya Bertanya Tanya

Selain masalah teknis, hal lain yang cukup saya rasakan adalah mengenai keputusan para karakter di dalam cerita.

Ada beberapa situasi dimana saya justru bertanya-tanya, kenapa karakter tersebut melakukan hal itu?

Bukan berarti semua keputusan karakternya tidak masuk akal, tetapi ada beberapa bagian yang menurut saya terasa kurang meyakinkan.

Apalagi ketika sedang menonton film horor, biasanya penonton memang akan mencoba memahami alasan dari setiap tindakan karakter.

Ketika keputusan yang diambil terasa kurang logis, akhirnya saya justru lebih sibuk mempertanyakan tindakan karakter dibandingkan menikmati ketegangan yang sedang dibangun.

Ini cukup disayangkan karena sebenarnya premis filmnya sendiri sudah mempunyai potensi yang menarik.

Menurut saya kalau bagian ini bisa dibuat lebih rapi, pengalaman menontonnya mungkin akan terasa lebih kuat.

Filmnya Lebih Menarik Dari Premis Daripada Eksekusinya

Kalau saya boleh jujur, setelah selesai menonton film ini saya merasa bahwa premis Alas Roban sebenarnya lebih menarik dibandingkan eksekusinya.

Ide mengenai jalur angker Pantura, warung gaib, Dewi Raras, ritual dan pengorbanan seorang ibu sebenarnya mempunyai bahan cerita yang cukup banyak.

Tetapi ketika semuanya dimasukkan ke dalam film, ada beberapa bagian yang menurut saya belum terasa maksimal.

Saya bisa melihat apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini.

Ada unsur horor, mitos lokal, drama keluarga dan pengorbanan seorang ibu.

Namun beberapa elemen tersebut terkadang terasa belum menyatu dengan sempurna.

Jadi buat saya film ini bukan film yang tidak mempunyai ide menarik.

Justru sebaliknya, idenya cukup menarik.

Hanya saja saya merasa masih ada jarak antara potensi cerita dengan hasil akhirnya.

Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Alas Roban

Kelebihan:

1. Premisnya cukup menarik

Penggunaan legenda Alas Roban sebagai dasar cerita menurut saya merupakan salah satu daya tarik terbesar film ini.

Alas Roban sendiri sudah dikenal luas dengan berbagai cerita mistis sehingga cukup menarik ketika legenda tersebut kemudian dijadikan sebuah film horor.

2. Unsur mitos dan ritual lokal cukup terasa

Film ini tidak hanya mengandalkan hantu dan jumpscare.

Ada juga unsur ritual, dunia gaib dan mitos lokal yang membuat nuansa folk horror-nya cukup terasa.

3. Mempunyai sisi emosional

Hubungan antara Sita dan Gendis menjadi salah satu bagian yang cukup menarik.

Pengorbanan Sita demi menyelamatkan putrinya memberikan sisi emosional yang membuat film ini tidak hanya berbicara mengenai horor.

Kekurangan:

1. Efek visual dan green screen kurang halus

Ada beberapa adegan yang menurut saya efek visualnya masih terasa kurang natural.

Hal ini cukup mengganggu atmosfer horor yang sebenarnya sedang dibangun.

2. Beberapa keputusan karakter terasa kurang logis

Ada beberapa bagian dimana tindakan karakter membuat saya bertanya-tanya mengenai alasan mereka mengambil keputusan tersebut.

Menurut saya bagian ini membuat alurnya terasa kurang meyakinkan.

3. Eksekusi ceritanya belum maksimal

Premis film sebenarnya cukup menarik, tetapi saya merasa beberapa ide yang ada belum dieksekusi dengan maksimal.

Ada banyak potensi dari cerita Alas Roban yang sebenarnya masih bisa dikembangkan lebih jauh.

Kesimpulan: Layak Ditonton Atau Lewati Saja?

Secara pribadi setelah selesai menonton Alas Roban, saya merasa film ini mempunyai ide yang cukup menarik tetapi masih mempunyai beberapa kekurangan dalam eksekusinya.

Saya cukup suka dengan bagaimana film ini mencoba menggunakan legenda lokal sebagai dasar cerita.

Apalagi unsur ritual dan cerita mengenai Dewi Raras membuat film terasa mempunyai dunia mistisnya sendiri.

Tetapi di sisi lain, beberapa efek visual yang kurang halus dan keputusan karakter yang terkadang membuat saya bertanya-tanya cukup mengurangi pengalaman menontonnya.

Kalau kalian memang suka film horor Indonesia yang mengangkat mitos lokal, menurut saya film ini masih bisa dicoba.

Apalagi kalau kalian memang penasaran dengan bagaimana legenda Alas Roban diterjemahkan menjadi sebuah cerita film.

Tapi kalau kalian datang dengan ekspetasi ingin mendapatkan film horor dengan visual yang sangat rapi, cerita yang sangat logis dan eksekusi yang sempurna, mungkin kalian akan menemukan beberapa bagian yang terasa kurang.

Untuk saya pribadi, Alas Roban masih menjadi film yang cukup menarik karena premisnya.

Saya justru merasa bahwa potensi terbesar film ini ada pada cerita mengenai Alas Roban itu sendiri.

Sayangnya, setelah selesai menonton, saya merasa masih ada beberapa bagian yang sebenarnya bisa dibuat lebih baik.

Untuk rating IMDb sendiri saat saya melihatnya berada di angka 5,2/10.

Menurut saya angka tersebut juga masih bisa berubah karena filmnya masih relatif baru dan jumlah penonton yang memberikan rating bisa saja terus bertambah.

Jadi untuk saya pribadi, Alas Roban lebih cocok sebagai tontonan bagi kalian yang penasaran dengan cerita horor berlatar mitos lokal dan ingin melihat bagaimana legenda salah satu jalur paling terkenal di Pantura tersebut dibawa ke layar lebar.