Review Film Perempuan Tanah Jahanam: Horor Atmosferik yang Membawa Joko Anwar ke Oscar
biasa saja Horor Horor SetanBelakangan ini film horor Indonesia semakin banyak bermunculan di layar lebar, mulai dari film dengan cerita yang mengangkat budaya lokal, kisah tentang ilmu hitam, sampai film yang mencoba membawa konsep baru dalam dunia perfilman horor Indonesia. Salah satu film yang menurut saya cukup menarik untuk dibahas adalah Perempuan Tanah Jahanam, film garapan Joko Anwar yang tidak hanya menawarkan teror dan jumpscare, tetapi juga membawa cerita tentang kutukan keluarga, masa lalu, dan ritual yang cukup kental dengan budaya lokal.
Sebagai penikmat film horor Indonesia, saya nonton film Perempuan Tanah Jahanam tidak sendirian kali ini, saya menontonnya bersama pasangan saya di NSC Demak.
Jujur dari awal saya sudah mempunyai ekspetasi sendiri ketika melihat film ini karena salah satu film yang cukup berbeda dibandingkan film horor yang biasanya lebih mengandalkan jumpscare. Film ini lebih banyak bermain dengan atmosfer, suasana desa yang terasa begitu asing dan menyeramkan, kemudian perlahan membuka misteri mengenai siapa sebenarnya Maya dan apa hubungan dirinya dengan desa tersebut.
Film ini juga menjadi salah satu karya Joko Anwar yang mendapatkan perhatian cukup besar, bahkan menjadi perwakilan Indonesia untuk kategori International Feature Film di Academy Awards atau Oscar. Nah, pertanyaannya adalah apakah film ini memang sebagus dan semencekam itu atau sebenarnya hanya terlihat bagus karena nama besar Joko Anwar? Berikut adalah review pribadi dari diri saya sendiri dan menurut keyakinan saya.
Sinopsis Singkat: Perempuan Tanah Jahanam
Film Perempuan Tanah Jahanam menceritakan Maya, seorang perempuan yang bekerja sebagai penjaga tol dan sedang mengalami masalah ekonomi. Suatu hari Maya mendapatkan serangan dari orang tidak dikenal yang memanggil dirinya dengan nama Rahayu dan menyebutkan nama desa asal dari orang tuanya.
Karena penasaran dengan identitas dirinya dan masa lalu keluarganya, Maya bersama sahabatnya Dini kemudian pergi menuju sebuah desa bernama Harjosari. Maya berharap dirinya bisa menemukan peninggalan atau warisan dari keluarganya yang mungkin dapat membantu kondisi ekonominya.
Namun setelah sampai di desa tersebut, Maya dan Dini mulai menemukan berbagai kejanggalan. Salah satu hal yang paling mencolok adalah banyaknya makam bayi yang terdapat di desa tersebut. Dari sinilah perlahan misteri mengenai masa lalu Maya mulai terbuka.
Ternyata keluarga Maya memiliki hubungan dengan kutukan yang sudah berlangsung cukup lama di desa tersebut. Penduduk desa percaya bahwa Maya atau Rahayu merupakan bagian dari penyebab munculnya kutukan tersebut dan untuk menghentikan kutukan itu, mereka harus membunuh Maya.
Maya kemudian harus berusaha bertahan hidup sekaligus mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi pada keluarganya dan mengapa dirinya menjadi sasaran penduduk desa.
POV: Opini Jujur dan Hal-Hal yang Menarik Dari Film Ini
Atmosfer Horor
Menurut saya hal yang paling terasa dari film Perempuan Tanah Jahanam adalah atmosfer horornya. Film ini tidak terlalu bergantung kepada jumpscare untuk membuat penonton merasa takut, tetapi lebih banyak menggunakan suasana tempat, pencahayaan, suara, kemudian desain lokasi yang membuat suasana film terasa tidak nyaman.
Desa Harjosari sendiri menurut saya menjadi salah satu bagian penting dalam film ini. Dari awal Maya dan Dini datang ke desa tersebut, sudah terasa ada sesuatu yang tidak beres. Suasana desa yang sepi, masyarakatnya yang terlihat aneh, kemudian banyaknya makam bayi membuat rasa penasaran semakin besar.
Berbeda dengan beberapa film horor yang sejak awal langsung memberikan jumpscare, Perempuan Tanah Jahanam lebih memilih untuk membangun rasa tidak nyaman secara perlahan. Menurut saya pendekatan seperti ini justru membuat beberapa bagian film terasa lebih mencekam.
Ada beberapa adegan yang sebenarnya tidak membutuhkan jumpscare tetapi tetap terasa menyeramkan karena suasana dan cara pengambilan gambarnya.
Jumpscare dan Eksekusi Horor
Kalau kalian datang untuk mencari film horor yang isinya penuh dengan jumpscare, menurut saya Perempuan Tanah Jahanam mungkin bukan pilihan yang tepat. Film ini lebih mengandalkan atmosfer dan cerita daripada jumpscare.
Tetapi bukan berarti film ini tidak memiliki adegan yang menyeramkan. Justru beberapa adegan kekerasan dan ritual di dalam film menurut saya cukup mengganggu secara visual.
Penggunaan konsep tumbal, kutukan, kemudian wayang kulit yang berkaitan dengan masa lalu desa membuat film ini mempunyai identitas horor lokal yang cukup kuat.
Menurut saya konsep seperti ini jauh lebih menarik dibandingkan hanya menggunakan hantu dengan wajah menyeramkan yang muncul secara tiba-tiba.
Cerita dan Misteri Keluarga
Bagian yang menurut saya cukup menarik sekaligus menjadi salah satu masalah dalam film ini adalah cerita mengenai hubungan antar karakter.
Awalnya kita hanya mengikuti perjalanan Maya yang ingin mencari tahu mengenai keluarganya. Tetapi semakin mendekati akhir film, informasi mengenai siapa sebenarnya orang tua Maya, hubungan Saptadi dengan keluarganya, Dono Wongso, kepala desa, dan karakter lainnya mulai bermunculan.
Di satu sisi informasi tersebut membuat cerita menjadi lebih kompleks, tetapi di sisi lain menurut saya beberapa penjelasannya terasa terlalu cepat.
Ada beberapa bagian ketika informasi baru diberikan secara berturut-turut sehingga saya harus mencoba mengingat kembali hubungan antara satu karakter dengan karakter lainnya.
Menurut saya kalau penjelasan mengenai hubungan keluarga tersebut diberikan sedikit demi sedikit sejak awal, mungkin ceritanya akan terasa lebih mudah untuk diikuti.
Ritual Wayang Kulit
Salah satu hal yang paling menarik bagi saya adalah penggunaan wayang kulit sebagai bagian dari cerita horornya.
Biasanya ketika kita berbicara tentang film horor Indonesia, kita sering menemukan konsep seperti pesugihan, santet, tumbal, atau roh penasaran. Perempuan Tanah Jahanam sebenarnya masih menggunakan elemen-elemen tersebut, tetapi kemudian memasukkannya ke dalam konsep cerita yang berkaitan dengan wayang kulit.
Menurut saya ini menjadi salah satu kekuatan film karena memberikan identitas lokal yang cukup kuat.
Visual dari ritual tersebut juga menurut saya cukup mengganggu dan memberikan kesan mengerikan, apalagi ketika dikombinasikan dengan suasana desa yang sejak awal sudah terasa tidak nyaman.
Akting Pemain
Untuk bagian akting, menurut saya para pemain dalam film ini cukup mampu membawa karakter mereka masing-masing.
Tara Basro sebagai Maya menurut saya berhasil membawa karakter yang terlihat bingung, penasaran, kemudian perlahan berubah menjadi seseorang yang harus bertahan hidup ketika dirinya mulai dikejar oleh penduduk desa.
Christine Hakim sebagai Nyi Misni juga menurut saya cukup mencuri perhatian. Karakter yang dimainkan terasa dingin dan memiliki aura yang membuat saya merasa tidak nyaman setiap kali karakter tersebut muncul.
Marissa Anita sebagai Dini juga cukup bagus dalam membangun hubungan antara Maya dan Dini. Karakter Dini sendiri menurut saya menjadi salah satu karakter yang membuat perjalanan Maya terasa tidak terlalu sendirian di awal cerita.
Namun menurut saya ada beberapa karakter pendukung yang pengembangannya tidak terlalu dalam. Hal tersebut mungkin karena film lebih berfokus kepada misteri Maya dan keluarganya.
Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Perempuan Tanah Jahanam
Kelebihan:
Atmosfer horor yang kuat, film ini tidak terlalu mengandalkan jumpscare tetapi lebih banyak menggunakan suasana, lokasi, pencahayaan dan suara untuk membangun ketegangan.
Konsep horor lokal yang menarik, penggunaan kutukan, tumbal dan ritual wayang kulit membuat film ini mempunyai identitas tersendiri.
Visual dan penataan lokasi yang bagus, desa Harjosari terasa seperti tempat yang benar-benar menyimpan sesuatu dan berhasil membuat suasana film menjadi semakin tidak nyaman.
Akting pemain cukup kuat, terutama Tara Basro dan Christine Hakim yang menurut saya mampu membawa karakter mereka dengan cukup meyakinkan.
Misteri yang membuat penasaran, sejak awal film penonton dibuat bertanya-tanya siapa Maya sebenarnya dan apa hubungan dirinya dengan desa tersebut.
Kekurangan:
Alur cerita terasa cukup buru-buru, terutama ketika film mulai masuk ke bagian penjelasan mengenai hubungan keluarga dan asal-usul kutukan.
Hubungan antar karakter cukup membingungkan, semakin mendekati akhir semakin banyak informasi mengenai keluarga Maya dan penduduk desa yang harus dipahami secara cepat.
Beberapa karakter terasa kurang mendapatkan pengembangan, karena fokus cerita lebih banyak berada pada Maya dan misteri keluarganya.
Bukan tipe film horor untuk semua orang, bagi kalian yang lebih suka horor dengan banyak jumpscare mungkin akan merasa film ini terlalu lambat di beberapa bagian.
Kesimpulan: Layak Ditonton atau Lewati Saja?
Secara keseluruhan menurut saya Perempuan Tanah Jahanam merupakan film horor yang cukup solid, terutama dari sisi atmosfer, visual dan konsep horor lokal yang dibawa.
Film ini memang bukan film yang sempurna. Ada beberapa bagian cerita yang menurut saya terasa terlalu buru-buru dan hubungan antar karakter yang cukup rumit membuat beberapa bagian cerita menjadi sedikit membingungkan.
Tetapi kalau kalian mencari film horor Indonesia yang tidak hanya mengandalkan jumpscare, Perempuan Tanah Jahanam menurut saya masih sangat menarik untuk ditonton.
Hal yang paling saya suka dari film ini adalah bagaimana Joko Anwar membangun rasa takut melalui suasana. Desa yang sepi, karakter penduduk yang aneh, makam bayi, ritual, kemudian misteri keluarga Maya perlahan membuat penonton merasa bahwa ada sesuatu yang salah sejak awal.
Untuk kalian yang suka film horor dengan atmosfer yang kuat dan cerita yang mencoba menggabungkan budaya lokal dengan unsur horor, menurut saya film ini layak untuk dicoba.
Kalau untuk rating pribadi dari saya, Perempuan Tanah Jahanam saya kasih 8/10.
Bukan karena film ini sempurna, tetapi karena dari sisi atmosfer horor, visual, konsep cerita dan penggunaan unsur budaya lokal menurut saya film ini berhasil memberikan pengalaman yang berbeda dari film horor Indonesia pada umumnya.
Dan menurut saya, salah satu alasan film ini masih menarik untuk dibicarakan sampai sekarang adalah karena Perempuan Tanah Jahanam tidak hanya mencoba membuat penonton takut, tetapi juga membuat penonton penasaran dengan masa lalu dan rahasia yang disimpan oleh desa Harjosari.
Review Film Alas Roban: Ketika Legenda Jalur Angker Pantura Dibawa ke Layar Lebar
Favorit Horor Horor Setan Layak tontonKalau membahas jalur Pantura yang mempunyai cerita mistis, mungkin nama Alas Roban menjadi salah satu tempat yang langsung terlintas di pikiran banyak orang.
Sejak dulu Alas Roban memang sudah cukup terkenal dengan berbagai macam cerita mengenai kejadian mistis, kecelakaan dan berbagai kisah horor yang berkembang di masyarakat.
Karena itu ketika saya mengetahui bahwa legenda mengenai Alas Roban akhirnya dibawa ke layar lebar, saya cukup penasaran seperti apa filmnya, bahkan pengalaman saya ketika ingin menonton film ini juga cukup menarik, karena saat saya datang ke NSC Demak kondisi bioskop ternyata begitu ramai dan saya sampai harus bolak balik sebanyak 2 kali hanya untuk mendapatkan tiket menonton film ini.
Apalagi film ini tidak hanya mencoba menjadikan Alas Roban sebagai latar tempat, tetapi juga memasukkan berbagai macam unsur mitos lokal, ritual dan cerita mengenai dunia gaib ke dalam ceritanya.
Setelah menonton film ini, menurut saya Alas Roban mempunyai premis yang sebenarnya cukup menarik.
Tetapi sayangnya, ada beberapa bagian dari film ini yang membuat saya merasa bahwa eksekusinya masih belum maksimal.
Film ini mempunyai cerita yang cukup emosional mengenai hubungan seorang ibu dengan anaknya, tetapi di sisi lain ada beberapa bagian yang justru membuat saya mempertanyakan logika dari keputusan para karakternya.
Sinopsis Singkat: Alas Roban
Film Alas Roban bercerita mengenai seorang janda bernama Sita yang melakukan perjalanan bersama putrinya, Gendis.
Dalam perjalanan menuju Semarang, bus yang mereka tumpangi mengalami masalah dan akhirnya harus berhenti di kawasan Alas Roban.
Dari sinilah masalah mulai muncul.
Sita kemudian mengajak Gendis menuju sebuah warung yang berada di tengah hutan.
Awalnya mungkin terlihat seperti sebuah warung biasa, tetapi ternyata tempat tersebut merupakan warung gaib yang kemudian menjadi awal mula dari berbagai kejadian mistis yang dialami Gendis.
Setelah kejadian tersebut, Gendis mulai menunjukkan perilaku aneh dan beberapa kali mengalami kesurupan.
Ternyata gangguan tersebut berhubungan dengan sosok Dewi Raras yang dikenal sebagai salah satu roh penguasa Alas Roban.
Sita yang tentu saja tidak ingin kehilangan putrinya kemudian berusaha mencari bantuan dari orang-orang yang memahami dunia mistis.
Ia bertemu dengan beberapa orang seperti Mbok Yem dan Mbah Sakti yang kemudian membantu Sita melakukan ritual untuk membebaskan sukma Gendis yang terjebak di dimensi lain.
Dan ternyata masalahnya tidak sesederhana itu.
Dewi Raras sebenarnya menginginkan jiwa Sita.
Pada akhirnya Sita harus mengorbankan dirinya sendiri agar Gendis bisa selamat dan kembali ke dunia nyata.
Film kemudian ditutup dengan kematian Sita, sementara Gendis akhirnya bisa kembali melihat dengan jelas setelah menjalani operasi katarak.
POV: Opini Jujur dan Hal Hal Yang Menarik Dari Film Ini
Premis Alas Roban Sebenarnya Cukup Menarik
Menurut saya salah satu hal yang membuat film ini menarik dari awal adalah pemilihan Alas Roban sebagai latar ceritanya.
Alas Roban sendiri sudah mempunyai reputasi sebagai salah satu jalur yang banyak dikaitkan dengan cerita mistis di masyarakat.
Jadi ketika legenda tersebut kemudian dijadikan sebuah film horor, sebenarnya bahan ceritanya sudah cukup menarik.
Film ini juga tidak hanya mengandalkan jumpscare atau sosok hantu saja.
Ada unsur ritual, mitos lokal sampai cerita mengenai dimensi lain yang dimasukkan ke dalam film.
Buat saya, bagian seperti ini justru cukup menarik karena membuat film terasa seperti mencoba mengangkat horor yang berasal dari cerita rakyat dan kepercayaan lokal.
Apalagi ketika cerita mengenai Dewi Raras mulai dijelaskan, kita bisa melihat bahwa film ini memang ingin membangun sebuah mitologi sendiri di balik Alas Roban.
Walaupun eksekusinya masih mempunyai beberapa kekurangan, menurut saya premis dasarnya sebenarnya cukup potensial.
Unsur Ritual dan Mitos Lokal Cukup Menarik
Salah satu bagian yang menurut saya cukup menarik adalah ketika film mulai masuk ke bagian ritual dan dunia mistis.
Ada beberapa karakter yang memang memahami dunia gaib dan kemudian membantu Sita untuk mencari cara agar Gendis bisa diselamatkan.
Bagian ini membuat film terasa lebih seperti folk horror dibandingkan sekadar film horor yang hanya mengandalkan penampakan hantu.
Saya pribadi cukup suka ketika film horor Indonesia mencoba menggunakan cerita atau mitos lokal sebagai bagian penting dari ceritanya.
Karena sebenarnya Indonesia mempunyai banyak sekali cerita rakyat dan kepercayaan lokal yang bisa digunakan sebagai bahan untuk membuat cerita horor.
Dan menurut saya Alas Roban mempunyai potensi yang cukup besar untuk itu.
Hanya saja, saya merasa bagian ini masih bisa dibuat jauh lebih dalam.
Cerita Tentang Pengorbanan Seorang Ibu Cukup Emosional
Kalau ada satu bagian yang menurut saya cukup berhasil dari sisi emosional, mungkin adalah hubungan antara Sita dan Gendis.
Dari awal kita bisa melihat bahwa Sita berusaha melakukan berbagai macam cara untuk menyelamatkan putrinya.
Sampai pada akhirnya Sita mengetahui bahwa satu-satunya cara agar Gendis bisa selamat adalah dengan mengorbankan dirinya sendiri.
Menurut saya bagian ini cukup memberikan bobot emosional pada film.
Karena pada akhirnya cerita film ini bukan hanya mengenai hantu atau teror yang terjadi di Alas Roban, tetapi juga mengenai seorang ibu yang rela mengorbankan dirinya demi anaknya.
Walaupun akhir ceritanya cukup tragis, menurut saya bagian ini menjadi salah satu alasan kenapa film masih mempunyai sisi emosional yang cukup terasa.
Efek Visual dan Green Screen Masih Menjadi Catatan
Nah, kalau dari sisi teknis justru ini salah satu bagian yang cukup saya sayangkan.
Ada beberapa adegan yang menggunakan efek visual dan green screen yang menurut saya masih terasa kurang halus.
Beberapa visual justru membuat saya sedikit kehilangan suasana horornya karena efek yang digunakan terlihat kurang menyatu dengan adegannya.
Menurut saya untuk film horor, atmosfer merupakan salah satu bagian yang cukup penting.
Ketika efek visual terlihat terlalu jelas atau terasa seperti efek buatan, rasa takut yang seharusnya muncul justru bisa berkurang.
Ada beberapa bagian dimana saya malah lebih fokus melihat bagaimana efek tersebut dibuat dibandingkan merasa takut dengan apa yang sedang terjadi di layar.
Tapi balik lagi, masalah efek visual memang bisa berbeda bagi setiap penonton.
Mungkin ada penonton yang tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut selama ceritanya masih bisa dinikmati.
Namun untuk saya pribadi, beberapa efek visual di film ini cukup terasa dan menjadi salah satu kekurangannya.
Logika Cerita Kadang Membuat Saya Bertanya Tanya
Selain masalah teknis, hal lain yang cukup saya rasakan adalah mengenai keputusan para karakter di dalam cerita.
Ada beberapa situasi dimana saya justru bertanya-tanya, kenapa karakter tersebut melakukan hal itu?
Bukan berarti semua keputusan karakternya tidak masuk akal, tetapi ada beberapa bagian yang menurut saya terasa kurang meyakinkan.
Apalagi ketika sedang menonton film horor, biasanya penonton memang akan mencoba memahami alasan dari setiap tindakan karakter.
Ketika keputusan yang diambil terasa kurang logis, akhirnya saya justru lebih sibuk mempertanyakan tindakan karakter dibandingkan menikmati ketegangan yang sedang dibangun.
Ini cukup disayangkan karena sebenarnya premis filmnya sendiri sudah mempunyai potensi yang menarik.
Menurut saya kalau bagian ini bisa dibuat lebih rapi, pengalaman menontonnya mungkin akan terasa lebih kuat.
Filmnya Lebih Menarik Dari Premis Daripada Eksekusinya
Kalau saya boleh jujur, setelah selesai menonton film ini saya merasa bahwa premis Alas Roban sebenarnya lebih menarik dibandingkan eksekusinya.
Ide mengenai jalur angker Pantura, warung gaib, Dewi Raras, ritual dan pengorbanan seorang ibu sebenarnya mempunyai bahan cerita yang cukup banyak.
Tetapi ketika semuanya dimasukkan ke dalam film, ada beberapa bagian yang menurut saya belum terasa maksimal.
Saya bisa melihat apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh film ini.
Ada unsur horor, mitos lokal, drama keluarga dan pengorbanan seorang ibu.
Namun beberapa elemen tersebut terkadang terasa belum menyatu dengan sempurna.
Jadi buat saya film ini bukan film yang tidak mempunyai ide menarik.
Justru sebaliknya, idenya cukup menarik.
Hanya saja saya merasa masih ada jarak antara potensi cerita dengan hasil akhirnya.
Kelebihan dan Kekurangan Dari Film Alas Roban
Kelebihan:
1. Premisnya cukup menarik
Penggunaan legenda Alas Roban sebagai dasar cerita menurut saya merupakan salah satu daya tarik terbesar film ini.
Alas Roban sendiri sudah dikenal luas dengan berbagai cerita mistis sehingga cukup menarik ketika legenda tersebut kemudian dijadikan sebuah film horor.
2. Unsur mitos dan ritual lokal cukup terasa
Film ini tidak hanya mengandalkan hantu dan jumpscare.
Ada juga unsur ritual, dunia gaib dan mitos lokal yang membuat nuansa folk horror-nya cukup terasa.
3. Mempunyai sisi emosional
Hubungan antara Sita dan Gendis menjadi salah satu bagian yang cukup menarik.
Pengorbanan Sita demi menyelamatkan putrinya memberikan sisi emosional yang membuat film ini tidak hanya berbicara mengenai horor.
Kekurangan:
1. Efek visual dan green screen kurang halus
Ada beberapa adegan yang menurut saya efek visualnya masih terasa kurang natural.
Hal ini cukup mengganggu atmosfer horor yang sebenarnya sedang dibangun.
2. Beberapa keputusan karakter terasa kurang logis
Ada beberapa bagian dimana tindakan karakter membuat saya bertanya-tanya mengenai alasan mereka mengambil keputusan tersebut.
Menurut saya bagian ini membuat alurnya terasa kurang meyakinkan.
3. Eksekusi ceritanya belum maksimal
Premis film sebenarnya cukup menarik, tetapi saya merasa beberapa ide yang ada belum dieksekusi dengan maksimal.
Ada banyak potensi dari cerita Alas Roban yang sebenarnya masih bisa dikembangkan lebih jauh.
Kesimpulan: Layak Ditonton Atau Lewati Saja?
Secara pribadi setelah selesai menonton Alas Roban, saya merasa film ini mempunyai ide yang cukup menarik tetapi masih mempunyai beberapa kekurangan dalam eksekusinya.
Saya cukup suka dengan bagaimana film ini mencoba menggunakan legenda lokal sebagai dasar cerita.
Apalagi unsur ritual dan cerita mengenai Dewi Raras membuat film terasa mempunyai dunia mistisnya sendiri.
Tetapi di sisi lain, beberapa efek visual yang kurang halus dan keputusan karakter yang terkadang membuat saya bertanya-tanya cukup mengurangi pengalaman menontonnya.
Kalau kalian memang suka film horor Indonesia yang mengangkat mitos lokal, menurut saya film ini masih bisa dicoba.
Apalagi kalau kalian memang penasaran dengan bagaimana legenda Alas Roban diterjemahkan menjadi sebuah cerita film.
Tapi kalau kalian datang dengan ekspetasi ingin mendapatkan film horor dengan visual yang sangat rapi, cerita yang sangat logis dan eksekusi yang sempurna, mungkin kalian akan menemukan beberapa bagian yang terasa kurang.
Untuk saya pribadi, Alas Roban masih menjadi film yang cukup menarik karena premisnya.
Saya justru merasa bahwa potensi terbesar film ini ada pada cerita mengenai Alas Roban itu sendiri.
Sayangnya, setelah selesai menonton, saya merasa masih ada beberapa bagian yang sebenarnya bisa dibuat lebih baik.
Untuk rating IMDb sendiri saat saya melihatnya berada di angka 5,2/10.
Menurut saya angka tersebut juga masih bisa berubah karena filmnya masih relatif baru dan jumlah penonton yang memberikan rating bisa saja terus bertambah.
Jadi untuk saya pribadi, Alas Roban lebih cocok sebagai tontonan bagi kalian yang penasaran dengan cerita horor berlatar mitos lokal dan ingin melihat bagaimana legenda salah satu jalur paling terkenal di Pantura tersebut dibawa ke layar lebar.



